Akurat
Pemprov Sumsel

Ratusan Juta Dolar Dijanjikan Untuk Kredit Karbon Afrika Di KTT Iklim

Sulthony Hasanuddin | 5 September 2023, 11:22 WIB
Ratusan Juta Dolar Dijanjikan Untuk Kredit Karbon Afrika Di KTT Iklim

AKURAT.CO Sebuah inisiatif untuk meningkatkan produksi kredit karbon Afrika hingga 19 kali lipat pada tahun 2030 telah menarik ratusan juta dolar dalam bentuk perjanjian pada Senin (4/9/2023).

Hal tersebut disepakati ketika Presiden Kenya, William Ruto, membuka pertemuan iklim pertama di benua tersebut.

Dalam salah satu kesepakatan yang paling ditunggu-tunggu, para investor dari Uni Emirat Arab (UEA) berkomitmen untuk membeli 450 juta dolar kredit karbon dari Prakarsa Pasar Karbon Afrika (ACMI) yang diluncurkan pada KTT COP27 di Mesir tahun lalu.

Dalam acara pertemuan itu, William Ruto mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi hijau bukan hanya sebuah keharusan iklim namun juga sumber peluang ekonomi bagi Afrika dan dunia.

"Kita harus melihat bahwa pertumbuhan ekonomi hijau bukan hanya sebuah keharusan iklim, tetapi juga merupakan sumber peluang ekonomi bernilai miliaran dolar yang dapat dimanfaatkan oleh Afrika dan dunia," kata Ruto kepada para delegasi, dikutip Selasa (5/9/2023).

Para pemimpin Afrika mendorong instrumen pembiayaan berbasis pasar, seperti kredit karbon atau offset yang dapat dihasilkan dari proyek-proyek yang mengurangi emisi.

Kredit karbon itu kemudian dapat dibeli oleh perusahaan untuk mengimbangi emisi yang tidak dapat mereka kurangi dari kegiatan operasional mereka untuk membantu memenuhi target iklim.

Diketahui, satu kredit setara dengan penghematan atau penghindaran satu ton karbon dioksida.

KTT Iklim Menjadi Ajang Unjuk Gigi di Afrika

Penyelenggara pertemuan tiga hari di Nairobi ini dikatakan William Ruto sebagai ajang untuk menunjukkan bahwa Afrika adalah tujuan investasi iklim dan bukannya korban banjir, kekeringan atau kelaparan.

Pemerintah-pemerintah Afrika melihat kredit karbon dan instrumen pendanaan berbasis pasar lainnya sebagai hal yang penting untuk memobilisasi pendanaan yang selama ini lambat datang dari negara-negara donor yang kaya.

Pasar penggantian kerugian bernilai sekitar 2 miliar dollar AS atau setara Rp31,4 triliun pada tahun 2021, Shell juga Boston Consulting Group bersama-sama memperkirakan pada bulan Januari bahwa pasar tersebut dapat mencapai antara 10 miliar dan 40 miliar dollar AS pada tahun 2030.

Beberapa pembicara dalam pertemuan tersebut mengatakan bahwa mereka hanya melihat sedikit kemajuan dalam percepatan pendanaan iklim karena para investor masih menganggap benua Afrika terlalu berisiko.

Hal tersebut juga dibuktikan dengan sebuah laporan dari lembaga nirlaba Climate Policy Initiative, bahwa Afrika sendiri hanya menerima sekitar 12% dari dana yang dibutuhkan untuk mengatasi dampak iklim.

Kevin Kariuki, seorang wakil presiden di Bank Pembangunan Afrika mengatakan bahwa kesepakatan yang diumumkan kemarin sangat disambut baik tetapi tidak cukup.

Kariuki menjelaskan bahwa negara-negara Afrika lantas akan mendorong perluasan hak penarikan khusus di Dana Moneter Internasional mereka pada pertemuan iklim PBB COP28 di Dubai akhir November nanti.

Dana tersebut dapat membuka pendanaan iklim senilai 500 miliar dollar AS dan bahkan dapat ditingkatkan hingga lima kali lipat.

Lebih dari 20 presiden dan kepala pemerintahan diperkirakan akan menghadiri pertemuan KTT Iklim di Nairobi itu mulai hari Selasa (5/9/2023). Mereka berencana untuk mengeluarkan deklarasi yang menguraikan posisi Afrika menjelang konferensi iklim PBB akhir bulan ini dan COP28.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.