Akurat
Pemprov Sumsel

Sepuluh Tahun Olahraga Indonesia di Tangan Jokowi: Dihormati Dunia Dilecehkan PON

Badri | 20 Oktober 2024, 14:31 WIB
Sepuluh Tahun Olahraga Indonesia di Tangan Jokowi: Dihormati Dunia Dilecehkan PON

AKURAT.CO, “Jokowi, Jokowi, Jokowi,” bunyi suara yang terdengar dari saluran Youtube resmi MotoGP ketika Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo aka Jokowi, turun ke lintasan Sirkuit Internasional Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Hari itu, Minggu (29/9) siang, di bawah terik tepi pantai Mandalika Jokowi bersama Carmelo Ezpeleta yang merupakan bos perusahaan pemilik MotoGP, Dorna, membuka Grand Prix Indonesia 2024.

Itu adalah kemunculan terakhir Jokowi dalam seremoni olahraga sebagai salah satu aktifitas yang sering dilakukannya dalam sepuluh tahun kepemimpinannya sebagai presiden.

Baca Juga: Jokowi Memainkan Politik Bhinneka Tunggal Ika di Asian Games

Bagi mereka yang tak hadir langsung ke Sirkuit Mandalika siang itu dan hanya menyaksikan dari layar televisi atau komputer atau telepon genggam, teriakan “Jokowi, Jokowi” boleh diasumsikan sebagai suara hadirin yang hadir di sana secara langsung.

Sekaligus melengkapi kemunculan Jokowi karena hadir di Grand Prix Indonesia 2024 jelas merupakan skenario sempurna bagi sang presiden untuk menyongsong akhir masa jabatannya dengan cara yang prestisius.

Yakni, Jokowi tampil di perhelatan olahraga global di mana sirkuit dan balapan tersebut selamanya akan dikenang sebagai peninggalannya.

Pun demikian, teriakan “Jokowi, Jokowi” di Mandalika tersebut memberikan tensi tersendiri jika publik mengingat apa yang terjadi di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, 19 hari sebelumnya.

Bahwa beredar cuplikan video amatir di media sosial di mana kemungkinan besar sebagian penonton yang hadir di tribun GBK kala itu diasumsikan meneriakkan Jokowi namun dengan nama lain, yakni “Mulyono”.

“Mulyono, Mulyono,” bunyi suara penonton ketika Jokowi turun dari tribun VVIP GBK untuk menghampiri pemain selepas laga imbang Timnas Indonesia versus Australia di Kualifikasi Grup C Piala Dunia 2026.

Baca Juga: Jokowi Puas Timnas Indonesia Tahan Imbang Australia, Puji Penampilan Maarten Paes

Dari beberapa foto yang beredar di media massa, momen teriakan “Mulyono, Mulyono” tersebut terjadi ketika Jokowi menyalami kiper naturalisasi Timnas Indonesia yang bermain gemilang kontra Australia, Maarten Paes.

Sebagai pengingat, Mulyono adalah nama kecil Jokowi yang diganti oleh orang tuanya karena dianggap membawa “kesialan” karena sang presiden sakit-sakitan semasa menyandang nama tersebut.

Dus, nama tersebut digunakan oleh para pengkritik untuk menyebut Jokowi selepas insiden Mahkamah Konstitusi membatalkan perubahan aturan yang mengizinkan putra keduanya, Kaesang Pangarep, mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur Jawa Tengah, Agustus silam.

Latar belakang ini membuat teriakan Mulyono di GBK memberikan dimensi politik praktis dalam momen olahraga. Dan untung bagi Jokowi bahwa tak ada teriakan Mulyono 19 hari kemudian ketika ia muncul pada pembukaan Grand Prix di Mandalika–setidaknya dari suara yang terdengar di akun Youtube MotoGP.

Diplomasi Olahraga ala Jokowi

Jokowi boleh dikatakan “sampai dengan relatif selamat” di hari terakhir masa jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia sejalan ia menyerahkan estafet kepemimpinan ke Prabowo Subianto sebagai presiden terpilih periode 2024-2029 pada hari ini, Minggu (20/10).

