Akurat Logo

Evaluasi Pidato Rais Aam PBNU, Warga Nahdliyin Soroti Akurasi Kutipan dan Kaidah Bahasa Arab

Okto Rizki Alpino | 29 Juni 2026, 13:20 WIB
Evaluasi Pidato Rais Aam PBNU, Warga Nahdliyin Soroti Akurasi Kutipan dan Kaidah Bahasa Arab
Kader NU, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, memberi sejumlah catatan pidato Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, yang disampaikan dalam agenda Munas-Konbes NU di Bangkalan. Foto: Youtube TVNU

AKURAT.CO Evaluasi terhadap jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali mengemuka dari kalangan warga Nahdlatul Ulama (Nahdliyin).

Tokoh kiai kampung sekaligus kader NU, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, memberi sejumlah catatan kritis terhadap pidato Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, yang disampaikan dalam agenda Munas-Konbes NU di Bangkalan beberapa waktu lalu.

Menurut Khalilur, evaluasi tersebut mencakup akurasi kutipan kitab hingga ketepatan penggunaan kaidah bahasa Arab.

"Tulisan dan telaah ini merupakan bagian dari rekam jejak sejarah. Agar warga Nahdliyin dapat menilai secara jernih kualitas figur kepemimpinan yang dibutuhkan untuk membawa PBNU ke depan," ujar Khalilur, melalui keterangan tertulis, Senin (29/6/2026).

Dia menjelaskan bahwa dalam tradisi intelektual pesantren, ketepatan membaca teks Arab berdasarkan kaidah nahwu dan sharaf menjadi tolok ukur penting dalam penyampaian materi keagamaan.

Baca Juga: Jelang Muktamar NU, Dinamika Internal PBNU Jadi Sorotan: Warga Dorong Rekonsiliasi dan Konsolidasi Organisasi

Berdasarkan hasil telaah terhadap tayangan pidato, Khalilur menilai terdapat kekeliruan dalam penyebutan sumber rujukan hadis mengenai kemakmuran sebuah negeri.

"Teks tersebut bersumber dari Kitab Nasihatul Muluk karya Imam Al-Ghazali, namun sumber rujukan aslinya tidak disebutkan sepanjang pidato berlangsung," katanya.

Selain itu, dia menyoroti kesalahan pelafalan tahun Hijriah pada bagian awal pidato.

Menurutnya, saat hendak menyebut tahun 1448 Hijriah, struktur kalimat Arab yang diucapkan justru bermakna 14.048 Hijriah.

"Berdasarkan kaidah ilmu Adad dalam Alfiyah Ibn Malik, penyebutan yang tepat semestinya tsamaniyah wa arba'in wa arba'imi'ah wa alf," ujarnya.

Baca Juga: Warga Nahdliyin Soroti Arah Kepemimpinan PBNU, Dorong Figur Pemersatu Jelang Muktamar ke-35

Khalilur juga mengidentifikasi enam kekeliruan teknis lain. Yang terdiri atas empat kesalahan penempatan harakat dan dua kesalahan pelafalan kata yang dinilai dapat mengubah makna teks asli.

Menurutnya, sejumlah kesalahan tersebut menjadi catatan penting. Mengingat posisi Rais Aam merupakan otoritas tertinggi di Dewan Syuriah PBNU yang merepresentasikan kealiman serta penjagaan tradisi keilmuan Islam.

"Rentetan kekeliruan teknis kebahasaan tersebut menjadi indikator penting mengenai perlunya ketelitian tinggi bagi seorang pemegang otoritas tertinggi di Dewan Syuriah PBNU," ujar Khalilur.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.