AKURAT.CO Kelompok pejuang Palestina, Hamas, menyatakan tidak akan terlibat dalam perundingan apapun, menyusul kejahatan keji yang dilakukan Israel di sebuah kamp pengungsi di Kota Rafah.
Hamas, melalui pernyataan sebelumnya, menyebut bahwa pemerintah Amerika Serikat dan khususnya Presiden Joe Biden bertanggung jawab atas kejahatan tersebut.
Menurut mereka, jika bukan lantaran lampu hijau dari Washington, pasukan Zionis tidak mungkin melakukan aksi semacam itu.
Dilaporkan IRNA, yang mengutip Sputnik, Hamas juga menuntut implementasi segera keputusan Mahkamah Internasional (ICJ) dan desakan terhadap rezim Israel agar menghentikan pertumpahan darah warga sipil Palestina, termasuk perempuan, anak-anak dan lansia.
Kelompok pejuang itu juga meminta semua pihak, terutama Mesir, menekan Israel agar menarik pasukannya dari penyeberangan Rafah serta memfasilitasi evakuasi para korban dan pengiriman bantuan kemanusiaan.
Serangan udara Israel mengakibatkan kebakaran yang menewaskan 45 orang di sebuah kamp pengungsi di Rafah, sebelah selatan Jalur Gaza, pada Minggu (26/5/2024) malam.
Serangan membakar tenda-tenda dan tempat perlindungan warga sipil di zona aman tersebut.
Militer Israel mengaku sedang menyelidiki laporan bahwa serangan yang dilakukan terhadap komandan kelompok militan Islam di Rafah itu telah menyebabkan kebakaran.
Menurut Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, serangan yang dilakukan tidak dimaksudkan untuk menimbulkan korban jiwa warga sipil.
Baca Juga: Amerika Serikat Akui Israel Tidak Akan Bisa Mengalahkan Hamas, Kenapa?
"Di Rafah kami telah mengevakuasi sekitar satu juta warga nonkombatan. Dan meskipun kami berupaya semaksimal mungkin untuk tidak menyakiti warga nonkombatan, sayangnya ada sesuatu yang tidak beres secara tragis," jelas Netanyahu dalam pidatonya di parlemen, dikutip dari Reuters, Selasa (28/5/2024).
Korban selamat mengatakan, para pengungsi sedang bersiap untuk tidur ketika serangan menghantam lingkungan Tel Al-Sultan, di mana ribuan orang berlindung setelah Israel memulai serangan darat di wilayah timur Rafah lebih dari dua pekan sebelumnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







