Sosok Salman Rushdie, Penulis Kontroversial yang Bela Israel dan Salahkan Hamas Atas Krisis Kemanusiaan di Palestina

AKURAT.CO Penulis kontroversial Salman Rushdie secara terang-terangan membela Israel dan menyebut Hamas adalah teroris.
Dalam sebuah wawancara dengan lembaga penyiaran Jerman Rundfunk Berlin-Brandenburg, Rushdie mengutuk protes mahasiswa yang menunjukkan solidaritas untuk Palestina.
"Orang normal mana pun pasti terkejut dengan apa yang terjadi di Gaza saat ini, namun dengan banyaknya korban jiwa yang tidak bersalah, saya pikir para demonstran juga bisa menyebut Hamas," sebutnya yang dikutip dari The Middle East Eye, pada Kamis (30/5/2024).
Rushdie juga dengan sinis menolak seruan boikot budaya terhadap Israel dan menilainya sebagai masalah universal.
"Aneh jika pemuda progresif mendukung kelompok teroris fasis seperti Hamas, karena menurutnya semua ini awalnya terjadi karena tindakan mereka," terang Rushdie.
Baca Juga: Mentan di Gorontalo: Jaga Pompanisasi agar Bisa Tanam 3 Kali Setahun
"Hamas adalah organisasi teroris dan lucu sekali bahwa kebijakan mahasiswa progresif muda mendukung kelompok teroris fasis, karena itulah yang mereka lakukan," tambahnya.
Lantas, seperti apa sosok penulis Salman Rushdie yang secara terang-terangan membela Israel dan menuding Hamas sebagai teroris?
Sosok Salman Rushdie
Salman Rushdie lahir di Mumbai, India, pada 19 Juni 1947.
Ketika dia berusia 14 tahun, Salman dikirim ke Inggris dan menghadiri sekolah di kota Rugby.
Setelah itu, dia meraih gelar kehormatan dalam sejarah di Kings College yang bergengsi di Cambridge.
Salman kemudian menjadi warga negara Inggris dan bekerja dalam berbagai bidang, termasuk sebagai aktor dan copywriter iklan, sambil menulis novel.
Salman dikenal sebagai salah satu penulis Inggris yang paling terkenal dan sukses sepanjang masa.
Novel keduanya, Midnight's Children, memenangkan Booker Prize pada tahun 1981 dan menceritakan tentang India.
Kemudian, muncul novel ketiga Rushdie, Shame, yang diterbitkan pada tahun 1983 dan mengangkat kisah tentang Pakistan.
Empat tahun setelahnya, dia menulis The Jaguar Smile, sebuah catatan perjalanan di Nikaragua.
Namun, novel keempatnya, The Satanic Verses atau Ayat-ayat Setan yang dirilis pada tahun 1988, membuatnya menjadi sosok kontroversial.
Baca Juga: Wajib Tahu! Deretan Syarat Ikut KPR Tapera, Usia Minimal 20 Tahun Sudah Bisa Punya Rumah
Buku tersebut dianggap menghina Nabi Muhammad SAW dan memicu kemarahan dari umat Islam.
Tak hanya itu, Salman juga sempat menggegerkan publik karena insiden penusukan yang menimpanya di acara Chautauqua pada 2022.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










