AKURAT.CO, Sebagaimana yang terjadi dengan sepakbola melalui Liga Super China pada satu dekade lalu, demikian pula tenis di negara tersebut saat ini. Ya, Pemerintah China telah melakukan investasi besar-besaran di tenis dan kini para pemainnya sudah mulai “mendaki” menuju status bintang.
Sejak Li Na mencetak sejarah sebagai warga China pertama yang meraih gelar grand slam di Prancis Terbuka 2011 diikuti Australia Terbuka 2014, negeri berhaluan komunis tersebut kini mulai mengembangkan sayap ke sektor putra.
Wu Yibing, 23 tahun, menjadi petenis putra China pertama yang meraih gelar di Tur ATP. Ia mengalahkan John Isner dalam laga tiga set dengan skor 6(4)-7)7), 7(7)-6(3), dan 7(12)-6(10) di partai final Dallas Terbuka, Dallas, Amerika Serikat, 12 Februari lalu.
Baca Juga: Hadapi Rumania, Tim Tenis China Mundur Karena Wabah Virus Corona
Di sektor putri, Zheng Qinwen menjadi juara Palermo Terbuka sebagai gelar Tur WTA pertamanya, Juli lalu. Pada Agustus, petenis berusia 21 tahun tersebut mencapai perempat final Amerika Serikat Terbuka di mana ia mengalahkan finalis Wimbledon, Ons Jabeur, dalam prosesnya.
Bukan hanya itu, melalui Zheng Qinwen China mendominasi tenis di Asian Games Hangzhou 2022. Qinwen meraih medali emas dengan mengalahkan rekan senegaranya, Zhu Lin, di partai final.
The Guardian menyebut bahwa munculnya bintang-bintang tenis muda dari Negeri Tirai Bambu–julukan China–tersebut tak terlepas dari besarnya uang yang ditanamkan di negara tersebut.
Tercatat sekitar 20 juta orang bermain tenis di 30-40 ribu lapangan sekaligus membuat China menjadi negara posisi pertama dalam hal jumlah partisipasi. Akademi-akademi akar rumput untuk anak-anak dilatih oleh pelatih dari barat dan mantan-mantan pemain.
China juga mendirikan banyak stadion dan tenis kini menjadi industri yang bernilai jutaan Dollar AS. Pasar mereka berada di posisi kedua di dunia di belakang Amerika Serikat.
Namun demikian, tenis juga memiliki “nodanya” di China sejak kasus menghilangnya eks petenis ganda putri ranking satu dunia milik negara tersebut, Peng Shuai, pada 2021. Peng Shuai diketahui menghilang beberapa hari setelah mengunggah pengakuan bahwa ia diperkosa oleh salah satu petinggi Partai Komunis China.
Kolumnis The Guardian, Hannah Janne Parkinson, menulis bahwa booming tenis di China disertai dengan pantauan bahwa negara tersebut berusaha mengalihkan pandangan dari kasus Peng Shuai. Juga dugaan pelanggaran hak asasi manusia di negara tersebut seperti terhadap kelompok muslim Uigur.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








