Sultan Ibrahim dari Negara Bagian Johor Dilantik sebagai Raja Ke-17 Malaysia

AKURAT.CO Sultan Ibrahim dari negara bagian selatan, Johor, dilantik sebagai raja ke-17 Malaysia pada hari ini Rabu (31/1/2024) dengan mengambil sumpah jabatan di Istana Negara Kuala Lumpur.
Sultan Ibrahim (65) menggantikan Al-Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah, yang kembali memimpin negara bagian asalnya, Pahang, setelah menyelesaikan masa jabatannya selama lima tahun sebagai raja.
Baca Juga: Ini Persyaratan dari Hamas untuk Mengakhiri Perang Lawan Israel di Gaza
Meskipun monarki sebagian besar dipandang berada di atas politik, Sultan Ibrahim telah dikenal karena keterusterangannya dan kepribadiannya yang besar, yang sering kali menimbang isu-isu politik negara.
Dikenal dengan koleksi mobil dan sepeda motor mewahnya yang banyak, Sultan Ibrahim memiliki kepentingan bisnis yang luas mulai dari real estat hingga pertambangan.
Kepentingan bisnis tersebut termasuk saham di Forest City yakni proyek reklamasi dan pengembangan lahan senilai USD100 miliar yang didukung oleh China di lepas pantai Johor.
Baca Juga: VIRAL! Pasukan Israel Nyamar jadi Dokter, Bunuh Tiga Warga Palestina di Rumah Sakit
Pria 65 tahun itu juga berbicara tentang rencananya untuk menghidupkan kembali proyek jalur kereta api berkecepatan tinggi yang mangkrak antara Malaysia dan Singapura, dengan penyeberangan perbatasan melalui Forest City.
Sultan Ibrahim menjalankan tugasnya sebagai raja di tengah-tengah ketegangan politik baru di Malaysia.
Negara itu telah mengalami gejolak politik yang berkelanjutan sejak 2018 ketika koalisi Barisan Nasional yang berkuasa saat itu digulingkan dari kekuasaan untuk pertama kalinya sejak kemerdekaan, mendorong raja untuk memainkan peran yang lebih besar.
Raja sebagian besar bertindak berdasarkan saran dari perdana menteri dan kabinet, tetapi diberikan beberapa kekuasaan diskresioner di bawah konstitusi federal.
Wewenang raja termasuk untuk menunjuk perdana menteri yang ia yakini akan memimpin mayoritas parlemen.
Pendahulu Sultan Ibrahim, Al-Sultan Abdullah, menggunakan kekuasaan tersebut tiga kali untuk mengatasi ketidakpastian politik selama masa pemerintahannya.
Dua kali setelah pemerintahan runtuh dan yang terakhir pada tahun 2022, ketika ia menunjuk Perdana Menteri Anwar Ibrahim setelah pemilihan yang berakhir dengan parlemen yang tidak setuju.
Baca Juga: Ratusan Ribu WNI di Malaysia Terancam Kehilangan Hak Suara, Begini Kata KPU
Sebelum turun dari tahta, Al-Sultan Abdullah menyerukan stabilitas politik, menanggapi laporan media bulan ini tentang dugaan plot untuk menggulingkan pemerintah.
Beberapa pemimpin oposisi dan blok yang berkuasa telah membantah menjadi bagian dari plot tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026








