Akurat
Pemprov Sumsel

Viral Perkelahian Dokter Koas Unsri, Ketua Dokter Indonesia Bersatu Soroti Campur Tangan Orang Tua

Tim Redaksi | 17 Desember 2024, 23:17 WIB
Viral Perkelahian Dokter Koas Unsri, Ketua Dokter Indonesia Bersatu Soroti Campur Tangan Orang Tua

AKURAT.CO Media sosial dihebohkan dengan video perkelahian yang melibatkan dokter koas Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang.

Dalam video yang viral tersebut, seorang dokter koas bernama Luthfi menjadi korban pemukulan. Pelaku diketahui merupakan pegawai yang bekerja di bawah ibu dari dokter koas lainnya, Lady.

Kejadian ini menuai banyak perhatian, termasuk dari Ketua Dokter Indonesia Bersatu, Dr. Eva Sri Diana.

Ia menyayangkan insiden tersebut dan menegaskan bahwa dunia kedokteran harus dilandasi semangat pengabdian dan kemanusiaan.

Menurutnya, seorang calon dokter perlu memiliki komitmen yang tulus untuk membantu pasien dalam situasi apa pun.

Baca Juga: Baleg DPR Tunggu Langkah Pemerintah Soal Wacana Pilkada via DPRD

“Jika seseorang memutuskan menjadi dokter, itu harus datang dari hati. Siap kapan pun, di mana pun, dan bagaimana pun membantu pasien. Profesi dokter itu bukan hanya pekerjaan, melainkan panggilan kemanusiaan,” ujar Dr. Eva, Selasa (17/12/2024).

Dr. Eva turut mengkritik keras keterlibatan orang tua dalam pendidikan kedokteran.

Ia menegaskan bahwa mahasiswa kedokteran, khususnya yang sudah berada di tahap profesi, adalah individu dewasa yang harus mampu menyelesaikan tanggung jawabnya secara mandiri.

Campur tangan orang tua, apalagi hingga berujung tindakan kekerasan, dinilainya tidak dapat dibenarkan.

“Orang tua tidak punya hak dan wewenang untuk memanggil atau menekan mahasiswa lain. Selama saya menjadi dosen, baru kali ini ada kejadian seperti ini. Campur tangan orang tua dalam pendidikan kedokteran bukanlah hal yang baik,” tegas Dr. Eva.

Baca Juga: Terima Suplai Air Minum dari Jatiluhur, DPRD Jakarta Puas Apresiasi Kinerja PAM Jaya

Lebih lanjut, ia menyoroti fenomena pergeseran nilai dalam profesi kedokteran, yang kini semakin dipengaruhi aspek material dan status sosial.

Menurutnya, banyak orang tua berambisi menjadikan anak mereka dokter hanya karena faktor gengsi atau kemampuan finansial, bukan karena panggilan kemanusiaan.

Hal ini berdampak pada minimnya komitmen dan mentalitas calon dokter.

“Sekarang, siapa pun bisa jadi dokter asal punya uang atau dukungan orang tua. Akibatnya, banyak mahasiswa kedokteran yang mentalnya lemah dan manja. Padahal, profesi ini menuntut kesiapan mental dan fisik yang kuat,” jelasnya.

Dr. Eva menegaskan bahwa generasi muda yang ingin terjun ke dunia kedokteran harus memiliki mentalitas tangguh dan semangat pengabdian yang murni.

Ia berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua pihak, baik mahasiswa, pendidik, maupun orang tua, agar menjaga integritas profesi dokter yang mulia.  

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.