Contoh Naskah Khutbah Jumat 23 Mei 2025: Kurban Tanda Penyerahan Diri Sepenuhnya kepada Allah!

AKURAT.CO Contoh naskah khutbah Jumat 23 Mei 2025, membahas tema seputar bulan Dzulhijjah yang penuh makna, terutama menyambut datangnya Hari Raya Idul Adha.
Salah satu topik yang bisa dibahas dalam naskah khutbah Jumat 23 Mei 2025 kali ini yaitu tentang ketulusan dan keikhlasan Nabi Ismail.
Banyak hal menarik dari naskah khutbah Jumat yang membahas Idul Adha karena akan menarik perhatian orang lebih banyak tertuju pada sosok Nabi Ibrahim.
Baca Juga: Naskah Khutbah Jumat: Memaknai Bulan Dzulqa’dah di Tengah Era Teknologi dan Digital
Nabi Ibrahim dikenal sebagai sosok ayah yang menerima perintah dari Allah untuk mengorbankan anaknya.
Bukan hanya Nabi Ibrahim, melainkah keteguhan hati dan kerelaan Nabi Ismail Juga merupakan pelajaran besar yang patut kita renungkan.
Berikut contoh naskah khutbah Jumat 23 Mei 2025 yang bermanfaat dan penuh makna.
Naskah Khutbah Jumat 23 Mei 2025
Baca Juga: Naskah Khutbah Jumat: Cara Memuliakan Bulan Dzulqa’dah dalam Islam
الْحَمْدُ لِلَّهِ الْمُنْعِمِ عَلَى مَنْ أَطَاعَهُ وَاتَّبَعَ رِضَاهُ، الْمُنْتَقِمِ مِمَّنْ خَالَفَهُ وَعَصَاهُ الَّذِي يَعْلَمُ مَا أَظْهَرَهُ الْعَبْدُ وَمَا أَخْفَاهُ، الْمُتَكَفِّلُ بِأَرْزَاقِ عِبَادِهِ فَلَا يَتْرُكُ أَحَدًا مِنْهُمْ وَلَا يَنْسَاهُ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى مَا أَعْطَاهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةَ عَبْدٍ لَمْ يَخْشَ إِلا الله، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الَّذِي اخْتَارَهُ اللهُ وَاصْطَفَاهُ اللَّهُمَّ صَلَّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاهُ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ ، وَتَفَكَّرُوا فِي نِعَمِ رَبِّكُمْ واشْكُرُوهُ، وَاذْكُرُوا آلَاءَ اللهِ وَتَحَدَّثُوا بِفَضْلِهِ وَلَا تَكْفُرُوْهُ، قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَهُوَ أَصْدَقُ الْقَائِلِينَ، أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ { إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ، فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ، إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ، صَدَقَ اللهُ الْعَظِيمِ وَصَدَقَ رَسُولُهُ الْحَبِيبُ الْكَرِيمُ وَنَحْنُ عَلَى ذَلِكَ مِنَ الشَّاهِدِينَ وَالشَّاكِرِينَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، أَمَّا بَعْدُ
Hadirin sidang Jumah rahimakumullah Puji dan syukur marilah kita panjatkan kepada Allah swt. Dzat yang maha mengatur dan memberi nikmat kepada kita semua.
Terutama nikmat panjang umur, nikmat sehat, dan iman-islam, sehingga pada kesempatan ini kita bisa bersama-sama menunaikan shalat Jumat berjamaah.
Semoga setiap langkah kaki menuju tempat ini dan setiap amaliah yang kita tunaikan pada kesempatan ini senantiasa mendapat rida Allah swt.
Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Baginda Alam, Nabi Besar Muhammad saw. Nabi pembawa rahmat ke seluruh alam, sekaligus Nabi pembawa cahaya ketauhidan di tengah gelapnya kesyirikan.
Shalawat dan salam juga semoga tercurah kepada keluarganya, para sahabatnya, tabiin dan tabiaatnya, hingga kepada kita selaku umatnya yang senantiasa berharap syafaatnya kelak di hari Kiamah.
Sidang Jumah yang dimulyakan Allah Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita sama-sama meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt. Takwa dalam arti imtisalul awamir wajtinabun nawaahi atau menunaikan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Sebab, tidak ada bekal paling baik menghadapi perjalanan hidup ini selain ketakwaan kepada Allah swt. Tidak ada hamba paling mulia di sisi-Nya selain hamba yang bertakwa kepada Allah.
