Piala Dunia 2026: Tangan Donald Trump di Leher FIFA, Gianni Infantino Dianggap 'Bullshit'

AKURAT.CO, Kekalahan Amerika Serikat atas Belgia di babak 16 besar Piala Dunia 2026 tampaknya lebih dari sekadar hasil pertandingan. Ini bahkan menjadi peluang bagi banyak pihak untuk menghantam FIFA dengan merujuk pada semacam “karma”.
Tak pelak karena sehari sebelum AS menjamu Belgia di Stadion Lumen Field, Seattle, Amerika Serikat, Senin (6/7/2026), FIFA menangguhkan sanksi larangan bermain atas penyerang AS, Folarin Balogun.
Sejatinya, Folarin Balogun tak boleh bermain melawan Belgia karena di laga sebelumnya pemain berusia 25 tahun ini dikartumerah akibat melanggar pemain Bosnia-Herzegovina, Tarik Muharemovic.
FIFA kemudian menunda hukuman tersebut sehingga Folarin Balogun bisa tampil kontra Belgia. Alhasil, Belgia meneruskan kritik publik terhadap penangguhan tersebut dengan menghancurkan AS dengan kemenangan 4-1.
Ekspresi pemain Tim Nasional Amerika Serikat (hitam-hitam) selepas laga 16 besar Piala Dunia 2026 di mana mereka kalah 1-4 atas Belgia diStadion Lumen Field, Seattle, Selasa (7/7/2026). X/FoxNews
Yang menjadi soal bagi publik adalah penundaan sanksi untuk Balogun dilakukan dan diakui secara terang-terangan sebagai permintaan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Adapun Trump berkepentingan karena Bolagun adalah pemain yang mencetak gol pertama AS dalam kemenangan 2-0 versus Bosnia pada laga 32 besar di San Fransisco, Kamis (2/7/2026).
Trump mengakui bahwa ia menghubungi Presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk meninjau ulang hukuman terhadap Balogun. Harapannya adalah pemain kelahiran Brooklyn, AS, 3 Juli 2001, itu bisa bermain versus Belgia.
“Semua yang saya minta adalah tinjau ulang karena saya tidak merasa itu adalah sebuah pelanggaran,” kata Trump sebagaimana dipetik dari The Guardian.
“Saya tidak bilang pada dia (Gianni Infantino) apa yang harus dilakukan. Saya tidak bisa mengatakan padanya apa yang harus dilakukan.”
Sejarah mencatat bahwa Komite Disiplin FIFA mengabulkan permintaan Trump. Namun, insiden ini seakan menunjukkan bahwa FIFA telah mencelakakan sakralitasnya sebagai lembaga yang bebas dari intervensi pemerintah sebuah negara.
Legenda Tim Nasional Inggris dan Manchester United, Gary Neville, menyebut aksi Trump yang berujung pada penangguhan sanksi Balogun adalah campur tangan kekuasan pada level tertinggi.
Presiden FIFA Gianni Infantino menyampaikan keterangan kepada wartawan pada sehari menjelang pembukaan Piala Dunia 2026 di Stadion Azteca, Mexico City, Meksiko, Rabu (10/6/2026). ANTARA/Aditya Pradana Putra
“Mereka punya masalah sungguhan di sini, ini tidak akan hilang begitu saja, ini adalah Donald Trump, ini adalah Presiden Amerika, sang penjaga kebebasan berbicara, penguasa dunia bebas,” kata Gary Neville.
“Dia mengakuinya, dia menghubunginya (Infantino), dia meminta mereka melakukan tinjau ulang, ini adalah campur tangan dengan kekuasan di level tertinggi dalam sepakbola dan terhadap piala dunia.”
Infantino sendiri merespons arus kritik terhadapnya dengan argumen bahwa keputusan penangguhan sanksi terhadap Balogun adalah keputusan bebas Komite Disiplin FIFA.
Pria asal Swiss tersebut mengakui bahwa ia berbicara dengan Donald Trump. Dan keputusan yang diambil oleh Komite Disiplin FIFA adalah sepenuhnya bebas serta mengikuti aturan perundang-undangan.
