Akurat Logo

Daftar Wilayah Terdampak Karhutla di Kalimantan, dari Palangka Raya hingga Penajam

Idham Nur Indrajaya | 20 Agustus 2026, 21:25 WIB
Daftar Wilayah Terdampak Karhutla di Kalimantan, dari Palangka Raya hingga Penajam
(hanya ilustrasi) Daftar wilayah terdampak karhutla di Kalimantan, dari Palangka Raya hingga Penajam, serta dampaknya pada warga - Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengubah aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah Kalimantan. Bukan hanya kualitas udara yang memburuk, asap juga mengganggu jarak pandang, membuat jam sekolah disesuaikan, hingga berdampak pada penerbangan.

Berdasarkan laporan pada 19–20 Agustus 2026, wilayah yang terdampak karhutla antara lain Palangka Raya, Pulang Pisau, Pangkalan Bun dan Kotawaringin Barat, Banjarbaru, Banjarmasin, Kotawaringin Timur, serta Penajam Paser Utara.

Dampak yang dirasakan setiap daerah berbeda. Ada wilayah yang menghadapi kualitas udara sangat buruk, sementara daerah lain mengalami gangguan transportasi, aktivitas pendidikan, hingga kesulitan dalam proses pemadaman.

Daftar Wilayah Terdampak Karhutla di Kalimantan

Berikut sejumlah wilayah di Kalimantan yang dilaporkan terdampak karhutla dan kabut asap pada 19–20 Agustus 2026.

1. Palangka Raya, Kalimantan Tengah

Palangka Raya menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak karhutla cukup luas terhadap aktivitas masyarakat. Kondisi udara di kota tersebut memburuk drastis pada Rabu, 19 Agustus 2026.

Indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) di Palangka Raya dilaporkan mencapai 487 dan masuk kategori berbahaya. Pada saat yang sama, jarak pandang di sejumlah wilayah hanya sekitar 1,4 kilometer akibat pekatnya asap.

Aktivitas sekolah pun ikut disesuaikan. Dinas Pendidikan Palangka Raya menunda jam masuk sekolah untuk jenjang SD dan SMP menjadi pukul 08.00 WIB.

Sementara itu, kegiatan belajar bagi jenjang PAUD dialihkan ke pembelajaran jarak jauh atau daring. Kebijakan tersebut diterapkan sebagai langkah untuk mengurangi paparan asap terhadap siswa, guru, dan tenaga pendidikan.

Kepala Dinas Pendidikan Palangka Raya Jayani menjelaskan bahwa penyesuaian dilakukan karena kondisi kabut asap semakin pekat. Menurutnya, perlindungan kesehatan warga sekolah menjadi prioritas, tetapi kegiatan pembelajaran tetap harus berlangsung.

Situasi tersebut berkaitan dengan tingginya aktivitas titik panas di Kalimantan Tengah. Data yang disebutkan dalam laporan menunjukkan terdapat 1.795 titik panas di Kalteng, dengan 281 di antaranya berada di wilayah Kota Palangka Raya.

Titik panas di Palangka Raya tersebar di sejumlah kecamatan, termasuk Jekan Raya, Sabangau, Bukit Batu, dan Rakumpit.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya Heri Fauzi juga meminta masyarakat meningkatkan perlindungan diri. Warga dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker ketika harus keluar rumah.

2. Pulang Pisau, Kalimantan Tengah

Pulang Pisau juga menjadi salah satu wilayah yang mendapatkan perhatian dalam penanganan karhutla, khususnya di Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya.

Berbeda dengan penyesuaian aktivitas seperti yang terjadi di Palangka Raya, pemerintah daerah Pulang Pisau mulai mendorong langkah pencegahan jangka panjang.

Bupati Pulang Pisau Ahmad Rifa'i meminta pemerintah pusat membantu pembangunan sumur bor permanen di kawasan rawan karhutla. Permintaan tersebut disampaikan ketika Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meninjau penanganan karhutla di Tumbang Nusa pada Rabu, 19 Agustus 2026.

