Konflik Memanas: Hongaria Larang Komandan Ukraina Gara-Gara Pipa Minyak

AKURAT.CO Pemerintah Hongaria resmi melarang komandan unit militer Ukraina yang diduga terlibat dalam serangan terhadap pipa minyak Druzhba memasuki wilayah Hongaria maupun kawasan Schengen. Perkembangan terbaru ini membuat perseteruan kedua negara semakin panas.
Menteri Luar Negeri Hongaria, Peter Szijjártó, menegaskan lewat akun X bahwa serangan ke pipa minyak tersebut dianggap sebagai ancaman langsung terhadap kedaulatan negaranya.
“Serangan ini membahayakan keamanan energi kami dan hampir memaksa penggunaan cadangan strategis. Siapa pun yang menyerang energi dan kedaulatan Hongaria harus menanggung akibatnya,” tulisnya.
Dalam beberapa pekan terakhir, Ukraina tercatat sudah tiga kali melancarkan serangan terhadap jaringan pipa Druzhba, jalur sepanjang 2.500 mil peninggalan Soviet yang mengalirkan minyak Rusia ke Hongaria dan Slovakia.
Meski Szijjártó tidak menyebut nama, Direktur Politik Perdana Menteri Hongaria, Balázs Orbán, mengindikasikan bahwa larangan itu mengarah pada Robert Brovdi. Komandan militer keturunan Hongaria yang dikenal dengan nama panggilan “Maydar” ini sebelumnya mengklaim lewat video bahwa drone Ukraina menghantam stasiun pompa minyak Unecha di Bryansk, Rusia, pada 21 Agustus.
Brovdi pun balik menyerang lewat pernyataan keras di media sosial. Ia menuding pemerintah Hongaria lebih mementingkan minyak murah Rusia ketimbang solidaritas dengan Ukraina. “Tangan Anda berlumuran darah Ukraina. Dan kami akan mengingatnya,” ujar Brovdi.
Pemerintah Ukraina juga menanggapi sikap Hongaria. Menteri Luar Negeri Andrii Sybiha menilai Budapest berada di “sisi sejarah yang salah” dan mengisyaratkan bakal mengambil langkah balasan.
Sybiha menulis di Twitter bahwa ia akan "menjawab dengan gaya bahasa Hongaria," memperingatkan, "Anda tidak perlu memberi tahu Presiden Ukraina apa yang harus dilakukan atau dikatakan, dan kapan. Dia adalah Presiden Ukraina, bukan Hongaria."
"Keamanan energi Hongaria ada di tangan Anda sendiri. Diversifikasi dan merdekalah dari Rusia, seperti negara-negara Eropa lainnya," tambah Sybiha.
Pada hari Selasa, 26 Agustus, Szijjártó memperingatkan bahwa Hongaria mungkin akan mempertimbangkan kembali pasokan listrik ke Ukraina setelah serangan pesawat nirawaknya terhadap pipa minyak "Druzhba", menuduh Kyiv memiliki "kebijakan anti-Hongaria yang terbuka."
Menurutnya, Hongaria menyediakan 30-40% dari impor listrik Ukraina, dan ia menyatakan bahwa pemutusan pasokan tersebut "tidak akan memengaruhi pemerintah, bukan perdana menteri, bukan para menteri, tetapi rakyat, keluarga, dan anak-anak yang tinggal di negara ini."
Awal minggu ini, Euronews juga melaporkan bahwa Hongaria telah menggugat Uni Eropa atas keputusan untuk memberikan bantuan miliaran euro kepada Ukraina dari aset Rusia yang dibekukan.
Sebelumnya, Presiden Volodymyr Zelensky sempat menyindir bahwa serangan ke jaringan pipa bisa jadi berkaitan dengan penolakan Hongaria terhadap aksesi Ukraina ke Uni Eropa. Di bawah kepemimpinan Viktor Orban yang dikenal dekat dengan Moskow, Hongaria memang berulang kali memveto sanksi untuk Rusia sekaligus menghalangi pembahasan keanggotaan Ukraina di Uni Eropa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