“Saya membaca keputusan Komite Disiplin FIFA ketika dikeluarkan. Terkadang saya terkejut, terkadang saya setuju, terkadang saya tidak setuju,” tulis Infantino dalam surat klarifikasinya.
“Apa yang selalu saya lakukan, bagaimanapun, menghormati keputusan dan otonomi lembaga yang mengeluarkannya.”
Namun, penjelasan tersebut tampaknya tak bisa merayu logika publik terhadap syarat independensi FIFA. Salah satunya seperti yang digambarkan oleh kolumnis The Guardian, Maryna Hyde.
“Infantino mengeluarkan beberapa penjelasan omongkosong ekstrem soal menjaga lembaga hukum independen menggunakan artikel 27 (Statuta FIFA) dan menangguhkan sanksi,” tulis Hyde.
“Yang saya lihat di salah satu tajuk media AS termasuk kata-kata ‘Infantino mempertahankan integritas FIFA’. Sorry, apanya FIFA?”
Gianni Infantino Tak Berdaya di Hadapan Donald Trump
Serangan terhadap Infantino atas polemik sanksi Balogun ini sejatinya merupakan puncak dari gejala yang sudah terlihat dalam setahun terakhir dari “gesture” bos FIFA tersebut terhadap Donald Trump.
Hal tersebut bisa dilacak dari peristiwa ketika Infantino telat menghadiri Kongres Tahunan FIFA pada Mei 2025 di Paraguay.
Kala itu Infantino terlambat beberapa jam dari jadwal konon karena menghadiri pertemuan dengan Trump di Timur Tengah bersama beberapa pemimpin kawasan tersebut.
Kedatangan Infantino disambut dengan aksi walk-out sejumlah anggota. Infantino dianggap memanfaatkan kedudukannya untuk keuntungan posisi politik dengan datang ke Timur Tengah sekaligus tidak menghargai anggota FIFA di Kongres.
Pemain Tim Nasional Iran dalam sesi latihan di Tijuana, Meksiko, Jumat (19/6/2026), menjelang duel Grup G Piala Dunia 2026 kontra Belgia di Los Angeles, Amerika Serikat, Minggu (21/6/2026). X/presstvsports
Situasi kemudian bergulir sejalan semakin dekat pelaksaan Piala Dunia 2026. Di akhir tahun lalu, Infantino menganugerahkan Trump Penghargaan Perdamaian FIFA (FIFA Peace Prize) di tengah dukungan AS terhadap genosida Israel di Palestina.
Trump adalah orang pertama yang mendapatkan penghargaan tersebut.
Ketidakberdayaan lain yang ditunjukkan Infantino di hadapan Trump tentu saja perlakuan Amerika Serikat terhadap delegasi Tim Nasional Iran di Piala Dunia 2026.
Dimulai dari visa yang terlambat dikeluarkan, pindahnya kamp latihan Iran dari Tucson di AS ke Tijuana di Meksiko, serta jadwal keluar-masuk ke AS menjelang dan setelah hari pertandingan Piala Dunia yang merugikan Iran.
Tak pelak, insiden Bolagun ini membuat publik mulai melihat Infantino membawa FIFA kembali ke era “Sepp Blatter” yang dimakzulkan karena dugaan korupsi dan maladministrasi.
Padahal, Infantino masuk menggantikan Blatter dengan harapan bisa menjernihkan kekeruhan di organisasi induk sepakbola dunia tersebut.
“Saya tidak percaya bakal seperti ini, tetapi kita sekarang secara resmi berada dalam kenihilan era ‘Membawa Kembali Blatter’,” tulis Maryna Hyde.
Situasi tampaknya akan bergerak lebih dinamis setelah Piala Dunia. Suksesi FIFA mungkin mulai diwacanakan sejalan UEFA sebagai salah satu konfederasi terkuat kabarnya semakin tidak suka dengan Infantino.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026