Menurut Ahmad, keberadaan sumber air permanen penting agar masyarakat dan tim penanggulangan kebakaran dapat memperoleh pasokan air dengan lebih cepat ketika api muncul.

Usulan tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya berkaitan dengan memadamkan api setelah kebakaran terjadi. Infrastruktur sumber air juga dipandang penting sebagai bagian dari upaya pencegahan dan respons cepat.

3. Pangkalan Bun dan Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah

Kabut asap juga menyelimuti sejumlah kawasan di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, pada Rabu pagi.

Asap yang semakin pekat mengganggu jarak pandang pengguna jalan. Salah satu kawasan yang terdampak berada di sekitar Bundaran Pangkalan Lima.

Kondisi tersebut membuat pengendara harus mengurangi kecepatan. Warga Pangkalan Bun, Evan Kurniawan, menggambarkan jarak pandang yang terganggu sebagai salah satu risiko utama karena kendaraan di depan tidak selalu terlihat dengan jelas dari jarak aman.

Di wilayah Kotawaringin Barat lainnya, kebakaran lahan dilaporkan terjadi di kawasan Paring Kuning, Kecamatan Kumai, pada Rabu siang.

Kebakaran tersebut diduga dipicu oleh puntung rokok yang dibuang sembarangan oleh pengendara. Dugaan tersebut muncul karena lokasi kebakaran berada di kawasan yang cukup sering dilalui kendaraan.

BPBD Kotawaringin Barat kemudian menyiapkan petugas untuk menuju lokasi dan melakukan penanganan.

Baca Juga: Buntut Kebakaran di TPS Liar Kramat Jati, Pemprov Jakarta Telusuri Rantai Pembuangan Sampah Ilegal

Baca Juga: Pabrik Amunisi di Dekat Roma Italia Meledak, Petugas Berjibaku Padamkan Kebakaran

4. Banjarbaru, Kalimantan Selatan

Kabut asap juga semakin parah di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Mulai Kamis, 20 Agustus 2026, jam masuk sekolah di Banjarbaru disesuaikan menjadi pukul 09.00 Wita bagi satuan pendidikan yang terdampak.

Kebijakan tersebut berlaku untuk sekolah di bawah naungan Dinas Pendidikan Banjarbaru, mulai PAUD-TK, SD, hingga SMP. Sekolah yang berada di kawasan dengan kondisi kabut asap lebih parah juga diminta melakukan penyesuaian secara situasional.

Kepala Dinas Pendidikan Banjarbaru Abdul Basid menjelaskan bahwa pembelajaran di sekolah terdampak dapat dimulai pukul 09.00 Wita. Sementara itu, tenaga pendidik tetap menjalankan tugas sesuai jam kerja yang telah ditetapkan.

Penyesuaian ini memperlihatkan bahwa dampak karhutla tidak selalu berbentuk penutupan sekolah. Pemerintah daerah dapat mengubah jam kegiatan belajar sebagai upaya menyesuaikan aktivitas dengan kondisi udara.

5. Banjarmasin, Kalimantan Selatan

Banjarmasin juga menghadapi dampak kabut asap karhutla. Selain persoalan kualitas udara, kondisi tersebut sempat berpengaruh terhadap aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Syamsudin Noor.

Pada Rabu, 19 Agustus 2026, sebanyak 12 penerbangan di bandara tersebut sempat terdampak asap tebal. Sejumlah penerbangan mengalami penundaan karena jarak pandang terganggu.

General Manager Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin Stephanus Millyas Wardana menyatakan seluruh penerbangan yang sebelumnya terdampak akhirnya dapat kembali berangkat menuju tujuan masing-masing.

