Ternyata Banyak Fans Afrika Justru Dukung Meksiko Saat Lawan Afrika Selatan

AKURAT.CO Semangat solidaritas yang biasanya menyatukan negara-negara Afrika di ajang Piala Dunia justru tampak memudar pada laga pembuka Afrika Selatan di Piala Dunia 2026. Alih-alih mendukung sesama wakil benua Afrika, banyak pengguna media sosial dari berbagai negara Afrika terang-terangan memberikan dukungan kepada Meksiko.
Fenomena tersebut mencuat saat Afrika Selatan menghadapi Meksiko dalam pertandingan perdana Grup A. Tim berjuluk Bafana Bafana itu akhirnya kalah 0-2 dari tuan rumah bersama turnamen tersebut.
Di media sosial, berbagai meme bernuansa humor beredar luas. Banyak warganet Afrika mengganti foto profil mereka dengan bendera Meksiko, mengenakan atribut khas Meksiko secara virtual, hingga menggunakan nama bernuansa Spanyol sebagai bentuk dukungan simbolis kepada El Tri.
Namun di balik candaan tersebut, tersimpan kritik terhadap meningkatnya sentimen anti-imigran dan aksi xenofobia yang belakangan terjadi di Afrika Selatan.
Isu Xenofobia Jadi Sorotan
Sejumlah pengguna media sosial mengaitkan dukungan mereka kepada Meksiko dengan perlakuan terhadap migran asal negara-negara Afrika yang tinggal di Afrika Selatan.
"Kenapa kami harus mendukung hanya karena sama-sama berasal dari Afrika?" tulis salah satu pengguna media sosial sambil menyinggung laporan mengenai perlakuan buruk terhadap migran.
Pengguna lain bahkan menyindir bahwa mereka mendukung Meksiko agar Afrika Selatan segera tersingkir dan bisa kembali fokus pada persoalan lapangan kerja di dalam negeri.
Komentar serupa juga datang dari pengacara ternama asal Kenya, Ahmednasir Abdullahi, yang menulis sindiran di media sosial setelah laga berakhir.
"Saya harap Afrika Selatan tidak menyalahkan migran Afrika atas kekalahan 0-2 dan dua kartu merah saat melawan Meksiko," tulisnya.
Tagar dan unggahan bertema "Mexico versus Xenophobia" pun ramai digunakan selama pertandingan berlangsung.
Tidak Semua Warga Afrika Setuju
Meski demikian, tidak semua penggemar sepak bola Afrika mendukung sikap tersebut. Sejumlah suporter tetap memberikan dukungan kepada Afrika Selatan sebagai salah satu wakil benua Afrika di Piala Dunia 2026.
Daniel Kaniki, pendukung sepak bola asal Republik Demokratik Kongo yang menyaksikan pertandingan di kawasan fan zone di Atlanta, Amerika Serikat, mengaku memilih mendukung Meksiko karena kecewa terhadap sikap anti-migran yang berkembang di Afrika Selatan.
"Saya merasa Afrika itu seperti satu negara besar. Jika ada yang mengusir sesama orang Afrika, maka kita bukan lagi satu keluarga. Karena itu saya mendukung Meksiko hari ini," katanya.
Sebaliknya, warga Ghana bernama Vanlare Quist tetap mendukung Afrika Selatan. Menurutnya, tindakan anti-imigran hanya dilakukan oleh sebagian kecil kelompok dan tidak mewakili seluruh rakyat Afrika Selatan.
Dukungan kuat juga datang dari Sudan Selatan. Di sejumlah lokasi nonton bareng di ibu kota Juba, masyarakat tetap memberikan dukungan penuh kepada Bafana Bafana.
Mahasiswa berusia 23 tahun, George Kenyi Charles Rehan, mengatakan Afrika Selatan sedang membawa nama seluruh Afrika di panggung dunia.
"Semua negara Afrika seharusnya mendukung Afrika Selatan selama Piala Dunia ini karena mereka mewakili benua Afrika," ujarnya.
Pemerintah Afrika Selatan Beri Dukungan
Meski kalah pada laga perdana, Pemerintah Afrika Selatan tetap memberikan apresiasi kepada tim nasionalnya.
Dalam pernyataan resmi, pemerintah memuji semangat juang para pemain yang dinilai telah mewakili negara dengan persatuan, tekad, dan kebanggaan di panggung sepak bola terbesar dunia.
Di media sosial, banyak warga Afrika Selatan juga membalas kritik dan ejekan yang muncul dari negara-negara lain.
Sebagian menegaskan bahwa Afrika Selatan berhasil lolos ke Piala Dunia melalui perjuangannya sendiri dan tidak bergantung pada dukungan negara lain.
Ketegangan Migran Memanas
Kontroversi ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan terkait migrasi di Afrika Selatan. Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah kelompok anti-imigran menggelar aksi dan menuntut warga asing yang tinggal secara ilegal meninggalkan negara tersebut sebelum 30 Juni.
Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, mengingatkan masyarakat agar tidak main hakim sendiri. Ia menegaskan bahwa hanya aparat pemerintah yang berwenang menindak pelanggaran hukum.
Namun, Ramaphosa juga mengakui bahwa kekhawatiran masyarakat terkait persoalan migrasi perlu didengar dan ditangani secara serius.
Situasi keamanan yang memburuk membuat sejumlah negara Afrika mulai memulangkan warganya dari Afrika Selatan. Nigeria menjadi negara terbaru yang melakukan repatriasi warga, menyusul Ghana, Zimbabwe, dan Malawi yang lebih dulu mengambil langkah serupa.
Afrika Selatan selama bertahun-tahun menjadi tujuan migrasi utama di kawasan sejak berakhirnya rezim apartheid pada 1994. Namun, tingginya angka pengangguran yang masih berada di atas 30 persen telah memicu meningkatnya sentimen anti-migran dan berbagai insiden xenofobia di sejumlah kota besar.
Sumber: BBC
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026