Sampai dengan relatif selamat, rasanya tak berlebihan untuk mengatakan bahwa olahraga adalah salah satu aspek yang “relatif menyelamatkan” Jokowi sampai di akhir masa jabatannya.

Olahraga seperti menjadi penyeimbang di mana publik membenarkan keberhasilan Jokowi di tengah tuduhan nepotisme terhadapnya sejak skandal di Mahkamah Konstitusi yang memberikan jalan bagi putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, menjadi wakil presiden pasangan Prabowo Subianto.

Anda tidak akan berlebihan untuk mengatakan bahwa sejak Indonesia merdeka olahraga mencapai puncak kegemilangannya di tangan Presiden Joko Widodo.

Sekaligus membuat Jokowi berbeda dari presiden-presiden sebelumnya di mana ia memprioritaskan olahraga secara serius sebagai salah satu usaha menumpuk popularitasnya dengan cara yang boleh dikatakan seakan-akan tampak “apolitis”.

Baca Juga: Raja Sapta Oktohari Berharap Presiden Terpilih Perhatikan Olahraga seperti Jokowi

Gayung bersambut, sepuluh tahun kepresidenannya telah membawa olahraga Indonesia ke level yang belum pernah dicecap sebelumnya. Yakni, Indonesia telah menjadi salah satu area yang dipandang layak untuk menjadi arena perhelatan global.

Dimulai sejak Asian Games Jakarta-Palembang 2018 yang sukses besar, Jokowi telah membawa Piala Dunia U-17 ke Indonesia, Piala Dunia Basket, dan nyaris menyelenggarakan Piala Dunia U-20.

Di media-media internasional, Indonesia telah pula disebut sebagai salah satu kandidat untuk menjadi tuan rumah Olimpiade 2036 dan berpeluang menjadi salah satu kandidat penyelenggara Piala Dunia di masa depan.

Dari sisi prestasi, dalam tiga partisipasi Indonesia di olimpiade di dekade 2014-2024, Merah Putih tak pernah absen meraih emas. Dipuncaki Olimpiade Paris 2024 di mana Indonesia kembali meraih lebih dari satu medali emas sejak terakhir kali dan yang pertama pada edisi Barcelona 1992.

Bulutangkis memang menjadi anomali karena Paris 2024 tak memberikan emas. Namun, bulutangkis meraih trofi supremasi bulutangkis dunia, Piala Thomas, pada 2021 sebagai yang pertama sejak kali terakhir pada 2002.

Baca Juga: Jokowi Sambut Atlet Olimpiade Paris di Istana Negara Sekaligus Umumkan Jumlah Bonus

Warisan-warisan Jokowi ini akan menjadi fondasi sepanjang masa bagi presiden-presiden berikutnya untuk mengajukan posisi tawar dalam politik olahraga global. Tahun depan saja, Prabowo Subianto sudah kecipratan warisan Jokowi di mana Indonesia untuk kali pertama menggelar Kejuaraan Dunia Senam Artistik.

Terkhusus di sepakbola dan basket, Jokowi dan menteri kepercayaannya yang juga Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, berhasil membuat organisasi induk dua cabang olahraga tersebut, FIFA dan FIBA, membuka kantornya di Indonesia.

Lebih khusus lagi untuk sepakbola, Jokowi dan Erick Thohir sukses membuat Presiden FIFA, Gianni Infatino, berkali-kali datang ke Indonesia. Termasuk untuk meresmikan Pusat Latihan Timnas Indonesia di Ibukota Nusantara (IKN), Penajam Passer Utara, Kalimantan Timur, yang sebagian dananya dihibahkan oleh FIFA.

