Korban Banjir Sumatra Masih Berjuang Pulih, Anak-anak Harus Jalan Berjam-jam ke Sekolah

AKURAT.CO Pagi itu di sebuah desa terpencil di Sumatra Utara, beberapa anak memulai perjalanan panjang menuju sekolah. Jalan yang mereka lalui bukan sekadar rute biasa menuju ruang kelas, tetapi jalur baru yang terpaksa ditempuh setelah rumah dan sekolah mereka rusak akibat banjir.
Kisah seperti ini menjadi gambaran nyata kondisi korban banjir Sumatra yang hingga kini masih menghadapi proses pemulihan panjang. Banyak keluarga kehilangan rumah, sekolah rusak berat, dan aktivitas masyarakat belum sepenuhnya kembali normal.
Bencana yang terjadi berbulan-bulan lalu masih meninggalkan dampak besar bagi kehidupan warga, terutama anak-anak yang harus berjuang kembali mengakses pendidikan di tengah keterbatasan.
Kondisi Korban Banjir Sumatra Saat Ini
Banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah Sumatra pada November 2025 berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat. Beberapa daerah yang terdampak antara lain:
Aceh
Sumatra Utara
Sumatra Barat
Bencana tersebut merusak rumah, sekolah, dan infrastruktur publik sehingga memaksa puluhan ribu keluarga mengungsi.
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) pada Februari 2026, sebanyak 4.852 sekolah terdampak akibat bencana di wilayah Sumatra.
Akibatnya, anak-anak menjadi kelompok paling rentan karena kehilangan akses pendidikan, ruang belajar aman, serta stabilitas kehidupan sehari-hari.
Dampak Banjir Sumatra terhadap Kehidupan Masyarakat
Dampak banjir di wilayah Sumatra tidak hanya terlihat dari kerusakan fisik bangunan, tetapi juga dari terganggunya kehidupan sosial masyarakat.
Beberapa dampak utama yang masih dirasakan warga antara lain:
Rumah rusak atau hanyut terbawa banjir
Sekolah rusak berat hingga tidak bisa digunakan
Keterbatasan akses air bersih
Layanan dasar yang belum sepenuhnya pulih
Banyak keluarga yang hingga kini masih berusaha menata kembali kehidupan mereka. Proses pemulihan berjalan lambat karena sejumlah desa terdampak berada di wilayah terpencil dengan akses yang terbatas.
Anak-Anak Menjadi Kelompok Paling Rentan
Di tengah berbagai kesulitan yang dihadapi masyarakat, anak-anak menjadi kelompok yang paling terdampak.
Banyak sekolah mengalami kerusakan berat bahkan hancur total akibat banjir dan longsor. Hal ini membuat akses pendidikan terputus untuk sementara waktu.
Dalam beberapa kasus, anak-anak harus menempuh perjalanan jauh untuk mencapai sekolah sementara.
Beberapa di antaranya bahkan harus berjalan hingga empat jam agar bisa kembali belajar.
Ada pula anak yang sebelumnya tinggal hanya sekitar 100 meter dari sekolah, tetapi kini harus tinggal jauh karena rumah mereka hanyut terbawa banjir.
Selain kehilangan fasilitas pendidikan, anak-anak juga menghadapi tantangan psikologis setelah mengalami bencana.
Dessy Kurwiany Ukar, CEO Save the Children Indonesia, mengatakan kondisi di lapangan jauh lebih parah dibandingkan yang terlihat dari pemberitaan.
"Awalnya terlihat seperti banjir biasa. Tetapi ketika kami tiba di lokasi, dampaknya jauh lebih besar daripada yang terlihat di televisi,” ujarnya dalam acara Media Gathering Citi Indonesia di Jakarta, Selasa, 10 Maret 2026.
Ia menambahkan bahwa setelah bencana, bukan hanya infrastruktur yang rusak, tetapi juga kondisi mental masyarakat yang terdampak.
Desa Terdampak Banjir yang Masih Berjuang Pulih
Salah satu wilayah yang merasakan dampak besar bencana adalah Desa Hutanabolon di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara.