Di sisi lain, Polresta Banjarmasin menggelar salat Istisqa sebagai salah satu bentuk ikhtiar menghadapi kondisi kemarau dan karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan.

Kapolresta Banjarmasin Kombes Riza Muttaqin menjelaskan bahwa selain ikhtiar tersebut, kepolisian tetap melakukan langkah lapangan seperti edukasi mengenai karhutla dan membantu distribusi air bersih ke wilayah terdampak.

6. Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah

Karhutla juga masih terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Dalam kondisi tertentu, tidak semua titik kebakaran dapat segera dijangkau petugas. Situasi tersebut membuat warga ikut terlibat sebagai relawan untuk membantu memadamkan api.

Salah satunya adalah Rizky Mubarrak, relawan asal Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Ia membantu pemadaman kebakaran di kawasan Baamang sekitar Semekto.

Namun, upaya tersebut berujung pada gangguan kesehatan. Rizky harus dibawa ke IGD RSUD dr Murjani Sampit setelah mengalami sesak napas dan kelelahan.

Camat Mentawa Baru Ketapang Irpansyah menyebut kondisi tersebut diduga berkaitan dengan paparan asap tebal dan kelelahan setelah Rizky berada selama berjam-jam di lokasi kebakaran.

Kasus ini memperlihatkan bahwa dampak karhutla juga menyentuh orang-orang yang berada di garis depan penanganan kebakaran, termasuk relawan masyarakat.

7. Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur

Di Kalimantan Timur, karhutla dilaporkan terjadi di Kelurahan Sepan, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara.

Tim gabungan berhasil memadamkan kebakaran yang menghanguskan lahan seluas 10,65 hektare. Proses penanganan berlangsung sejak Rabu, 19 Agustus, hingga pagi berikutnya.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Penajam Paser Utara Nurlaila menjelaskan bahwa material yang terbakar berupa lahan mineral yang ditumbuhi semak belukar dan pepohonan serta terdapat tumpukan kayu.

Sinyal titik panas sebelumnya diterima dari Lembuswana sekitar pukul 10.00 Wita. Setelah dilakukan pengecekan oleh petugas, ditemukan beberapa titik api yang mulai meluas.

Petugas kemudian berkoordinasi dengan Damkar Sotek dan berbagai unsur lainnya untuk melakukan pemadaman.

Proses pemadaman dan pendinginan selesai sekitar pukul 00.00 Wita. Namun, sejumlah bara dan titik asap masih ditemukan sehingga tim kembali melakukan pengecekan serta pendinginan pada pagi hari.

Operasi tersebut melibatkan unsur pemerintah daerah, aparat keamanan, pengelola kehutanan, pihak swasta, dan masyarakat.

Apa Dampak Karhutla yang Paling Terasa di Kalimantan?

Jika berbagai laporan daerah tersebut dibandingkan, dampak karhutla di Kalimantan tidak hanya terlihat dari luas lahan yang terbakar.

Beberapa dampak yang paling terlihat adalah:

  • Kualitas udara memburuk, terutama di Palangka Raya.

  • Aktivitas sekolah berubah, seperti di Palangka Raya dan Banjarbaru.

  • Jarak pandang terganggu, seperti yang terjadi di Pangkalan Bun.

  • Penerbangan terdampak, seperti di Bandara Syamsudin Noor.

  • Kesehatan relawan terganggu, seperti kasus di Kotawaringin Timur.

  • Kebutuhan sumber air meningkat, sehingga muncul dorongan pembangunan sumur bor permanen di Pulang Pisau.

  • Lahan terbakar dalam skala tertentu, seperti 10,65 hektare di Penajam Paser Utara.

Artinya, dampak karhutla tidak dapat hanya diukur dari jumlah hektare yang terbakar. Gangguan terhadap aktivitas masyarakat menjadi indikator lain yang menunjukkan seberapa jauh efek kebakaran menjalar ke kehidupan sehari-hari.

