Akurat
Pemprov Sumsel

AS Setujui Penjualan Jet Tempur Senilai Rp313 Triliun ke Israel di Tengah Konflik Gaza

Sulthony Hasanuddin | 14 Agustus 2024, 12:48 WIB
AS Setujui Penjualan Jet Tempur Senilai Rp313 Triliun ke Israel di Tengah Konflik Gaza

 

AKURAT.CO Amerika Serikat pada Selasa menyetujui penjualan jet tempur senilai USD 20 miliar atau sekitar Rp313 triliun dan peralatan militer lainnya ke Israel.

Meskipun begitu, penjualan jet tempur AS ke Israel tersebut diperkirakan baru akan mulai dikirim beberapa tahun ke depan.

Lebih lanjut, Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, menyetujui penjualan jet tempur F-15 dan peralatan senilai hampir USD19 miliar.

Baca Juga: Iran Beri Ultimatum: Hanya Gencatan Senjata Gaza yang Bisa Cegah Serangan Balasan atas Pembunuhan Ismail Haniyeh

Penjualan itu bersamaan dengan peluru tank senilai USD774 juta, peluru mortir eksplosif lebih dari USD60 juta, serta kendaraan militer senilai USD583 juta.

Jet tempur F-15 buatan Boeing Co diperkirakan akan memakan waktu bertahun-tahun untuk diproduksi, dan pengiriman diperkirakan baru akan dimulai pada tahun 2029.

Peralatan lainnya diperkirakan akan mulai dikirim pada tahun 2026.

Seorang ahli mengatakan beberapa pengiriman bisa lebih cepat, dimulai sebelum tahun 2026.

"Amerika Serikat berkomitmen untuk keamanan Israel, dan ini vital bagi kepentingan nasional AS untuk membantu Israel mengembangkan dan mempertahankan kemampuan pertahanan diri yang kuat dan siap," kata Pentagon, dikutip Rabu (14/8/2024).

Baca Juga: Krisis Timur Tengah: AS Minta Turki Menekan Iran Sementara Putin dan Abbas Bahas Konflik Gaza di Moskow

Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, melalui unggahan di media sosial X, mengucapkan terima kasih kepada pejabat AS atas bantuan yang diberikan untuk menjaga keunggulan militer kualitatif Israel di kawasan dan komitmen AS terhadap keamanan Israel.

AS, yang merupakan sekutu terbesar Israel dan pemasok senjata utamanya, telah mengirim lebih dari 10.000 bom seberat 2.000 pon yang sangat merusak serta ribuan rudal Hellfire ke Israel sejak perang Gaza dimulai pada bulan Oktober.

Perang tersebut telah menghancurkan Gaza dan menyebabkan jumlah korban sipil yang besar.

Baca Juga: Pemimpin Barat Bersatu Serukan Iran Tahan Diri, Risiko Perang Regional Menghantui

Washington, bersama dengan mediator regional lainnya, berusaha untuk mengatur gencatan senjata guna mencegah perang yang lebih luas di Timur Tengah.

Presiden Joe Biden telah mengajukan proposal gencatan senjata Gaza tiga fase pada 31 Mei, namun upaya tersebut sejauh ini belum berhasil.

Pertumpahan darah terbaru dalam konflik Israel-Palestina yang telah berlangsung puluhan tahun dimulai ketika kelompok Islam Palestina, Hamas, menyerang Israel pada 7 Oktober, menewaskan 1.200 orang dan mengambil sekitar 250 sandera, menurut data Israel.

Baca Juga: Iran Siap Balas Israel, AS Kerahkan Kapal Selam Bertenaga Nuklir ke Timur Tengah

Serangan balasan Israel terhadap wilayah yang dikuasai Hamas di Gaza telah menewaskan hampir 40.000 warga Palestina, menurut kementerian kesehatan setempat.

Konflik ini juga telah menyebabkan hampir seluruh populasi 2,3 juta orang terpaksa mengungsi, menciptakan krisis kelaparan, dan menimbulkan tuduhan genosida di Pengadilan Internasional yang dibantah oleh Israel.

Washington sendiri terus menghadapi kritik domestik dan internasional atas dukungan militernya untuk Israel.

Baca Juga: Mengapa Hamas Tolak Hadiri Pembicaraan Kesepakatan Gencatan Senjata dan Pembebasan Sandera pada Kamis?

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.