Akurat
Pemprov Sumsel

Hidupkan Kembali Visi Maritim Riau: Laut adalah Masa Depan Ekonomi Daerah

Ahada Ramadhana | 3 Juni 2025, 14:43 WIB
Hidupkan Kembali Visi Maritim Riau: Laut adalah Masa Depan Ekonomi Daerah

AKURAT.CO Riau memiliki potensi strategis sebagai pusat kekuatan ekonomi maritim nasional dan regional yang selama ini belum dioptimalkan secara sistemik.

Kedekatan geografis dengan Selat Malaka, garis pantai yang panjang, dan luasnya wilayah pesisir menjadikan provinsi ini sangat prospektif sebagai poros ekonomi laut Indonesia.

Pengamat maritim dari Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas Strategic Center (ISC), Marcellus Hakeng Jayawibawa, menyatakan, Riau berpeluang besar menjadi simpul logistik dan pusat pertumbuhan ekonomi maritim, tidak hanya untuk kepentingan lokal dan nasional, tetapi juga kawasan Asia Tenggara.

“Riau memiliki modal dasar luar biasa untuk menjadikan laut sebagai pusat pertumbuhan ekonomi,” kata Marcellus, Selasa (3/6/2025).

Menurutnya, sektor-sektor seperti perikanan, pariwisata bahari, perkapalan, dan transportasi laut menawarkan ruang ekspansi ekonomi yang berkelanjutan.

Dalam konteks ini, ia menyoroti pentingnya menghidupkan kembali warisan pemikiran Brigjen TNI (Purn) H. Saleh Djasit, Gubernur Riau periode 1998–2003, yang mencetuskan Visi Riau 2020.

Baca Juga: Lindungi Jemaah, Kemenkes Tuntut Kepastian Izin Klinik Haji di Makkah

Visi tersebut menempatkan Laut Selat Lalang sebagai simpul utama konektivitas dan distribusi wilayah melalui konsep Integrated Maritime Economy—yang mengintegrasikan pelabuhan, kawasan industri, dan jalur logistik dalam satu sistem maritim terpadu.

“Wilayah pesisir seperti Dumai, Bengkalis, Siak, Pelalawan, dan Indragiri Hulu dirancang sebagai simpul ekonomi yang saling terhubung. Ini adalah gagasan visioner yang masih sangat relevan,” jelasnya.

Marcellus mendorong agar Gubernur Riau terpilih, Abdul Wahid, mengaktualisasikan visi tersebut dalam bentuk konkret: Riau Maritime Corridor.

Sebuah jaringan ekonomi maritim yang mengusung prinsip ekonomi biru (blue economy), pembangunan pelabuhan ramah lingkungan (green port development), serta adaptif terhadap perubahan iklim.

“Jika laut dijadikan medium utama distribusi, efisiensi logistik meningkat, biaya produksi turun, dan daya saing produk lokal terdongkrak. Riau bisa menjadi klaster logistik maritim yang mampu bersaing dengan Malaysia dan Singapura,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya pembangunan pelabuhan strategis seperti Dumai, Tanjung Buton, RAPP Futong, dan Kuala Enok secara terintegrasi dengan pendekatan Port Connectivity and Integrated Maritime Development.

Sinergi lintas sektor, dukungan regulasi, dan perencanaan spasial berbasis kajian kelautan harus menjadi prioritas.

“Konektivitas maritim yang efisien akan memperkuat posisi Riau dalam rantai pasok nasional dan internasional. Ini akan menjadikan Riau simpul logistik utama di wilayah barat Indonesia,” ujar Marcellus.

Baca Juga: Alumni Mesum Tersangka

Ia juga mengajak seluruh pemangku kepentingan—pemerintah daerah, pusat, akademisi, dan sektor swasta—untuk bersatu membangun kembali fondasi maritim Riau.

“Dunia sedang bergerak menuju ekonomi biru. Riau punya semua syarat untuk menjadi pusatnya. Yang dibutuhkan sekarang hanyalah kemauan politik dan komitmen kolektif untuk mewujudkannya. Karena laut adalah masa depan,” pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.