Akurat
Pemprov Sumsel

Fenomena Hujan Bermikroplastik di Jakarta: Fakta, Ancaman dan Cara Cegah

Shalli Syartiqa | 28 Oktober 2025, 13:02 WIB
Fenomena Hujan Bermikroplastik di Jakarta: Fakta, Ancaman dan Cara Cegah

AKURAT.CO Penemuan mikroplastik dalam air hujan di Jakarta oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat​. ​

Fenomena ini menandakan bahwa polusi plastik telah mencapai atmosfer, menjadikannya masalah yang membutuhkan respons cepat dan kolaboratif dari berbagai pihak.

​Berbagai penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik dapat berasal dari serat sintetis, debu kendaraan, hingga sisa pembakaran sampah plastik, yang kemudian terbawa angin dan turun bersama air hujan.

Baca Juga: 20 Contoh Soal Ekonomi TKA Kelas 12 SMA 2025, Lengkap dengan Kunci Jawaban

Apa Itu Mikroplastik dan Bagaimana Bisa Naik ke Atmosfer?

​Mikroplastik adalah partikel plastik kecil dengan ukuran kurang dari 5 milimeter. ​

Partikel ini bisa terangkat ke atmosfer karena massanya yang sangat ringan, terutama untuk ukuran sangat kecil atau nanoplastik.

​Mikroplastik dapat naik ke udara melalui debu jalanan, asap pembakaran, maupun aktivitas industri, lalu terbawa angin dan akhirnya turun bersama hujan.

​Hujan berperan sebagai pencuci udara, menyatukan mikroplastik dengan tetesan air hujan sehingga seolah-olah air hujan bersih.

​Siklus plastik saat ini telah menjangkau atmosfer, dengan riset di Jepang bahkan menunjukkan mikroplastik ditemukan di awan, menandakan bahwa polusi ini telah bersifat global.

Sumber Utama Mikroplastik di Udara Jakarta

​Sumber utama mikroplastik dalam air hujan di Jakarta sangat beragam, sebagian besar berasal dari aktivitas manusia di perkotaan.

​Sumber-sumber ini meliputi serat sintetis pakaian, debu kendaraan dan ban, sisa pembakaran sampah plastik, serta degradasi plastik di ruang terbuka. ​

Tingginya penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari juga menjadi akar masalah, di mana plastik akan terurai menjadi mikroplastik dan nanoplastik.

​Selain aktivitas manusia, faktor lingkungan seperti suhu tinggi dan udara kering juga mempercepat pelapukan plastik, memudahkan partikel halus beterbangan ke atmosfer.

Dampak Terhadap Kesehatan dan Lingkungan di Kota Besar

​Kehadiran mikroplastik dalam air hujan menimbulkan dampak serius bagi kesehatan manusia dan lingkungan, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta.

​Mikroplastik telah terbukti ditemukan di dalam tubuh manusia, seperti paru-paru, darah, dan bahkan plasenta, menandakan potensi paparan kronis dan meluas.

​Dampak yang mungkin terjadi termasuk peradangan kronis pada saluran napas atau usus, gangguan hormon endokrin akibat bahan kimia aditif plastik seperti BPA, risiko kardiovaskular, dan stres oksidatif dari partikel mikro yang toksik.

​Mikroplastik juga dapat menjadi perantara sebaran penyakit dan patogen karena bisa menempel padanya, memperburuk situasi penyakit.

​Selain itu, secara lingkungan, partikel ini mengganggu rantai makanan; plankton menelannya, naik ke ikan, dan akhirnya masuk ke rantai makanan manusia.

Langkah-Langkah Pencegahan untuk Masyarakat dan Pemerintah

​Untuk mengatasi fenomena hujan bermikroplastik ini, diperlukan langkah pencegahan yang komprehensif dari masyarakat dan pemerintah.

Peran Masyarakat

1. Mengurangi Penggunaan Plastik Sekali Pakai: ​Masyarakat diimbau untuk mengurangi konsumsi plastik sekali pakai, membawa botol minum sendiri (tumbler), dan menghindari kantong plastik saat berbelanja.

2. Memilah Sampah dari Rumah: ​Memilah sampah dari sumbernya dan tidak membakar limbah sembarangan sangat penting untuk menekan akumulasi mikroplastik di lingkungan.

3. Menghindari Produk Perawatan Tubuh yang Mengandung Mikroplastik: ​Kesadaran terhadap kandungan mikroplastik dalam produk sehari-hari juga perlu ditingkatkan.

4. Mengenakan Masker Saat Hujan: ​Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengimbau warga Jakarta untuk mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan setelah hujan, mengingat mikroplastik dapat terhirup atau tertelan.

Peran Pemerintah

1. Pengendalian Sampah Plastik dari Hulu hingga Hilir: ​Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memperkuat program pengendalian sampah plastik dari hulu hingga hilir, termasuk pemantauan kualitas udara dan air hujan secara terpadu.

2. Kebijakan Pengurangan Sampah Plastik: ​Kebijakan seperti Peraturan Gubernur Nomor 142 Tahun 2019 tentang Kewajiban Penggunaan Kantong Belanja Ramah Lingkungan dan perluasan program Jakstrada Persampahan menargetkan pengurangan sampah dari sumbernya.

 

3. Pengembangan Sistem Pengolahan Sampah dan Air Hujan: ​Pemerintah perlu mendorong penggunaan bahan alami dan biodegradable, serta mengembangkan sistem pengolahan sampah dan air hujan dengan sistem filtrasi air yang ramah lingkungan.

4. Membatasi Penjualan Air Minum dalam Kemasan Plastik: ​Pemerintah daerah dapat mengambil langkah konkret dengan membatasi penjualan air minum dalam kemasan plastik di sekolah atau fasilitas publik.

Itulah fakta, ancaman, dan cara cegah terkait penemuan mikroplastik dalam air hujan di Jakarta.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.