Akurat
Pemprov Sumsel

Trump Izinkan Korea Selatan Bangun Kapal Selam Bertenaga Nuklir dengan Teknologi AS

Kumoro Damarjati | 30 Oktober 2025, 08:11 WIB
Trump Izinkan Korea Selatan Bangun Kapal Selam Bertenaga Nuklir dengan Teknologi AS

 

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa pemerintahannya akan membagikan teknologi propulsi nuklir kepada Korea Selatan untuk membangun setidaknya satu kapal selam bertenaga nuklir.

Pengumuman besar ini disampaikan Trump pada Rabu (29/10/2025), sehari setelah Seoul menandatangani kesepakatan investasi senilai 350 miliar dolar AS di Amerika Serikat sebagai bagian dari kerja sama ekonomi dan pertahanan yang lebih luas antara kedua negara.

Aliansi AS–Korea Selatan Masuki Babak Baru

Dalam pernyataan di media sosialnya, Trump menyebut kapal selam tersebut akan dibangun di Hanwha Philly Shipyard, galangan kapal komersial milik perusahaan Korea Selatan yang dibeli pada tahun 2024. Meski demikian, fasilitas tersebut saat ini belum memiliki izin dan infrastruktur untuk menangani material nuklir atau membangun kapal militer.

“Sebagai bagian dari penguatan aliansi kapal dan pertahanan AS–Korea, Hanwha siap mendukung melalui keunggulan teknologi dan kapasitas produksi kami,” kata Alex Wong, Kepala Strategi Hanwha, dalam pernyataan tertulis.

Ia menambahkan bahwa investasi ini akan menghidupkan kembali industri galangan kapal Amerika dan meningkatkan keamanan kedua negara.

AS Sebelumnya Hanya Berbagi Teknologi Nuklir dengan Inggris dan Australia

Langkah Trump ini menandai pertama kalinya AS berbagi teknologi propulsi nuklir dengan Korea Selatan, setelah sebelumnya hanya membagikannya kepada Inggris dan Australia melalui pakta AUKUS pada 2021. Teknologi tersebut selama ini dijaga ketat karena dianggap sangat sensitif dan berisiko tinggi.

Namun, meningkatnya ancaman militer dari Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik mendorong sekutu-sekutu Washington untuk memperkuat kemampuan pertahanan laut mereka, termasuk dengan kapal selam bertenaga nuklir yang lebih cepat dan tahan lama dibanding kapal selam diesel.

Korea Selatan Ingin Kurangi Ketergantungan pada Kapal Selam Diesel

Keputusan Trump ini muncul sehari setelah Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung meminta izin untuk memperoleh bahan bakar nuklir yang diperlukan guna mengoperasikan kapal selam tersebut.

Lee mengatakan kapal selam diesel Korea Selatan saat ini tidak mampu mendeteksi dan mengikuti kapal selam Tiongkok maupun Korea Utara secara efektif.

“Jika pasokan bahan bakar nuklir diizinkan, kami dapat membangun beberapa kapal selam dengan teknologi kami sendiri untuk mempertahankan perairan Semenanjung Korea,” ujarnya, dikutip dari kantor berita Yonhap.

Tantangan dan Risiko Pembangunan Kapal Selam Nuklir

Meski menjadi terobosan strategis, proyek ini menimbulkan pertanyaan besar soal kesiapan fasilitas Hanwha Philly Shipyard. Pembangunan kapal selam nuklir membutuhkan tenaga ahli, sistem keamanan tinggi, serta biaya besar untuk mengubah fasilitas komersial menjadi kompleks militer berstandar nuklir.

Sementara itu, perusahaan Amerika Huntington Ingalls Industries, pembuat kapal selam nuklir AS, saat ini menghadapi penundaan produksi hingga tiga tahun akibat masalah rantai pasok dan kekurangan tenaga kerja terampil. Kondisi ini diperkirakan akan memengaruhi jadwal pembangunan kapal selam baru untuk Korea Selatan.

Kerja sama nuklir ini bisa jadi merupakan respons Seoul terhadap ekspansi militer Tiongkok dan ancaman dari Korea Utara. Beijing kini memiliki angkatan laut terbesar di dunia dan mulai membangun fasilitas di Laut Kuning yang dikhawatirkan dapat digunakan sebagai pos militer oleh Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).

Meski langkah ini memperkuat posisi Korea Selatan dalam pertahanan regional, sejumlah pihak menilai ambisi nuklir Seoul dapat memicu kekhawatiran baru bahwa negara tersebut berpotensi mengembangkan senjata nuklirnya sendiri di masa depan.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.