Mengapa Dampak Karhutla Berbeda di Setiap Wilayah?

Dampak karhutla dapat berbeda antara satu daerah dan daerah lainnya karena kondisi setiap lokasi tidak sama.

Wilayah yang berdekatan dengan pusat aktivitas masyarakat dapat lebih cepat merasakan gangguan asap. Kepadatan aktivitas, kondisi cuaca, arah pergerakan asap, serta jarak antara sumber kebakaran dengan permukiman dan fasilitas publik turut menentukan bentuk dampaknya.

Karena itu, sebuah wilayah mungkin tidak menjadi lokasi kebakaran dengan luas terbesar, tetapi tetap mengalami dampak serius jika asap bergerak menuju kawasan permukiman atau fasilitas transportasi.

Palangka Raya menjadi contoh yang jelas. Dalam laporan yang sama, persoalan yang muncul mencakup kualitas udara, jarak pandang, pendidikan, dan perlindungan kesehatan masyarakat.

Sementara itu, di Banjarmasin, dampak yang terlihat pada sektor transportasi adalah terganggunya penerbangan akibat jarak pandang.

Dari Sekolah hingga Bandara, Begini Karhutla Mengubah Aktivitas Warga

Salah satu gambaran paling jelas dari situasi karhutla di Kalimantan adalah perubahan rutinitas masyarakat.

Di Palangka Raya, sekolah harus menunda jam masuk SD dan SMP, sedangkan PAUD menjalankan pembelajaran jarak jauh. Di Banjarbaru, jam masuk sekolah juga diundur menjadi pukul 09.00 Wita untuk satuan pendidikan yang terdampak.

Di jalan raya, warga Pangkalan Bun harus lebih berhati-hati karena asap mengurangi jarak pandang. Sementara itu, di Bandara Syamsudin Noor, 12 penerbangan sempat terdampak akibat kondisi jarak pandang.

Dampak lainnya terlihat di Kotawaringin Timur. Relawan yang ikut memadamkan kebakaran bahkan harus mendapatkan perawatan setelah mengalami sesak napas dan kelelahan.

Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa karhutla telah menjadi persoalan lintas sektor. Dampaknya dapat masuk ke pendidikan, transportasi, kesehatan, dan aktivitas ekonomi dalam waktu yang hampir bersamaan.

Apa yang Bisa Dibaca dari Persebaran Dampak Karhutla Ini?

Ada satu hal penting dari daftar wilayah tersebut: karhutla tidak harus berada tepat di tengah kota untuk mengganggu kehidupan masyarakat kota.

Asap dapat memengaruhi kualitas udara dan jarak pandang, sementara kebijakan pemerintah kemudian harus menyesuaikan aktivitas masyarakat.

Dalam konteks tersebut, keberhasilan penanganan karhutla bukan hanya soal seberapa cepat api dipadamkan. Kemampuan mencegah api meluas, menyediakan sumber air, menjaga masyarakat dari paparan asap, dan mempertahankan aktivitas publik dengan aman juga menjadi bagian penting dari respons.

Usulan sumur bor permanen di Pulang Pisau memberikan gambaran mengenai kebutuhan tersebut. Pemerintah daerah tidak hanya memikirkan penanganan ketika api sudah muncul, tetapi juga bagaimana memastikan sumber air tersedia ketika kebakaran kembali terjadi.

Ilustrasi: Ketika Satu Karhutla Mengganggu Banyak Aktivitas

Sebagai ilustrasi, bayangkan seorang warga yang tinggal di wilayah terdampak asap.

Pada pagi hari, ia mungkin harus menyesuaikan perjalanan karena jarak pandang berkurang. Anak di rumah bisa mengalami perubahan jadwal sekolah. Jika harus bepergian menggunakan pesawat, jadwal penerbangan juga berpotensi terdampak ketika kondisi jarak pandang memburuk.

