Akurat Logo

Bangkit dari Trauma Banjir, Warga Batang Ara Temukan Harapan Lewat Edukasi Gizi

Saeful Anwar | 11 Mei 2026, 07:49 WIB
Bangkit dari Trauma Banjir, Warga Batang Ara Temukan Harapan Lewat Edukasi Gizi
Warga Gampong Batang Ara, Kabupaten Aceh Tamiang, mulai bangkit setelah diterjang banjir besar pada akhir 2025 lalu.

AKURAT.CO Perlahan namun pasti, warga Gampong Batang Ara, Kabupaten Aceh Tamiang, mulai bangkit setelah diterjang banjir besar pada akhir 2025 lalu.

Meski jejak bencana masih terlihat di berbagai sudut desa, harapan baru mulai tumbuh lewat program edukasi gizi dan pemulihan trauma yang digelar Aisyiyah bersama Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) dan Rangkul Foundation yang digagas Zaskia Adya Mecca.

Banjir yang melanda kawasan tersebut menghancurkan sebagian besar rumah warga.

Banyak bangunan hanyut terbawa arus, sementara ratusan warga terpaksa tinggal di hunian sementara atau membangun pondok darurat di sekitar kebun sawit tempat mereka mencari nafkah.

Datuk atau kepala desa Batang Ara, Amril, menjadi salah satu warga yang memilih kembali ke kampung halamannya.

Dengan memanfaatkan kayu sisa banjir dan material seadanya, ia membangun tempat tinggal sederhana di tengah kebun sawit, tak jauh dari lokasi rumah lamanya yang hilang diterjang arus.

“Rumah lama di sana sudah hanyut,” ujar Amril sambil menunjuk area yang kini dipenuhi puing dan material bekas banjir.

Saat ini, sebagian besar warga masih bergantung pada bantuan kemanusiaan yang jumlahnya mulai menipis.

Kondisi ekonomi masyarakat pun belum pulih karena banyak kebun sawit rusak dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk kembali produktif.

Baca Juga: Apakah Paylater Dapat Menjerat Pengguna ke Pinjol Ilegal? Ini Penjelasannya

“Kalau bisa ke depan bukan hanya bantuan sembako, tapi bantuan yang membuat masyarakat bisa kembali berdaya. Misalnya bibit ternak, pelatihan usaha, atau bantuan ekonomi lainnya,” kata Amril.

Data pemerintah desa mencatat sedikitnya 177 kepala keluarga dengan sekitar 600 jiwa masih membutuhkan perhatian serius, termasuk 51 balita dan puluhan anak usia sekolah.

Di tengah situasi tersebut, program edukasi gizi dan trauma healing digelar untuk membantu pemulihan masyarakat, khususnya ibu dan anak.

Kegiatan itu juga disertai penyaluran 390 paket bantuan berupa kebutuhan balita, paket ibu dan anak, sembako, alat kesehatan, hingga permainan edukatif untuk anak-anak.

Istri Amril, Rahayu, mengaku kegiatan tersebut memberi semangat baru bagi warga yang masih dihantui trauma pascabencana.

“Sejak banjir, jarang ada kegiatan seperti ini. Anak-anak bisa terhibur dan kami merasa masih ada yang peduli,” ujar Rahayu dengan mata berkaca-kaca.

Menurutnya, dampak bencana tidak hanya merusak rumah warga, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis masyarakat.

Ia menyebut ada warga yang mengalami tekanan mental berat hingga kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari.

Rahayu juga menyoroti kondisi balita yang mengalami masalah gizi setelah bencana.

Beberapa ibu kesulitan memberikan ASI karena stres, sementara persediaan susu terbatas sehingga anak-anak hanya diberi makanan atau minuman seadanya.

“Ada bayi yang akhirnya diberi air tajin karena susu tidak ada. Bahkan ada yang muntah-muntah karena minumannya tidak sesuai,” ungkapnya.

Anggota Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, Hirfa Turrahmi, mengatakan edukasi gizi menjadi penting setelah masa tanggap darurat berakhir.

Sebab selama bencana, masyarakat terbiasa mengonsumsi makanan instan dan produk tinggi gula karena alasan praktis.

Baca Juga: Cek Kesehatan Makin Ketat, Kenapa Masih Banyak Jemaah Haji Indonesia Wafat?

“Sekarang kami mengajak masyarakat kembali memahami pola makan bergizi seimbang, termasuk meluruskan pemahaman bahwa kental manis bukan susu,” kata Hirfa.

Hal senada disampaikan Penyuluh Kesehatan Puskesmas Sekerak, Ersyad.

Ia menegaskan susu kental manis tidak boleh dijadikan sumber utama nutrisi anak karena kandungan gulanya sangat tinggi dan proteinnya rendah.

“Kental manis bukan susu untuk pertumbuhan anak. Konsumsinya harus dibatasi agar tidak berdampak buruk bagi kesehatan,” ujarnya.

Melalui kegiatan tersebut, Aisyiyah bersama mitra berharap masyarakat Batang Ara tidak hanya pulih dari dampak fisik bencana, tetapi juga memiliki pemahaman yang lebih baik tentang kesehatan dan gizi anak demi mencegah munculnya masalah kesehatan baru pascabencana.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.