Benjamin Netanyahu Bantah Teori Konspirasi Israel di Balik Pembunuhan Charlie Kirk

AKURAT.CO Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa tuduhan Israel terlibat dalam pembunuhan Charlie Kirk adalah “kebohongan besar yang mengerikan”. Klarifikasi ini disampaikan melalui video di platform X, menanggapi beredarnya klaim tidak berdasar di media sosial.
Kasus Penembakan Charlie Kirk
Charlie Kirk, influencer dan aktivis konservatif AS, tewas ditembak pada 10 September di Universitas Utah Valley. Polisi telah menahan tersangka bernama Tyler Robinson dan menjeratnya dengan dakwaan pembunuhan.
Meski penyelidikan masih berlangsung, peristiwa itu memicu perdebatan sengit antara kubu liberal dan konservatif AS, memunculkan berbagai teori konspirasi tanpa bukti.
Teori Konspirasi Tanpa Dasar
Di dunia maya, beredar klaim liar bahwa pembunuhan Kirk melibatkan Mossad (dinas intelijen Israel), loyalis MAGA, hingga kelompok nasionalis kulit putih Kristen “Groypers”. Netanyahu menyebut tuduhan tersebut sebagai kebohongan besar yang sengaja disebarkan.
Mengutip propaganda Nazi, Netanyahu berkata, “Joseph Goebbels pernah mengatakan: semakin besar kebohongan, semakin cepat penyebarannya. Seseorang telah mengarang kebohongan besar bahwa Israel terkait pembunuhan mengerikan Charlie Kirk.”
Hubungan Netanyahu dan Charlie Kirk
Netanyahu menekankan bahwa Charlie Kirk adalah pendukung setia Israel. “Charlie mencintai Israel dan orang-orang Yahudi. Ia pernah mengirim surat kepada saya beberapa bulan lalu,” ujarnya.
Ia juga menyebut Kirk sebagai sosok yang “membela kebebasan dan peradaban Yahudi-Kristen”.
Netanyahu sebelumnya mengunggah penghormatan di X, menyebut Kirk “dibunuh karena menyuarakan kebenaran” dan memuji keberanian Kirk dalam membela kebebasan berbicara.
Kritik dari Kalangan MAGA
Beberapa komentator gerakan MAGA sempat berspekulasi bahwa Kirk sebenarnya lebih kritis terhadap pemerintah Israel daripada yang diketahui publik. Tucker Carlson, mantan pembawa acara Fox News, bahkan menyebut Kirk tidak menyukai Netanyahu dan menilai kebijakan Israel di Gaza sebagai “kekuatan yang merusak”.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







