Strategi China Atasi Polusi Udara Bikin Indonesia Kena Getahnya

AKURAT.CO Berbicara mengenai polusi udara, Indonesia bukan satu-satunya negara yang menghadapi persoalan ini.
Banyak negara yang juga sedang dan pernah menghadapi hal serupa, salah satunya China.
China mengalami polusi udara ekstrem pada 2013. Kala itu, China mencatat rata-rata 52,4 mikrogram (µg) per meter kubik (m3) partikel polutan PM2,5, angka yang lebih banyak sepuluh kali dari batas yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Untuk menangani situasi itu, pemerintah China mendeklarasikan perang melawan polusi udara. Pada akhir 2013, pemerintah mengimplementasikan perang melawan polusi udara dengan menganggarkan uang sebesar Rp4 triliun. Anggaran ini ditambah lagi oleh Dewan Kota Beijing sebesar Rp1,8 triliun.
Baca Juga: Tips Hadapi Polusi Udara Dengan Fitur Canggih Galaxy Watch6 Series
Hasilnya, menurut studi yang dipublikasikan oleh Energy Policy Institute (EPIC) dari Universitas Chicago, China berhasil mengurangi jumlah partikel udara yang merugikan sebanyak 40 persen hanya dalam kurun waktu tujuh tahun, terhitung sejak 2013 hingga 2020.
Faktanya, kurun waktu tujuh tahun adalah waktu yang terbilang sangat singkat untuk menurunkan polusi udara ekstrem. Jika dibandingkan, Amerika Serikat membutuhkan waktu tiga dekade atau sekitar 30 tahun untuk mencapai jumlah penurunan polusi yang sama dengan China sejak kebijakan menurunkan emisi industri dan kendaraan pada 1970.
Lalu bagaimana China melakukan penurunan polusi udara yang begitu signifikan dengan waktu sangat singkat?
Menutup PLTU Batu Bara dan Pabrik Semen
Penutupan PLTU batu bara di Beijing dan sekitarnya dilakukan secara bertahap sejak 2013. Pada 2017 tercatat sebanyak 27 tambang batu bara di provinsi Shanxi yang merupakan produsen batubara terbesar di China, di tutup. Kemudian pada 2018, satu-satunya pembangkit listrik batu bara yang tersisa di China akhirnya di tutup. Pemerintah China juga membatalkan rencana membangun 103 pembangkit listrik baru.
Baca Juga: Soal Polusi Udara, Publik Diimbau Ikuti Data Pemerintah
Meski batu bara merupakan sumber utama listrik di China, namun menurut data resmi China, negara itu telah berhasil menurunkan sekitar 67,4 persen keseluruhan produksinya pada 2013 menjadi 56,8 persen pada 2020.
Alhasil, pada 2017 energi terbarukan mewakili seperempat dari total pembangkit listrik negara China. Ini bahkan melampaui Amerika Serikat yang hanya memiliki 18 persen pada tahun yang sama.
China juga mempromosikan energi nuklir. Pada 2016 hingga 2020, bahkan meningkatkan kapasitas energi nuklir sebanyak dua kali lipat menjadi 47 GW dengan 20 pembangkit energi nuklir baru.
Pembatasan Mobil
China melakukan kebijakan mengurangi kapasitas produksi besi dan baja yang berkurang hingga 115 juta ton dalam kurun waktu satu tahun, terhitung sejak 2016-2017. Tentu saja kendaraan bermesin juga menjadi sasaran untuk mengurangi polusi udara ini.
Di Beijing, Guangzhou, Shanghai dan kota-kota besar lainnya, jumlah mobil yang beroperasi dibatasi dengan kuota harian dan jumlah pelat nomor baru dibatasi setiap tahunnya. Namun langkah ini tidak terlalu berpengaruh signifikan karena jumlah kendaraan terus bertambah.
Namun pemerintah tak menyerah. Kebijakan baru dibuat dengan memperketat standar dan pada 2017 menghentikan 553 model kendaraan produksi lokal dan asing yang dinilai menghasilkan polusi tinggi.
Imbas Bagi Indonesia
Strategi China untuk mengurangi polusi udara dengan menutup PLTU batu bara dan industri semen ternyata tidak sepenuhnya mematikan operasional perusahaan penyebab polusi udara itu. China menyiasatinya dengan ‘memindahkan’ industri semen dan batu bara itu ke negara lain, salah satunya Indonesia.
Ekspansi perusahaan semen dan PLTU batu bara China ke Indonesia itu bisa dibaca sebagai politik membuang industri kotor ke negara miskin dan berkembang atau yang dikenal dengan politik not in my backyard.
Politik not in my backyard ini ternyata telah lama dipraktikkan negara maju seperti negara-negara Eropa, Amerika, Jepang, dan termasuk China. Diketahui, berdasar Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) pada 2022, China menyandang status negara produsen semen terbesar di dunia dengan total produksi 2,1 miliar metrik ton.
Berdasarkan catatan Asosiasi Semen Indonesia, pada 2018 tercatat ada 14 perusahaan semen yang beroperasi di Indonesia. Angka ini mengalami peningkatan dua kali lipat, terhitung sejak tahun 2014.
Perusahaan semen asal China yang beroperasi di Indonesia pada 2018 sendiri ada enam seperti dilansir melalui CNBC, yakni Conch Cement, Jui Shin, Panasia, Haohan Cement, Cement Hippo atau Sun Fook Cement dan Hongshi Holding Group.
Meski ekspansi pabrik semen bukan satu-satunya solusi untuk memperbaiki kualitas udara, namun usaha ini menguntungkan bagi China karena terbukti berhasil menurunkan rata-rata lebih dari 40 persen polusi di China. (Adinda Shafa Afriasti)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









