AKURAT.CO Keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menaikkan tarif impor dari India menjadi 50% berdampak signifikan pada hubungan politik dan ekonomi antara kedua negara. Kebijakan ini merupakan pukulan telak bagi kemitraan strategis yang telah terjalin selama beberapa dekade.
Tarif tambahan sebesar 25% ini diberlakukan sebagai hukuman atas pembelian minyak Rusia oleh India. Kebijakan ini menambah tarif 25% yang sudah ada sebelumnya, sehingga total bea masuk menjadi 50%.
Angka ini merupakan salah satu tarif tertinggi yang pernah diterapkan AS. Kenaikan tarif ini berdampak serius pada ribuan eksportir kecil dan lapangan pekerjaan di India, termasuk di negara bagian asal Perdana Menteri Narendra Modi.
Perekonomian India, yang merupakan salah satu yang paling cepat tumbuh di dunia, diperkirakan akan terkena dampaknya. Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda negosiasi lanjutan antara kedua negara.
Lima putaran perundingan sebelumnya gagal mencapai kesepakatan untuk menurunkan tarif AS menjadi sekitar 15%, seperti yang disepakati dengan Jepang, Korea Selatan, dan Uni Eropa. Kegagalan ini disebut-sebut akibat kesalahpahaman dan miskomunikasi.
Pemerintah India menyatakan harapan agar AS meninjau kembali tarif tambahan tersebut dan berencana untuk mengambil langkah-langkah guna meredam dampak negatifnya.
Meskipun demikian, indeks saham India telah menunjukkan reaksi negatif, mencatat penurunan terburuk dalam tiga bulan terakhir. Meskipun beberapa barang tertentu, seperti baja, aluminium, dan produk turunannya, serta kendaraan penumpang, mendapatkan pengecualian dari tarif ini.
Namun, secara umum, kebijakan ini menyoroti perbedaan besar dalam struktur tarif antara kedua negara.
Pejabat India mencatat bahwa tarif rata-rata untuk impor AS adalah sekitar 7,5%, sementara AS menyoroti tarif yang lebih tinggi untuk barang-barang tertentu, seperti otomotif (100%) dan produk pertanian (39%).
Singkatnya, kebijakan tarif Trump menciptakan ketegangan yang signifikan, mengancam kemitraan strategis antara AS dan India, dan menimbulkan dampak ekonomi yang merugikan bagi India.
Bayu Aji Pamungkas (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









