Genosida di Gaza: 54.084 Tewas, 123 Ribu Terluka, dan Dunia Menutup Mata

AKURAT.CO Konflik bersenjata yang tak kunjung berakhir di Jalur Gaza telah memakan korban jiwa dalam jumlah yang mengerikan.
Selama 600 hari agresi brutal yang dilancarkan Israel sejak Oktober 2023, Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan bahwa sedikitnya 54.084 warga Palestina telah kehilangan nyawa, sementara lebih dari 123 ribu lainnya mengalami luka-luka.
Dalam laporan terbarunya, Rabu (28/5/2025), Kemenkes Gaza menyebutkan 28 jenazah baru ditemukan dan 179 korban luka kembali berdatangan ke rumah sakit hanya dalam 24 jam terakhir.
Namun, jumlah ini diyakini masih jauh dari total sebenarnya, karena banyak korban yang tertimbun di bawah reruntuhan bangunan atau tergeletak di jalanan—tidak bisa dievakuasi karena keterbatasan alat dan ancaman serangan berkelanjutan.
Fase baru kekerasan kembali memuncak sejak 18 Maret 2025, ketika militer Israel meluncurkan serangan besar-besaran yang menghancurkan kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati pada Januari.
Sejak operasi militer kembali digencarkan, sedikitnya 3.924 orang tewas dan lebih dari 11.200 orang terluka.
Baca Juga: Baznas Tasikmalaya Tegaskan Kendaraan Hibah untuk Operasional, Bukan Kepentingan Pribadi
Kondisi di lapangan semakin memburuk. Rumah sakit penuh, logistik terhambat, dan infrastruktur lumpuh total.
Sementara itu, suara kecaman dari dunia internasional masih belum mampu menghentikan laju kehancuran.
Langkah hukum internasional mulai bergerak, meskipun lamban.
Pada November 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant, atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.
Tak hanya itu, Israel juga digugat di Mahkamah Internasional (ICJ) atas tuduhan melakukan genosida terhadap rakyat Palestina—tuduhan paling serius dalam hukum internasional.
Namun hingga kini, penderitaan jutaan warga sipil Gaza belum juga berakhir. Sementara bom terus dijatuhkan, dunia masih sibuk berdebat di ruang diplomasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








