Akurat Logo

Semen Padang Mulai Kibarkan 'Bendera Putih', Pasrah Degradasi ke Liga 2

Zainal Hasan | 1 Mei 2026, 20:59 WIB
Semen Padang Mulai Kibarkan 'Bendera Putih', Pasrah Degradasi ke Liga 2
Pemain Semen Padang, Kasim Botan (kiri), saat menggiring bola dibayangi pesepakbola Madura United, Kerim Palic (kanan), pada pertandingan Super League 2025-2026 di Stadion H Agus Salim Padang, Sumatera Barat, Rabu (29/4/2026). ANTARA/Fitra Yogi

AKURAT.CO, Semen Padang mulai menghadapi realitas pahit di penghujung Super League 2025-2026. Tim berjuluk Kabau Sirah itu kini berada di ambang degradasi.

Hal ini setelah rangkaian hasil negatif yang terus membayangi perjalanan Semen Padang sepanjang musim.

Tekanan terhadap Semen Padang semakin terasa usai kekalahan dari Madura United pada pekan ke-30 di Padang, Sumatra Barat, Rabu (29/4/2026).

Laga yang diharapkan menjadi titik balik justru berakhir mengecewakan dan memperkecil peluang mereka untuk bertahan di kasta tertinggi.

Hasil tersebut membuat posisi Semen Padang tidak beranjak dari papan bawah klasemen. Dengan koleksi 20 poin, mereka tertahan di peringkat ke-17.

Situasi yang semakin sulit diperbaiki dengan jumlah pertandingan yang kian menipis.

Dalam kondisi seperti ini, peluang Kabau Sirah untuk keluar dari zona merah tidak lagi sepenuhnya berada di tangan sendiri.

Mereka harus berharap tim-tim pesaing di sekitar zona degradasi terpeleset di sisa pertandingan musim ini.

Atmosfer pesimistis pun mulai terasa di dalam tim. Hal itu tercermin dari unggahan salah satu Komisaris tim Semen Padang, Braditi Moulevey, yang menyiratkan kondisi mental skuad saat ini.

"Perjuangan telah mendekati akhir," tulis Braditi melalui media sosial pribadinya, kalimat yang langsung memantik perhatian para pendukung.

Unggahan tersebut dinilai banyak pihak sebagai cerminan beratnya situasi yang dihadapi Semen Padang. Sepanjang musim ini, tim harus bergulat dengan tekanan hasil buruk yang terus berulang.

Braditi juga menyinggung perjalanan sulit yang dijalani tim dalam beberapa bulan terakhir. Ia menggambarkan kondisi tersebut dengan ungkapan bernuansa metafora yang sarat makna.

"Dalam beberapa bulan terakhir, dunia telah memproduksi banyak makanan," tulis kalimat yang memunculkan beragam interpretasi dari publik.

Tak berhenti di situ, ia bahkan mengaitkan perjalanan tim dengan sudut pandang yang lebih filosofis.

"Ketika kita berbicara tentang perairan laut, kita hidup di laut, dan ketika kita berada di dalam air, kita hidup di laut," lanjutnya.

Pernyataan tersebut dianggap sebagai bentuk kekecewaan sekaligus kepasrahan atas situasi yang sulit dihindari. Di tengah tekanan, para pemain tampak mulai mencoba menerima kenyataan yang ada.

Kini, Semen Padang berada dalam posisi yang tidak mudah. Selain wajib meraih kemenangan di seluruh laga sisa, mereka juga harus menggantungkan harapan pada hasil tim lain.

Situasi ini menjadi pengingat keras akan pentingnya konsistensi sepanjang musim.

Bagi Kabau Sirah, akhir kompetisi kali ini bukan hanya soal hasil, tetapi juga bahan evaluasi menyeluruh untuk masa depan klub.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.