Akurat
Pemprov Sumsel

Akses Pangan Terputus, Bahaya Kental Manis Mengintai Anak Korban Banjir di Aceh Tamiang

Herry Supriyatna | 8 Maret 2026, 17:26 WIB
Akses Pangan Terputus, Bahaya Kental Manis Mengintai Anak Korban Banjir di Aceh Tamiang
Ibu dan anak di Aceh Tamiang terdampak bencana Sumatera.

AKURAT.CO Keterbatasan akses membuat warga di Desa Serba dan Desa Pematang Durian terpaksa mengandalkan makanan praktis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Penyuluh kesehatan dari Puskesmas Sekerak, Ersyad, mengatakan warga harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan bahan pangan, terutama yang memiliki nilai gizi tinggi seperti sumber protein.

“Dari Desa Pematang Durian, masyarakat harus menempuh perjalanan sekitar satu sampai dua jam untuk mendapatkan bahan pangan,” kata Ersyad, Minggu (8/3/2026).

Ia menjelaskan, kondisi tersebut terjadi karena akses menuju desa sempat terputus akibat kerusakan infrastruktur setelah banjir bandang.

Salah satu jembatan utama yang menghubungkan wilayah tersebut rusak sehingga jalur distribusi harus memutar lebih jauh.

“Jembatan akses ke sana putus, sehingga tim maupun warga harus memutar jalur. Jaraknya bisa lebih dari tiga kali lipat dibandingkan kondisi normal,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat bantuan pangan yang beredar di masyarakat didominasi makanan praktis yang mudah disimpan dan didistribusikan, seperti mi instan dan susu kental manis.

Baca Juga: All England: Raymond/Indra Ditumbangkan Duet Ranking 1 Dunia, Indonesia Pulang Tanpa Gelar

Namun, konsumsi makanan tersebut secara terus-menerus dinilai tidak ideal, terutama bagi anak-anak dan balita yang membutuhkan asupan gizi seimbang.

Ersyad menyoroti tingginya konsumsi susu kental manis di kalangan anak-anak.

Menurutnya, produk tersebut mengandung gula tinggi yang dapat menimbulkan rasa kenyang semu sehingga anak enggan mengonsumsi makanan bergizi lain.

“Jika dikonsumsi terus-menerus, kental manis bisa membuat anak merasa kenyang padahal kebutuhan gizinya belum terpenuhi. Akibatnya, mereka lebih memilih minum kental manis daripada makan makanan bergizi,” jelasnya.

Ia menambahkan, pola konsumsi seperti ini berisiko memicu gangguan gizi pada anak, termasuk meningkatkan potensi stunting dalam jangka panjang.

Kondisi sulitnya akses pangan bergizi juga dibenarkan oleh Ketua PC Muhammadiyah Kecamatan Sama Dua, Denni Taufiqurrahman, yang turut menjadi relawan di wilayah terdampak.

Menurut Denni, keterbatasan akses membuat masyarakat kesulitan memperoleh bahan makanan yang mengandung protein, terutama untuk kebutuhan anak-anak.

“Terkait kebutuhan protein masih sangat terbatas. Apalagi sekarang bulan Ramadan, ada anak yang ikut puasa dan ada yang tidak, tapi kebutuhan gizinya masih minim,” ujarnya.

Selain persoalan pangan, masyarakat juga masih menghadapi kesulitan dalam mendapatkan air bersih.

Kerusakan fasilitas akibat banjir bandang membuat sebagian sumber air tidak lagi dapat digunakan secara normal.

“Ketika kami bertanya ke beberapa kepala desa mengenai kebutuhan paling mendesak, mereka menyebut fasilitas air bersih sebagai prioritas utama,” kata Denni.

Para relawan berharap pemerintah dan berbagai pihak dapat segera mempercepat pemulihan infrastruktur serta distribusi bantuan pangan bergizi agar kebutuhan dasar masyarakat, khususnya anak-anak, dapat terpenuhi dengan lebih baik.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.