Prabowo Janji Bangun Politeknik Unggulan di Aceh
Atikah Umiyani | 26 Desember 2023, 19:12 WIB

AKURAT.CO Capres nomor urut 2, Prabowo Subianto, mengapresiasi dan berterima kasih kepada rakyat Aceh yang telah memberi dukungan besar saat dirinya berjuang dalam ajang pilpres sebelumnya.
Prabowo juga meminta maaf karena dirinya belum sempat mengunjungi Aceh usai dikalahkan oleh Presiden Joko Widodo pada Pilpres 2019.
"Puncaknya pemilihan presiden lalu. Salah satunya, saya dapat dukungan paling besar di Aceh. Saya minta maaf saya sudah kalah, saya belum ke Aceh," kata Prabowo dalam acara Silaturahmi dan Doa Bersama Ulama dan Tokoh Masyarakat Se-Aceh, dalam rangka mengenang 19 tahun tsunami Aceh, di Banda Aceh, Selasa (26/12/2023).
Ia pun berkomitmen untuk membalas setiap kebaikan rakyat Aceh yang selama ini telah mendukungnya. Prabowo menegaskan, dirinya akan membantu rakyat Aceh melalui pembangunan politeknik unggulan di provinsi itu.
"Waktu saya menjadi Menhan, saya sudah merencanakan, saya berusaha membantu Aceh, (seperti) masalah tanah dan sebagainya. Saya sudah siapkan anggaran untuk bangun sebuah politeknik unggulan di Aceh," jelasnya.
Pada momen itu, Prabowo juga mengungkap dirinya yang memiliki hubungan emosional dengan Aceh dan masyarakatnya.
Hal ini tidak terlepas dari kisah ayahnya, Soemitro Djojohadikoesoemo, sebagai perintis Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala.
"Saya pun mempunyai hubungan emosional dengan rakyat aceh. Orang tua saya Prof. Soemitro dari awal sangat dekat dengan tokoh-tokoh Aceh dan beliau ikut merintis pendirian Fakultas Ekonomi Syiah Kuala," katanya.
"Beliau sempat jadi dosen terbang dan beliau sangat bangga, selalu cerita kepada kami bahwa beliau terbang ke Aceh dan memberi kuliah," sambung Prabowo.
Tidak hanya itu, Prabowo bercerita perjuangan ayahnya kemudian berlanjut saat ia bersama rakyat Aceh saling dukung di masa-masa sulit, seperti ketika terjadi pergolakan di tahun 1950-an.
"Dan sesudah itu pun orang tua saya berjuang bersama tokoh-tokoh Aceh dan rakyat Aceh dalam masa-masa yang sulit di tahun 50-an, di mana Indonesia mengalami pergolakan karena masalah-masalah ideologi," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