Skenario tersebut menunjukkan bagaimana satu persoalan lingkungan dapat berkembang menjadi persoalan sosial ketika dampaknya mencapai fasilitas publik dan aktivitas sehari-hari.

Penutup

Persebaran karhutla di Kalimantan pada 19–20 Agustus 2026 memperlihatkan bahwa dampak kebakaran tidak berhenti di kawasan yang terbakar. Ketika sekolah mengubah jadwal, bandara mengalami gangguan, pengendara menghadapi jarak pandang terbatas, dan relawan harus mendapatkan perawatan, persoalan karhutla telah masuk ke berbagai sisi kehidupan masyarakat.

Daftar wilayah terdampak juga menunjukkan bahwa setiap daerah menghadapi persoalan yang berbeda. Karena itu, penanganan karhutla membutuhkan kombinasi antara respons cepat saat api muncul dan pencegahan jangka panjang sebelum kebakaran terjadi.

Pantau terus perkembangan karhutla dan kondisi kualitas udara di wilayah masing-masing, terutama ketika aktivitas di luar ruangan masih diperlukan.

Baca Juga: Dua Tentara AS Tewas, Helikopter Apache Fort Hood Jatuh di Texas hingga Picu Kebakaran

Baca Juga: Pratikno Cek Langsung Kebakaran Bromo, Dua Titik Api Jadi Fokus Pemadaman

FAQ

Wilayah mana saja yang terdampak karhutla di Kalimantan?

Wilayah yang dilaporkan terdampak dalam narasi ini meliputi Palangka Raya, Pulang Pisau, Pangkalan Bun dan Kotawaringin Barat, Banjarbaru, Banjarmasin, Kotawaringin Timur, serta Penajam Paser Utara. Dampaknya berbeda-beda, mulai dari kabut asap, kualitas udara buruk, gangguan sekolah dan penerbangan hingga aktivitas pemadaman.

Daerah mana yang mengalami kabut asap akibat karhutla?

Kabut asap dilaporkan berdampak pada sejumlah wilayah seperti Palangka Raya, Pangkalan Bun, Banjarbaru, dan Banjarmasin. Kondisi asap juga mengganggu jarak pandang dan aktivitas masyarakat di beberapa lokasi.

Apa dampak karhutla terhadap sekolah di Kalimantan?

Di Palangka Raya, jam masuk SD dan SMP ditunda menjadi pukul 08.00 WIB, sedangkan PAUD dialihkan ke pembelajaran jarak jauh. Di Banjarbaru, sekolah terdampak dapat memulai pembelajaran pukul 09.00 Wita.

Apakah karhutla mengganggu penerbangan di Kalimantan?

Ya. Pada 19 Agustus 2026, sebanyak 12 penerbangan di Bandara Internasional Syamsudin Noor Banjarmasin sempat terdampak asap tebal. Sejumlah penerbangan mengalami penundaan karena jarak pandang terganggu.

Berapa luas karhutla di Penajam Paser Utara?

Kebakaran hutan dan lahan di Kelurahan Sepan, Kecamatan Penajam, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, membakar lahan seluas 10,65 hektare berdasarkan laporan yang diberikan.

Mengapa kabut asap karhutla berbahaya bagi masyarakat?

Kabut asap dapat menurunkan kualitas udara dan mengganggu jarak pandang. Dalam laporan ini, kondisi tersebut terlihat dari AQI Palangka Raya yang mencapai 487, sementara seorang relawan di Kotawaringin Timur harus mendapat perawatan setelah mengalami sesak napas dan kelelahan ketika membantu pemadaman.

Apa yang dilakukan pemerintah untuk menangani karhutla?

Penanganan dilakukan melalui pemadaman dan pendinginan oleh tim gabungan, edukasi kepada masyarakat, distribusi air bersih, penyesuaian kegiatan sekolah, serta upaya pencegahan seperti usulan pembangunan sumur bor permanen di kawasan rawan karhutla.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.