Akurat
Pemprov Sumsel

Manajer Timnas Indonesia U-17 Sebut Sukses Skuad Asuhan Nova Arianto Buah Kerja 2 Tahun

Endarti | 3 Desember 2025, 16:13 WIB
Manajer Timnas Indonesia U-17 Sebut Sukses Skuad Asuhan Nova Arianto Buah Kerja 2 Tahun
 
AKURAT.CO, Manajer Timnas Indonesia U-17, Zaki Achmad Iskandar, membeberkan proses panjang yang mengantar Indonesia mencetak kemenangan perdana di Piala Dunia U-17 2025 Qatar.
 
Zaki menegaskan bahwa capaian bersejarah skuad muda asuhan Nova Arianto itu merupakan buah kerja sistematis hampir dua tahun di bawah arahan langsung Ketua Umum PSSI Erick Thohir.
 
Zaki mengatakan pondasi pembentukan Timnas Indonesia U-17 dimulai sejak awal 2024 ketika para pemain masih berstatus U-16. Saat itu, kata dia, para pesepakbola muda masih dalam fase dasar dan mudah dibentuk. 
 
 
"Di kelompok umur umur ini mereka seperti kertas kosong yang bisa dibentuk. Kami bangun mereka dengan TC jangka panjang, program panjang dan program berjenjang dan disiplin ketat," ucap Zaki di Jakarta, Rabu (3/12).
 
Proses itu ditempa lewat deretan kompetisi, mulai dari Piala AFF di Solo, berlanjut ke Piala Asia, hingga akhirnya mencapai target utama tampil di Piala Dunia U-17 dan meraih kemenangan pertama setelah menundukkan Honduras.
 
"Satu siklus target tuntas dan ini buah dari kerja keras selama dua tahun," kata Zaki.
 
Zaki menambahkan bahwa tidak hanya fokus pada taktik dan fisik. Di era Erick Thohir, skuad Timnas Indonesia U-17 justru menjadi tim dengan dukungan sumber daya paling lengkap yang pernah ia tangani.
 
Mulai dari pelatih, tenaga medis, fisioterapis, ahli gizi, hingga dua psikolog khusus yang mendampingi pemain selama pemusatan latihan.
 
"Anak-anak usia 16-17 ini tantangannya besar. Mereka baru puber, emosinya naik turun dan tekanan media sosial luar biasa," jelas Zaki.
 
"Karena itu mental adalah pondasi dan kami perkuat betul adalah fondasi. Kami perkuat betul dari sisi psikologi."
 
Ia menambahkan, aspek nutrisi dan pengembangan massa otot juga diawasi ketat karena para pemain masih berada dalam fase pertumbuhan hingga usia 20 tahun.
 
 
Menurut Zaki, peran psikolog menjadi krusial ketika pemain menghadapi homesick, tekanan publik, atau masalah pribadi selama TC panjang. 
 
"Biasanya mereka curhat ke psikologi atau head coach dulu. Kalau ada hal yang harus ditangani cepat psikolog memyampaikan kepada saya," beber dia.
 
Evaluasi dari kegagalan di Piala Asia—termasuk kekalahan telak 0-6 dari Korea Utara—disebut menjadi titik balik mental skuad muda tersebut. Pembelajaran dari turnamen itu membuat karakter tim lebih tangguh saat tampil di Qatar.
 
Hasilnya terlihat ketika Indonesia hampir mengamankan kemenangan kedua melawan Zambia sebelum akhirnya mencuri perhatian dunia lewat hasil historis melawan Honduras.
 
Zaki menyebut perkembangan tersebut sebagai bukti bahwa pembinaan berjenjang mulai menunjukkan hasil konkret.
 
Dengan struktur tim yang mapan, dukungan penuh federasi, serta pembinaan jangka panjang, Zaki menilai prestasi internasional kini bukan lagi sesuatu yang mustahil. 
 
"Alhamdulillah semua target tercapai dan kemenanhan di Piala Dunia adalah pintu awal untuk generasi emas berikutnya," tukas Zaki.
 
 
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
Reporter
Endarti
H