Hadirin kaum Muslimin Cikal bakal pensyariatan ibadah kurban berawal dari peristiwa Nabi Ibrahim yang hendak menyembelih putranya Ismail alaihissalam.
Baca Juga: 7 Teks Naskah Khutbah Jumat Bulan Dzulqa’dah
Kala itu Nabi Ibrahim ikhlas menyanggupi perintah Allah sebagai bentuk kepasrahan dan kepatuhan total kepada-Nya. Perintah itu diterima langsung melalui mimpinya, sebagaimana yang dilansir dalam Al-Quran.
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرى فِي الْمَنامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Artinya, “Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar,” (QS. ash-Shafat [37]:102).
Mendapat informasi demikian dari ayahnya, Nabi Ismail pun tak gentar sedikit pun. Ia justru meminta Sang Ayah untuk menyanggupinya.
Hal itu jelas terlihat dalam bunyi ayat di atas, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah, engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Mendapat kesanggupan itu, Nabi Ibrahim bergegas menajamkan pisau dan membaringkan putranya Ismail untuk disembelih.
Namun, goresan pisau Ibrahim di leher Ismail ternyata tak membekas apa-apa. Sebab, begitu cepat Allah mengganti leher Ismail dengan leher kambing.
Rupanya, perintah Allah pada Ibrahim untuk menyembelih putranya hanyalah ujian. Intinya, Ibrahim telah membenarkan mimpinya.
Ibrahim sudah terbukti hamba yang ikhlas menjalankan perintah Allah. Itu terbukti dari seruan Allah kepada mereka berdua, sebagaimana termaktub dalam surah ash-Shaffat.
وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ ، قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ، إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ ، وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
Artinya: Dan Kami panggillah dia, “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikian Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar,” (QS. ash-Shafat [37]: 104-107).
Peristiwa penyembelihan ini kemudian menjadi cikal bakal pensyariatan ibadah kurban yang dikukuhkan dalam syariat umat Nabi Muhammad dan selalu mereka peringati di setiap Hari Raya Idul Adha atau Idul Kurban.
Berkurban sendiri merupakan konsekuensi dan kepatuhan kita sebagai hamba. Pada hakikatnya, apa pun yang Allah perintahkan, harus kita tunaikan, meskipun harus mengorbankan sesuatu yang paling berharga sekalipun, baik berupa jiwa, raga, waktu, harta dan sebagainya seperti halnya yang dicontohkan Nabi Ibrahim yang mengorbankan putra kesayangannya.
Baca Juga: Khutbah Jumat Bulan Syawal: Menjaga Spirit Ibadah Pasca Bulan Ramadhan
Hadiri sekalian, ibadah kurban merupakan ibadah penting. Bahkan, dalam hadis dijelaskan bahwa amalan yang paling bagus dilakukan pada saat hari raya Idul Adha adalah iraqutud dam atau menyembelih hewan kurban.
Karena itu, jika kita mampu maka tunaikanlah ibadah kurban tersebut. Ibadah kurban merupakan wujud kesadaran dan kepasrahan hamba yang tidak memiliki apa-apa dan tidak memiliki kekuasaan apa-apa.
Ingatlah apa yang dipasrahkan Nabi Ibrahim berupa anak tercinta, Ismail, walau kemudian diganti oleh Allah dengan domba.
Lantas, kapan kita diperintah untuk menyembelih hewan kurban? Sebagaimana yang telah disinggung, pelaksanaan kurban adalah pada Hari Raya Idul Adha, yakni pada tanggal ke-10 Dzulhijjah ditambah tiga hari Tasyriq, yaitu tanggal ke-11, ke-12, dan ke-13.
Semoga kita termasuk orang-orang yang pasrah dan berserah terhadap perintah Allah. Apa pun yang Allah perintahkan, termasuk perintah berkurban dengan harta kita, kita mampu menunaikannya.
Mari bersiap menyambut perintah kurban pada waktunya. Sesungguhnya, dengan berkurban, kita tidak akan pernah rugi. Dengan kurban, kita terlepas dari sifat kikir dan jauh dari sifat-sifat kehewanan.
Sesungguhnya Allah pasti sudah menyiapkan balasan dan keberkahan bagi siapa pun yang menjalankan perintah-Nya. Semoga kita termasuk di dalamnya. Amin ya rabbal alamin.
Itulah contoh naskah khutbah Jumat hari ini yang menarik, karena cocok dalam menyambut bulan Idul Adha.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









