Kisah Mbah Aina: Rawat Anak Sejak Bayi, Kini Terbantu Sekolah Rakyat Wujudkan Mimpi Aditya

AKURAT.CO Tak pernah terlintas di benak Mbah Aina (73), warga Kelurahan Pucangsawit, Kota Surakarta, Jawa Tengah, bahwa ia harus membesarkan seorang anak sejak bayi hingga remaja.
Sekitar 17 tahun lalu, Aina menerima permintaan dari sepasang suami istri untuk mengasuh anak mereka.
Awalnya, ia hanya diberi upah antara Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per bulan. Namun, seiring waktu, orang tua anak tersebut tak pernah lagi datang atau menjenguk.
Sejak saat itu, Aina harus merawat anak bernama Aditya seorang diri.
“Ibu-bapaknya Aditya tidak pernah menjenguk dari lahir,” ujar Aina, Minggu (19/4/2026).
“Jadi mati hidupnya anak itu tanggung jawab saya. Saya berjuang agar anak ini bisa hidup dan sehat,” imbuhnya.
Di tengah keterbatasan, Aina tetap bertekad memberikan pendidikan terbaik bagi Aditya.
Ia membiayai pendidikan sejak taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama, meski penghasilannya tidak menentu.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Aina mengumpulkan bunga kamboja di area pemakaman dan membersihkan makam saat ada peziarah.
Baca Juga: 7.911 Pendatang Baru Masuk Jakarta Usai Lebaran, Didominasi Usia Produktif
Ia sempat ragu melanjutkan pendidikan Aditya ke jenjang SMA karena keterbatasan biaya. Namun di sisi lain, ia tidak tega jika Aditya harus bekerja di usia muda.
Padahal, Aditya dikenal sebagai anak berprestasi. Sejak SMP, ia telah meraih berbagai penghargaan, di antaranya juara 2 pencak silat dalam Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) tingkat kota, juara pertama dalam kompetisi silat lainnya, serta juara 3 videografer terbaik di SMP Negeri 20 Surakarta.
Harapan itu kembali terbuka saat Aina mendapatkan informasi mengenai pendaftaran pendidikan gratis di SMA Sekolah Rakyat 17 Surakarta, program yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto.
Meski sempat menolak, Aditya akhirnya bersedia mendaftar setelah dibujuk oleh Aina.
“Saya bilang, daripada kamu lulus SMP masih kecil lalu harus kerja, saya tidak tega,” kata Aina.
“Saya minta dia tanda tangan demi masa depan dia,” lanjutnya.
Kini, Aditya telah tinggal di asrama Sekolah Rakyat dan mulai merasa betah. Selain pendidikan gratis, ia juga mendapatkan fasilitas tempat tinggal, makan, dan pakaian.
Bagi Aina, kehadiran Sekolah Rakyat sangat membantu meringankan beban hidupnya sekaligus membuka jalan bagi masa depan Aditya.
Ia berharap Aditya dapat meraih cita-citanya menjadi tentara.
“Saya bilang, alhamdulillah kalau mau jadi tentara. Nanti bisa ikut Pak Presiden Prabowo,” ujarnya.
Aina juga terus mengingatkan Aditya untuk disiplin, patuh, dan menjaga pergaulan selama menempuh pendidikan.
Baca Juga: Gubernur Herman Deru Resmikan Car Free Night Atmo, Dorong Ekonomi dan Hibur Warga Palembang
Di akhir ceritanya, Aina menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Prabowo atas program Sekolah Rakyat yang dinilai sangat membantu.
“Pak Prabowo, terima kasih banyak. Aditya bisa ikut sekolah dan dibantu menggapai cita-citanya. Semoga cita-citanya terkabul,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









