BPS Pakai Citra Satelit Deteksi RW Kumuh di Jakarta

AKURAT.CO Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat masih ada 211 rukun warga (RW) kumuh di Jakarta dari total 2.749 RW. Data tersebut merupakan hasil finalisasi pendataan tahun 2025 yang diperbarui pada 2026, melalui kolaborasi BPS dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) RI, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan pendataan dilakukan dengan metode baru yang mengombinasikan survei lapangan dan teknologi citra satelit berbasis big data.
"Kami menggunakan dua pendekatan, yaitu pendataan langsung di lapangan ditambah dengan kalibrasi melalui metodologi citra satelit," kata Amalia di Balai Kota Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Baca Juga: Jumlah RW Kumuh di Jakarta Turun Jadi 211, Pramono Prioritaskan Penanganan di Jakbar dan Jakut
Menurut dia, penggunaan teknologi tersebut membuat hasil pendataan lebih akurat karena memanfaatkan perkembangan teknologi terkini.
Dia menambahkan, kerja sama ini tidak berhenti pada pendataan semata. Ke depan, Pemprov Jakarta bersama BPS RI akan melanjutkan verifikasi terhadap 1.904 area dengan meninjau lapangan dan mengembangkan citra satelit guna memastikan wilayah yang masih perlu ditinjau lebih lanjut.
Selain itu, BPS dan Pemprov Jakarta juga akan memperluas kolaborasi dalam pendataan ruang terbuka hijau dengan memanfaatkan teknologi citra satelit. "Kami akan melanjutkan kerja sama, termasuk melakukan pendataan terkait ruang terbuka hijau dengan teknologi citra satelit," pungkasnya.
Sebelumnya, Gubernur Jakarta, Pramono Anung, menyebutkan jumlah rukun warga (RW) kumuh di Jakarta mengalami penurunan signifikan dalam satu tahun pemerintahannya.
Baca Juga: Bukan Hanya Pembangunan Fisik, Penataan Kampung Kumuh Harus Cakup Pemberdayaan Sosial
"Kalau mau melihat sederhananya begini, 2017 jumlah RW kumuh itu 445. Dalam satu tahun pemerintahan saya, sekarang ini menjadi 211 RW," kata Pramono, dalam konferensi pers bersama Badan Pusat Statistik (BPS) RI di Balai Kota Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Kendati demikian, dia tidak sepenuhnya mengklaim capaian tersebut sebagai hasil kinerja pemerintahannya. Dia menilai, penurunan tersebut tetap patut disyukuri mengingat kompleksitas persoalan di lapangan yang terus meningkat seiring pertambahan jumlah penduduk.
"Saya tidak mau mengklaim bahwa itu semua adalah hasil dari apa yang kami lakukan. Ada penurunan 52 persen lebih menurut saya sudah hal yang luar biasa dan saya mensyukuri itu," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