Olahraga Sebagai Cerminan Manuver Politik Jokowi

Di sela-sela momen teriakan “Mulyono” di GBK dan “Jokowi” di Mandalika, ada PON Aceh-Sumatera Utara 2024. Ini adalah PON ketiga di era Jokowi dan sang presiden hadir secara langsung membuka perhelatan di Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh, Rabu (9/10).

Sekaligus menjadi PON terakhir bagi Jokowi dalam kapasitasnya sebagai presiden sebagaimana juga Grand Prix di Mandalika dan kehadirannya di GBK untuk menyaksikan Timnas Indonesia melawan Australia.

Dan PON yang merupakan kawah candradimuka olahraga nasional yang kali pertama digelar pada 1948 di Stadion Sriwedari, Solo, Jawa Tengah, sebagai eksistensi republik di masa revolusi, memberikan wajah buruknya untuk Jokowi.

Keluhan berdatangan menghamburi PON Aceh-Sumut. Mulai dari jalur becek ke venue bola voli di Deli Serdang, para penonton yang menantang bahaya memanjati tribun pacuan kuda belum selesai di Takengon, arena menembak yang kebanjiran di Mata Ie, serta makanan atlet yang konon tak bergizi dan tak sesuai dengan anggaran.

Baca Juga: PON Aceh-Sumut: Resmi Dibuka Jokowi, Diharapkan Melahirkan Atlet-atlet Kelas Dunia

Khusus di cabang sepakbola, PON juga memberikan wajah yang berbeda 360 derajat dari kegemilangan Tim Nasional Indonesia yang sampai ketika artikel ini ditulis masih berpeluang di Kualifikasi Piala Dunia 2026.

Di balik ambisi meloloskan Timnas Indonesia ke Piala Dunia dengan gandrungnya Erick Thohir melakukan naturalisasi, cabang sepakbola PON ditandai dengan pemukulan antar pemain, pemukulan terhadap wasit, dan indikasi atas kecurangan dan pengaturan pertandingan.

Sejumlah masalah di PON Aceh-Sumut menjadi tidak lagi bisa ditolerir karena bukankah Indonesia pernah sukses menggelar perhelatan selevel Asian Games? Bukankah Timnas Indonesia disebut-sebut berpeluang lolos ke Piala Dunia untuk kali pertama sejak merdeka?

PON Aceh-Sumut adalah simbol paling kuat yang merefleksikan bagaimana Jokowi bergerak di politik praktis. Bahwa Presiden Republik Indonesia ketujuh ini belum punya keseimbangan antara ambisinya untuk naik kelas ke dalam pergaulan internasional dan betapa berantakannya olahraga di kalangan masyarakatnya sendiri.

Baca Juga: Jokowi Terima Atlet Paralimpiade Paris di Istana, Serahkan Bonus Total Rp36,25 Miliar

Situasi ini sejatinya pernah diuraikan oleh mendiang cendekiawan muslim Ahmad Syafii Maarif dalam sebuah artikelnya di Harian Kompas yang cukup menarik perhatian publik sehubungan dengan terpilihnya Indonesia sebagai pemegang presidensi G20 untuk periode 2022.

Artikel yang dimuat pada November 2021 dengan judul “Mentereng di Luar, Remuk di Dalam” itu secara umum menjelaskan bahwa birokrasi di daerah-daerah masih buruk sementara Jokowi mendapatkan reputasi dunia dengan G20.

Syafii Maarif menulis:

Jika republik ini diibaratkan sebuah restoran tertentu, bersih, mentereng, dan gagah di bagian depan, tetapi jorok dan berantakan di bagian dapur. Dalam Bahasa Minang ada ungkapan ‘rancak di labuah’ (tampak elok di jalan tetapi di rumah sebenarnya manusia papa). Atau mentereng di luar, remuk di dalam.

Seperti juga G20 yang gagah di depan dan skandal di MK yang jorok di dalam, maka prestistiusnya balapan di Mandalika dan amburadulnya PON Aceh-Sumut adalah kesimpulan politik olahraga Jokowi dalam satu dekade kepemimpinannya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

B
Reporter
Badri
H