Mengenal Etnis Rohingya Korban Konflik Di Myanmar, Kini Ngungsi Di Indonesia

AKURAT.CO Etnis Rohingya di Myanmar merupakan kelompok minoritas beragama Islam yang tinggal di Provinsi Arakan, kini dikenal sebagai Provinsi Rakhine, di sisi barat laut Myanmar yang berbatasan dengan Bangladesh.
Rohingya bisa dikatakan sebagai warga Muslim pertama yang menginjakkan kaki di Myanmar sekitar sejak tahun 1430.
Baca Juga: Lagi! 184 Pengungsi Rohingya Berlabuh di Aceh, Media Asing Sebut 'Karena Indonesia Ramah'
Etnis Rohingya diyakini memiliki latar belakang keturunan campuran, dari Arab, Moor, Turki, Persia, Mughal, dan Pathan, bersama dengan Bengali lokal dan Rakhine.
Mereka berbicara dengan menggunakan versi Chittagonian, dialek regional Bengali yang umum digunakan di sebagian besar wilayah tenggara Bangladesh.
Setelah Myanmar merdeka, khususnya selama kepemimpinan Jenderal Aung San, etnis Rohingya memainkan peran dalam pemerintahan Myanmar.
Bahkan, beberapa anggota etnis Rohingya ada yang menjadi menteri di pemerintahan Myanmar pada periode tahun 1940-1950.
Tetapi, pada tahun 1962 ketika Jenderal Ne Win melakukan kudeta dan akhirnya menjabat sebagai Presiden di Myanmar, sistem politik negara itu berubah menjadi lebih otoriter.
Konflik antar etnis di Myanmar sering kali muncul dan itu berlangsung sejak tahun 1991 hingga saat ini.
Ada banyak faktor yang menjadi penyebab awal dari konflik yang berkelanjutan ini, termasuk kasus pemerkosaan, diskriminasi terhadap warga minoritas, dan masalah identitas etnis.
Etnis Rohingya sering kali mengalami diskriminatif yang disebabkan oleh status mereka yang dianggap sebagai imigran ilegal di Myanmar.
Pemerintah Myanmar menolak memberikan pengakuan dan status kewarganegaraan kepada etnis Rohingya. Akibatnya, mereka mengalami keterbatasan dalam akses ke pendidikan, layanan kesehatan, dan bahkan pekerjaan yang layak.
Tidak hanya itu, terdapat pula rasa cemburu dari etnis Rakhine terhadap etnis Rohingya. Rasa cemburu ini timbul karena populasi etnis Muslim Rohingya terus bertambah selama beberapa tahun terakhir.
Bagi mereka, kehadiran etnis Rohingya dianggap sebagai gangguan.
Keberadaan Rohingya dianggap sebagai ancaman terhadap hak atas lahan dan ekonomi, terutama di wilayah Arakan, Rakhine, yang merupakan pusat kehidupan etnis Muslim Rohingya.
Kehadiran etnis Rohingya di Provinsi Rakhine terancam oleh tindakan sewenang-wenang seperti penjarahan, penghancuran tempat tinggal, pembakaran masjid, dan kasus pemerkosaan.
Sejak saat itu, tingkat kebencian warga Muslim Rohingya pada etnis Rakhine semakin meningkat, dan konflik antara keduanya sering kali mengakibatkan kerusakan dan pertikaian berkepanjangan di Provinsi Rakhine.
Baca Juga: Detik-detik Pengungsi Rohingya Mendarat di Indonesia, Terkapar Kelaparan dalam Tangisan Pilu
Pada periode Juni-Agustus tahun 2012, konflik antara etnis Rohingya dan Rakhine mulai mencuat ke dunia internasional. Pemberitaan ini memicu kemarahan dari etnis Rakhine.
Kemudian pada bulan Juli 2012, terjadi serangkaian pembakaran besar-besaran terhadap pemukiman yang ditempati oleh etnis Rohingya, disertai dengan serangan dari etnis Rakhine
Bahkan, ada dugaan bahwa aparat militer dan kepolisian Myanmar ikut terlibat dalam memprovokasi konflik antara kedua etnis tersebut, serta terlibat dalam serangan terhadap pemukiman Rohingya.
Sejumlah organisasi, seperti Amnesty Internasional dan lembaga Hak Asasi Manusia global, menilai bahwa pemerintah Myanmar telah secara sistematis melakukan diskriminasi terhadap etnis Rohingya, dan mengakibatkan penderitaan yang berkelanjutan bagi komunitas tersebut. (Almira Ramadhani)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.








