Akurat
Pemprov Sumsel

Erick Thohir Minta Rasisme dalam Sepakbola Ditindak Tegas dan Cepat

Zainal Hasan | 23 April 2026, 01:13 WIB
Erick Thohir Minta Rasisme dalam Sepakbola Ditindak Tegas dan Cepat
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir.

AKURAT.CO, Isu dugaan rasisme yang mencuat dalam ajang Elite Pro Academy (EPA) mendapat sorotan serius dari Ketua Umum PSSI, Erick Thohir.

Erick Thohir menegaskan bahwa sepakbola Indonesia tidak memberi ruang bagi segala bentuk tindakan diskriminatif, baik dalam ucapan maupun perilaku di lapangan.

Melalui keterangannya di Jakarta, Rabu (22/4/2026), Erick Thohir menekankan bahwa setiap indikasi rasisme harus ditangani secara tegas oleh seluruh pemangku kepentingan.

Mulai dari operator kompetisi hingga klub peserta, semuanya diminta bertindak cepat dan bertanggung jawab dalam menjaga nilai sportivitas.

Menurutnya, pembinaan sepakbola terutama di level usia muda seperti EPA tidak boleh semata berorientasi pada hasil pertandingan.

Lebih dari itu, proses pembentukan karakter pemain harus menjadi fondasi utama dalam mencetak talenta masa depan.

“FIFA dan PSSI tidak membenarkan segala bentuk ucapan dan ungkapan rasisme di sepakbola," ujar Erick dalam keterangan resminya.

" Baik di level internasional maupun nasional. Sejak usia muda, pemain harus dibentuk dengan prinsip fair play, anti-rasisme, toleransi, disiplin, dan penghormatan kepada wasit. Prestasi tidak cukup hanya dengan skill, tapi juga karakter."

Ia juga menyoroti pentingnya peran operator kompetisi, termasuk I-League, dalam memastikan nilai-nilai tersebut berjalan konsisten.

Tidak hanya di EPA, tetapi juga dalam kompetisi profesional seperti Liga 1 dan Liga 2.

Erick meminta agar seluruh klub terus menanamkan sikap saling menghargai dan empati antar pemain.

Ia menilai, atmosfer kompetisi yang sehat hanya bisa terwujud jika setiap individu memahami pentingnya menghormati perbedaan.

Selain itu, PSSI mendorong penguatan edukasi terkait anti-rasisme, anti-kekerasan, dan kepatuhan terhadap aturan pertandingan.

Sosialisasi ini dinilai harus dilakukan secara berkelanjutan agar menjadi bagian dari budaya sepakbola nasional.

Pengawasan pertandingan pun diminta untuk diperketat. Hal ini penting agar kompetisi usia muda benar-benar menjadi ruang pembelajaran yang aman dan mendidik, bukan justru menjadi tempat munculnya perilaku negatif.

“Kompetisi usia muda harus menjadi wadah tumbuhnya pemain yang lebih dewasa, matang, dan berkemampuan mumpuni. Karena itu, operator, klub, ofisial, dan seluruh pemangku kepentingan harus memastikan pembinaan karakter berjalan sekuat pembinaan teknik,” lanjutnya.

Di sisi lain, Erick juga mengapresiasi langkah dua klub, Bhayangkara FC dan Dewa United, yang berinisiatif menyelesaikan persoalan secara damai.

Kedua klub mempertemukan pemain yang terlibat, yakni Fadly Alberto dan Rakha Nurkholis.

Menurut Erick, langkah tersebut mencerminkan semangat persatuan yang harus terus dijaga dalam sepakbola Indonesia.

Ia berharap kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

“Saya apresiasi karena kedua klub tetap menomorsatukan persatuan dan kesatuan sesuai prinsip Pancasila. Walaupun berbeda latar belakang, kita semua berjuang untuk Indonesia. Ini harus menjadi pelajaran bagi pemain,” ucappnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.