Fenomena Sungai Bengawan Solo Dipenuhi Eceng Gondok, Pertanda Baik Atau Buruk?

AKURAT.CO Sejak sebulan terakhir, Sungai Bengawan Solo di Bojonegoro, Jawa Timur, terlihat dipenuhi oleh tumbuhan eceng gondok, hingga permukaan sungai ini tertutup sepanjang 5 km.
Meski terlihat cantik, apakah fenomena eceng gondok memenuhi Sungai Bengawan Solo ini merupakan pertanda baik atau buruk?
Diketahui hal ini terjadi akibat penutupan pada akses pintu air bendung gerak yang berada di hilir sungai sejak musim kemarau panjang melanda Bojonegoro, yang menyebabkan aliran Sungai Bengawan Solo tidak mengalir dengan semestinya.
Sebagai sungai terpanjang di Pulau Jawa, Sungai Bengawan Solo memiliki fungsi krusial, yakni sebagai irigasi pertanian serta perikanan.
Meski dikenal memiliki fungsi baik untuk perairan, namun keberadaan eceng gondok ini justru mengkhawatirkan.
Keberadaan eceng gondok sering difungsikan pula sebagai penghias perairan, seperti eceng gondok pada Sungai Bengawan Solo yang saat ini tumbuh subur hingga berbunga.
Namun begitu, keberadaanya secara berlebihan dapat memberikan dampak buruk bagi perairan, seperti:
- Mengganggu Ekosistem Perairan
Eceng gondok yang memenuhi permukaan air dapat menyebabkan penetrasi cahaya matahari, yakni sulitnya cahaya matahari untuk masuk ke dalam air, sehingga menyebabkan menurunnya kadar oksigen dalam perairan.
Hal ini sangat berpengaruh terhadap kebutuhan oksigen makhluk hidup didalamnya, dan berpengaruh terhadap ekosistem air.
Baca Juga: 6 Ciri Zaman Kalabendu Versi Ramalan Jayabaya, Poin Terakhir Bikin Merinding Mirip Kondisi Sekarang!
- Pendangkalan Air
Pertumbuhan pesat dari eceng gondok disebabkan adanya eutrofikasi, yakni unsur hara yang tinggi dalam perairan.
Hal ini berpengaruh kepada pendangkalan air yang akan terjadi ketika banyaknya eceng gondok yang ada akan menumpuk saat mati dan mengendap di dasar danau. Hal ini akan menyebabkan berkurangnya kedalaman serta volume air.
- Menghambat arus air
Keberadaan eceng gondok secara berlebihan berdampak pada penghambatan arus air sehingga menyebabkan adanya sumbatan pada saluran irigasi, kanal, dan aliran air.
Hal ini dapat menyebabkan arus perairan menjadi tidak normal, hingga menyebabkan banjir disekitarnya.
Dari beberapa dampak buruk tersebut, maka sangat penting untuk mengendalikan pertumbuhan eceng gondok pada suatu perairan.
Meski begitu, belum terlihat adanya tindak lanjut dari pihak terkait untuk melakukan pembersihan pada Sungai Bengawan Solo agar fungsi sungai ini kembali seperti semula.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal



