Heboh! Film Animasi Merah Putih: One for All Dituding Jiplak Aset 3D Animator Pakistan

AKURAT.CO Film animasi Indonesia, Merah Putih: One for All baru-baru ini menjadi sorotan publik setelah seorang animator 3D asal Pakistan, Junaid Miran, secara terbuka menuding tim produksi film tersebut menggunakan aset karakter ciptaannya tanpa izin.
Klaim aset 3D ini muncul menjelang perilisan film yang dijadwalkan pada 14 Agustus 2025.
Tuduhan Penggunaan Aset Tanpa Izin
Seorang animator dan digital artist lepas dari Lahore Pakistan, Junaid Miran, mengklaim bahwa film Merah Putih: One for All menggunakan aset karakter 3D miliknya tanpa persetujuan atau pembayaran.
Miran menegaskan bahwa tim produksi tidak pernah menghubunginya atau memberikan apresiasi atas penggunaan karakternya sebagai tokoh utama dalam film tersebut.
Ia menyatakan bahwa total ada enam karakter ciptaannya yang digunakan dalam film.
Miran menyampaikan keberatannya ini di kolom komentar YouTube akun Dibalik Mindplace, pada Minggu (10/8/2025), menanyakan apakah ia akan mendapatkan bayaran dan kredit atas karyanya.
Komentar ini kemudian menjadi viral dan menarik perhatian netizen.
Miran sendiri adalah seorang seniman digital yang telah menekuni bidang digital art dan 3D modeling selama hampir satu dekade.
Ia menjual puluhan karakter 3D di berbagai situs, termasuk Reallusion, yang diduga menjadi platform tempat asetnya diambil tanpa izin.
Tanggapan dari Pihak Produksi dan Netizen
Kontroversi ini muncul di tengah perbincangan hangat netizen mengenai berbagai aspek visual film Merah Putih: One for All, termasuk kualitas dan detailnya.
Banyak netizen menemukan kejanggalan dalam trailer film, mulai dari tampilan karakter, latar, hingga keselarasan audio, serta mempersoalkan ketelitian tim produksi.
Sutradara sekaligus produser eksekutif film, Endiarto, sebelumnya telah menanggapi tudingan netizen bahwa film tersebut mengambil banyak aset dari studio animasi 3D luar negeri.
Ia menyatakan bahwa visual dalam film adalah hasil kerja para animator yang terlibat.
Endiarto berargumen bahwa kemiripan dalam dunia kreatif adalah hal yang wajar dan tidak bisa dipatok.
Ia tidak secara langsung menjawab apakah desain filmnya mengambil dari platform animasi luar negeri, dan menyerahkan justifikasi kepada penonton.
Netizen semakin geram setelah mengetahui bahwa aset-aset yang diduga digunakan tersebut dijual dengan harga yang relatif murah, sekitar $43.50 atau sekitar Rp 700 ribu per item, sementara anggaran produksi film dikabarkan mencapai Rp 6,7 miliar.
Hal ini memicu sindiran bahwa film nasionalis justru mengandalkan aset impor murah.
Keterlibatan Kementerian Ekonomi Kreatif
Menanggapi polemik ini, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menyatakan bahwa kementerian akan menyelidiki potensi pelanggaran hak kekayaan intelektual (HKI) dalam pembuatan film Merah Putih: One for All.
Ia menjelaskan bahwa dalam industri animasi dan gim, ada aset yang diperjualbelikan secara terbuka di platform seperti Unity dan penggunaan aset yang dibeli adalah sah.
Namun, jika kekayaan intelektual diambil tanpa izin dan bukan dari aset yang diperjualbelikan, hal tersebut dianggap melanggar aturan.
Kementerian akan memastikan bahwa film ini tidak menyalahi aturan terkait penggunaan visual dari kekayaan intelektual kreator lain tanpa izin.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini






