Akurat
Pemprov Sumsel

Tafsir Surat Al-Ankabut Ayat 14, Kisah Banjir Bandang yang Melanda Kaum Nabi Nuh

Hadits Abdillah | 19 April 2024, 06:25 WIB
Tafsir Surat Al-Ankabut Ayat 14, Kisah Banjir Bandang yang Melanda Kaum Nabi Nuh

AKURAT.CO Banjir bandang merupakan jenis banjir yang datang secara tiba-tiba disertai dengan debit air yang besar. Banjir bandang menjadi salah satu bencana alam yang kerap melanda beberapa negara di dunia, termasuk juga Indonesia.

Dalam sejarah agama Islam, banjir bandang juga pernah melanda kaum nabi terdahulu. Bencana alam ini bahkan telah tercatat dalam Al-Qur'an, tepatnya pada surat Al-Ankabut ayat ke 14.

Berikut ini merupakan bacaan dan tafsir surat Al-Ankabut ayat 14:

وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖ فَلَبِثَ فِيْهِمْ اَلْفَ سَنَةٍ اِلَّا خَمْسِيْنَ عَامًاۗ فَاَخَذَهُمُ الطُّوْفَانُ وَهُمْ ظٰلِمُوْنَ

Artinya: "Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian, mereka dilanda banjir besar dalam keadaan sebagai orang-orang zalim".

Baca Juga: Khutbah Singkat Bulan Syawal: 3 Upaya Menjaga Spirit Ramadhan di Bulan-bulan Setelahnya

Ayat di atas mengisahkan tentang Nabi Nuh yang merupakan bapak para nabi. Beliau berdakwah menyeru kepada kaumnya selama sembilan ratus lima puluh tahun. Nabi Nuh menyeru kaumnya diwaktu siang dan malam dengan suara lemah lembut. Tetapi terkadang Beliau juga menyeru dengan suara keras untuk menyampaikan ancaman dari Allah SWT.

Akan tetapi dakwah beliau tak kunjung membuahkan hasil, sebab hanya sedikit dari kaumnya yang mau beriman kepada Allah SWT. Sisanya menolak bahkan mendustakan Beliau.

Atas perbuatan mereka, Allah SWT menyiksa kaum Nabi Nuh dengan "Topan Nabi Nuh". Siksaan ini berupa banjir bandang yang menenggelamkan mereka. Banjir bandang itu tidak menyisakan seorangpun, kecuali mereka yang beriman. Mereka selamat setelah ikut menaiki bahtera Nabi Nuh.

Penjelasan ayat ini juga diriwayatkan oleh Al-Hakim, yaitu:

Diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas bahwa ia berkata, "Allah mengutus Nabi Nuh ketika usia 40 tahun dan berdakwah pada kaumnya selama 950 tahun menyeru mereka untuk mengikuti agama Allah dan Nabi Nuh hidup setelah banjir (topan) selama 60 tahun, sehingga jumlah manusia menjadi banyak dan tersebar. (Riwayat al-hakim).

Baca Juga: 5 Amalan Bulan Syawal Bagi Wanita Haid: Memperoleh Keberkatan Meskipun dalam Kondisi Khusus

Dalam tafsir Ibnu Katsir, ayat ini dikatakan sebagai bentuk penghiburan serta peneguhan hati Nabi Muhammad SAW. Bahwasanya Nabi SAW tidak perlu menyesali sikap orang-orang yang kafir terhadap Beliau serta kalangannya. Ia juga tidak perlu bersedih hati atas sikap mereka, sebab Allah-lah yang akan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia pulalah yang akan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya.

Wallahu a'lam bishawab

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Lufaefi
Editor
Lufaefi