Revitalisasi Kota Tua Dimulai dari Zona Inti, Parkiran dan PKL Jadi Prioritas

AKURAT.CO Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta mulai memfokuskan langkah revitalisasi kawasan Kota Tua Jakarta, dengan memprioritaskan penataan di zona inti. Di mana tempat parkir dan pedagang kaki lima (PKL) menjadi prioritas utamanya.
Wakil Gubernur Jakarta, Rano Karno, mengatakan strategi ini diambil untuk mempercepat perubahan wajah kawasan bersejarah peninggalan era kolonial Belanda, tanpa mengganggu aktivitas masyarakat.
"Kota Tua ini dibagi menjadi tiga zona, yaitu zona inti, zona pengembangan, dan zona penunjang. Yang akan kita fokuskan pertama adalah zona inti," kata Rano kepada wartawan di Balai Kota Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Baca Juga: Pramono Bidik Kota Tua hingga Kepulauan Seribu Jadi Tumpuan Destinasi Wisata di Jakarta
Dia menjelaskan, total luas kawasan Kota Tua mencapai sekitar 363 hektare. Namun, zona inti yang menjadi prioritas awal hanya mencakup sekitar 80 hektare. Area ini meliputi sejumlah titik penting, seperti Museum Bahari dan Alun-alun Fatahillah yang selama ini menjadi pusat aktivitas wisata.
Menurutnya, langkah awal revitalisasi akan difokuskan pada pembangunan fasilitas dasar, terutama area parkir dan penataan pedagang kaki lima (PKL). Penataan ini dinilai krusial untuk menciptakan keseimbangan antara fungsi wisata dan aktivitas ekonomi warga.
Baca Juga: Pramono: MRT Jadi Kunci Perubahan Wajah Kota Tua Jakarta di 2029
"PKL tetap harus kita fasilitasi, tapi juga harus diatur agar tidak mengganggu suasana Kota Tua. Justru itu menjadi bagian dari kehidupan kawasan tersebut," jelasnya.
Pemprov Jakarta menunjukkan keseriusan dalam proyek ini dengan melibatkan tim ahli. Salah satunya adalah Prof. Andi yang ditunjuk sebagai ketua tim revitalisasi, bersama para pakar yang sebelumnya terlibat dalam penataan Kota Lama Semarang.
Dengan pendekatan berbasis zonasi dan dukungan tenaga ahli, revitalisasi Kota Tua diharapkan mampu menghidupkan kembali kawasan bersejarah itu sebagai destinasi unggulan tanpa kehilangan nilai budaya dan karakter aslinya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