Desa ini berada di wilayah yang cukup terpencil sehingga membutuhkan perjalanan panjang untuk mencapainya.
Dalam kunjungan lapangan yang dilakukan tim Citi Indonesia, terlihat langsung bagaimana kehidupan masyarakat masih berusaha pulih dari bencana.
Beberapa kondisi yang terlihat di lapangan antara lain:
Anak-anak harus berjalan jauh menuju sekolah sementara
Banyak keluarga kehilangan tempat tinggal
Infrastruktur desa belum sepenuhnya pulih
Cerita-cerita ini menggambarkan bahwa pemulihan pascabencana bukan proses yang cepat, terutama di daerah yang memiliki keterbatasan akses.
Upaya Pemulihan Melalui Bantuan Kemanusiaan
Di tengah proses pemulihan yang panjang, berbagai pihak mulai terlibat untuk membantu masyarakat bangkit kembali.
Salah satunya melalui kolaborasi antara Citi Foundation dan Save the Children Indonesia yang menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi anak-anak dan keluarga terdampak banjir.
Program bantuan tersebut berfokus pada pemulihan sektor pendidikan melalui beberapa inisiatif, antara lain:
Temporary Learning Space (TLS) atau ruang belajar sementara
Penguatan pojok baca di sekolah
Pemberian Back-to-School Kits berupa tas dan perlengkapan belajar
Pembangunan fasilitas pendukung seperti toilet sekolah
Hario Widyananto, Country Head of Public Affairs Citi Indonesia, menjelaskan bahwa dukungan terhadap pendidikan menjadi prioritas penting dalam program ini.
“Citi percaya bahwa dukungan terhadap ruang belajar yang aman dan layak sangat krusial untuk memastikan anak-anak dapat terus melanjutkan pendidikan,” ujarnya.
Sementara itu, Fadli Usman dari Save the Children Indonesia menekankan bahwa skala kerusakan sekolah menunjukkan besarnya tantangan pemulihan.
“Ribuan sekolah yang terdampak menunjukkan betapa besar tantangan pemulihan pendidikan setelah bencana,” katanya.
Program bantuan ini juga merupakan bagian dari dukungan Citi Foundation terhadap negara-negara yang terdampak cuaca ekstrem, termasuk Indonesia, Vietnam, Thailand, dan Sri Lanka.
Mengapa Pemulihan Pascabencana Sering Berlangsung Lama?
Proses pemulihan setelah bencana alam biasanya membutuhkan waktu yang panjang.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan kondisi korban bencana tidak cepat pulih, antara lain:
Kerusakan infrastruktur yang luas
Keterbatasan akses ke daerah terpencil
Kebutuhan bantuan yang sangat besar
Dampak psikologis yang dialami masyarakat
Bagi anak-anak, keberadaan sekolah menjadi faktor penting dalam proses pemulihan. Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang aman yang membantu mereka kembali merasakan rutinitas normal setelah bencana.
Kehidupan Nyata Korban Banjir yang Berusaha Bangkit
Di sejumlah desa terdampak, kehidupan perlahan mulai berjalan kembali meski masih jauh dari normal.
Beberapa keluarga harus:
tinggal sementara di tempat lain setelah rumah hanyut
membangun kembali tempat tinggal dari awal
mengandalkan bantuan kemanusiaan untuk kebutuhan dasar
Di sisi lain, anak-anak berusaha kembali menjalani aktivitas belajar, meskipun fasilitas yang tersedia masih sangat terbatas.
Semangat mereka untuk kembali ke sekolah menjadi salah satu gambaran harapan di tengah kondisi yang sulit.
Mengapa Kondisi Korban Banjir Masih Perlu Perhatian?
Bencana banjir tidak hanya menimbulkan kerusakan jangka pendek, tetapi juga berpotensi memengaruhi masa depan masyarakat jika proses pemulihan tidak berjalan dengan baik.
