Semen Padang Mulai Kibarkan 'Bendera Putih', Pasrah Degradasi ke Liga 2

AKURAT.CO, Semen Padang mulai menghadapi realitas pahit di penghujung Super League 2025-2026. Tim berjuluk Kabau Sirah itu kini berada di ambang degradasi.
Hal ini setelah rangkaian hasil negatif yang terus membayangi perjalanan Semen Padang sepanjang musim.
Tekanan terhadap Semen Padang semakin terasa usai kekalahan dari Madura United pada pekan ke-30 di Padang, Sumatra Barat, Rabu (29/4/2026).
Laga yang diharapkan menjadi titik balik justru berakhir mengecewakan dan memperkecil peluang mereka untuk bertahan di kasta tertinggi.
Hasil tersebut membuat posisi Semen Padang tidak beranjak dari papan bawah klasemen. Dengan koleksi 20 poin, mereka tertahan di peringkat ke-17.
Situasi yang semakin sulit diperbaiki dengan jumlah pertandingan yang kian menipis.
Dalam kondisi seperti ini, peluang Kabau Sirah untuk keluar dari zona merah tidak lagi sepenuhnya berada di tangan sendiri.
Mereka harus berharap tim-tim pesaing di sekitar zona degradasi terpeleset di sisa pertandingan musim ini.
Atmosfer pesimistis pun mulai terasa di dalam tim. Hal itu tercermin dari unggahan salah satu Komisaris tim Semen Padang, Braditi Moulevey, yang menyiratkan kondisi mental skuad saat ini.
"Perjuangan telah mendekati akhir," tulis Braditi melalui media sosial pribadinya, kalimat yang langsung memantik perhatian para pendukung.
Unggahan tersebut dinilai banyak pihak sebagai cerminan beratnya situasi yang dihadapi Semen Padang. Sepanjang musim ini, tim harus bergulat dengan tekanan hasil buruk yang terus berulang.
Braditi juga menyinggung perjalanan sulit yang dijalani tim dalam beberapa bulan terakhir. Ia menggambarkan kondisi tersebut dengan ungkapan bernuansa metafora yang sarat makna.
"Dalam beberapa bulan terakhir, dunia telah memproduksi banyak makanan," tulis kalimat yang memunculkan beragam interpretasi dari publik.
Tak berhenti di situ, ia bahkan mengaitkan perjalanan tim dengan sudut pandang yang lebih filosofis.
"Ketika kita berbicara tentang perairan laut, kita hidup di laut, dan ketika kita berada di dalam air, kita hidup di laut," lanjutnya.
Pernyataan tersebut dianggap sebagai bentuk kekecewaan sekaligus kepasrahan atas situasi yang sulit dihindari. Di tengah tekanan, para pemain tampak mulai mencoba menerima kenyataan yang ada.
Kini, Semen Padang berada dalam posisi yang tidak mudah. Selain wajib meraih kemenangan di seluruh laga sisa, mereka juga harus menggantungkan harapan pada hasil tim lain.
Situasi ini menjadi pengingat keras akan pentingnya konsistensi sepanjang musim.
Bagi Kabau Sirah, akhir kompetisi kali ini bukan hanya soal hasil, tetapi juga bahan evaluasi menyeluruh untuk masa depan klub.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








