Ketegangan Memuncak, Maskapai Air France dan Lufthansa Tunda Penerbangan ke Beirut dan Tel Aviv Setelah Ledakan Misterius

AKURAT.CO Maskapai penerbangan Air France dan Lufthansa telah menunda penerbangan menuju Beirut di Lebanon dan Tel Aviv di Israel menyusul meningkatnya kekhawatiran keamanan di Timur Tengah.
Keputusan ini diambil setelah terjadi ledakan massal yang melibatkan ribuan unit pager atau penyeranta di Lebanon, khususnya di wilayah yang didominasi oleh kelompok Hizbullah.
Baca Juga: Dorong Pertumbuhan Ekonomi, Thailand Bakal Keluarkan Surat Utang Lebih Banyak
Menurut laporan dari Reuters dan Gulf News pada Rabu (18/9/2024), Air France menangguhkan layanan dari Bandara Charles de Gaulle di Paris menuju Beirut dan Tel Aviv dari Selasa (17/9) hingga Kamis (19/9), sembari menunggu penilaian lebih lanjut mengenai situasi di lapangan.
Maskapai ini juga menawarkan pengembalian dana atau penjadwalan ulang kepada para penumpang yang terkena dampak.
Selain Air France, Lufthansa Group juga mengumumkan bahwa penerbangan mereka akan menghindari wilayah udara Israel dan Iran hingga Kamis.
Langkah ini diambil untuk memastikan keamanan penumpang dan kru di tengah ketegangan yang semakin meningkat di wilayah tersebut.
Situasi semakin rumit ketika pada Selasa kemarin, ketakutan akan konflik besar mencuat setelah Hizbullah menuduh Israel berada di balik ledakan ribuan pager yang digunakan oleh para petempurnya dan pihak-pihak lain.
Ledakan tersebut menyebabkan sembilan orang tewas dan melukai sekitar 2.750 orang, termasuk Duta Besar Iran untuk Lebanon.
Ledakan terutama terjadi di wilayah selatan Lebanon, pinggiran selatan Beirut (Dahiyeh), dan Lembah Bekaa yang merupakan markas besar Hizbullah.
Banyak dari mereka yang terluka mengalami luka parah di bagian tubuh tempat pager dikenakan, seperti kehilangan jari dan luka di pinggul.
Salah satu korban tewas diketahui sebagai anak dari anggota Hizbullah di parlemen Lebanon.
Pager yang digunakan oleh Hizbullah sebagai alat komunikasi berteknologi rendah, bertujuan menghindari pelacakan lokasi oleh Israel, diduga dimodifikasi oleh badan intelijen Israel, Mossad.
Menurut sumber keamanan Lebanon, 5.000 pager yang dipesan Hizbullah dari perusahaan Taiwan, Gold Apollo, telah dipasangi bahan peledak kecil oleh Mossad selama proses produksi.
Sebanyak 3.000 pager meledak ketika pesan berkode dikirimkan ke perangkat tersebut, memicu ledakan massal yang mengejutkan.
Meski demikian, Militer Israel dan Mossad belum memberikan pernyataan resmi terkait tuduhan ini. Sementara itu, Menteri Informasi Lebanon, Ziad Makary, mengutuk peristiwa ini sebagai "agresi Israel" dan Hizbullah berjanji akan memberikan "hukuman yang setimpal."
Ketegangan ini berpotensi meningkatkan eskalasi konflik di kawasan, menambah tekanan pada situasi geopolitik yang sudah rapuh.
Situasi ini menegaskan tantangan yang dihadapi maskapai internasional dalam mengoperasikan penerbangan di tengah lanskap geopolitik yang tidak stabil di Timur Tengah, yang seringkali memaksa penundaan dan pembatalan penerbangan dalam waktu singkat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