Beberapa dampak jangka panjang yang perlu menjadi perhatian antara lain:
risiko putus sekolah pada anak-anak
terganggunya perkembangan sosial dan mental anak
keterlambatan pembangunan daerah terdampak
Karena itu, dukungan dari berbagai pihak—mulai dari pemerintah, organisasi kemanusiaan, sektor swasta, hingga media—menjadi sangat penting untuk mempercepat proses pemulihan.
Bagi banyak keluarga di wilayah terdampak, perjalanan untuk bangkit dari bencana masih panjang.
Di desa-desa yang jauh dari pusat kota, anak-anak masih berjalan berjam-jam menuju sekolah sementara, sementara orang tua mereka perlahan membangun kembali kehidupan yang sempat runtuh.
Kondisi korban banjir Sumatra hari ini menjadi pengingat bahwa pemulihan pascabencana bukan sekadar tentang memperbaiki bangunan yang rusak, tetapi juga tentang mengembalikan harapan bagi masyarakat yang terdampak.
FAQ
1. Bagaimana kondisi korban banjir Sumatra saat ini?
Kondisi korban banjir Sumatra di beberapa wilayah masih dalam tahap pemulihan. Banyak keluarga masih menghadapi keterbatasan akses terhadap air bersih, layanan dasar, serta tempat tinggal yang layak. Selain itu, kerusakan rumah dan fasilitas umum membuat kehidupan masyarakat belum sepenuhnya kembali normal meskipun bencana terjadi sejak akhir 2025.
2. Wilayah mana saja yang terdampak banjir di Sumatra?
Banjir dan tanah longsor yang terjadi pada November 2025 berdampak pada sejumlah wilayah di Sumatra, terutama Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Beberapa daerah terpencil seperti desa-desa di Kabupaten Tapanuli Tengah juga merasakan dampak besar karena akses menuju wilayah tersebut terbatas sehingga proses pemulihan berjalan lebih lambat.
3. Mengapa anak-anak menjadi kelompok paling terdampak banjir?
Anak-anak menjadi kelompok paling rentan karena banjir menyebabkan banyak sekolah rusak atau tidak dapat digunakan. Akibatnya, akses pendidikan terganggu dan sebagian anak harus menempuh perjalanan jauh ke sekolah sementara. Selain itu, anak korban bencana alam juga berisiko mengalami trauma psikologis setelah mengalami kehilangan rumah atau lingkungan tempat tinggal mereka.
4. Berapa banyak sekolah rusak akibat banjir di Sumatra?
Data dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada Februari 2026 menunjukkan sekitar 4.852 sekolah terdampak banjir dan longsor di wilayah Sumatra. Kerusakan ini menyebabkan banyak siswa kehilangan ruang belajar yang aman sehingga diperlukan fasilitas pendidikan sementara agar proses belajar mengajar dapat tetap berlangsung.
5. Apa itu Temporary Learning Space bagi anak korban banjir?
Temporary Learning Space (TLS) adalah ruang belajar sementara yang dibangun untuk membantu anak-anak tetap mendapatkan akses pendidikan setelah bencana. Fasilitas ini dirancang lebih aman dan nyaman dibandingkan tenda darurat, sehingga dapat digunakan sebagai tempat belajar hingga sekolah permanen selesai diperbaiki atau dibangun kembali.
6. Bagaimana kehidupan masyarakat di desa terdampak banjir Sumatra?
Kehidupan masyarakat di desa terdampak banjir masih penuh tantangan. Banyak keluarga yang kehilangan rumah dan harus tinggal di lokasi sementara, sementara sebagian infrastruktur desa masih rusak. Kondisi ini membuat aktivitas sehari-hari, termasuk bekerja dan bersekolah, belum sepenuhnya pulih seperti sebelum bencana.
7. Apa saja bantuan kemanusiaan untuk korban banjir Sumatra?
Berbagai organisasi kemanusiaan dan sektor swasta telah menyalurkan bantuan untuk mendukung pemulihan daerah bencana. Bantuan tersebut mencakup pembangunan ruang belajar sementara, penyediaan perlengkapan sekolah, dukungan kesehatan, serta bantuan kebutuhan dasar bagi keluarga terdampak banjir agar mereka dapat kembali menjalani kehidupan secara bertahap.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









