Perang Saudara di Sudan: RSF Rebut El-Fasher, Pembantaian Massal dan Krisis Kemanusiaan Terburuk Terjadi

AKURAT.CO Perang sipil Sudan yang telah berlangsung lebih dari dua tahun kembali memuncak dengan tragedi baru di Darfur Utara. Pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) dilaporkan menyerbu kota El-Fasher, benteng terakhir militer Sudan di kawasan itu, menggunakan kendaraan, unta, dan berjalan kaki. Serangan brutal yang terjadi pada Selasa itu menewaskan dan menahan ratusan orang, menandai babak paling kelam dalam konflik bersenjata yang telah berkecamuk selama 31 bulan.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyebut peristiwa di El-Fasher sebagai “eskalasi yang mengerikan” dalam perang tersebut. Menurut laporan kelompok medis lokal, pasukan RSF telah menewaskan puluhan warga sipil dan menahan ratusan lainnya setelah merebut pangkalan militer di kota itu pada Ahad.
Militer Sudan mengonfirmasi bahwa mereka sengaja mundur demi menyelamatkan warga sipil. Panglima militer Jenderal Abdel-Fattah Burhan menjelaskan bahwa pasukan pemerintah meninggalkan kota “karena penghancuran sistemik dan pembunuhan sistematis terhadap warga sipil oleh RSF.”
Dalam perkembangan lain, pemerintah Sudan memerintahkan pengusiran dua pejabat senior Program Pangan Dunia (WFP), yakni Direktur Negara dan Direktur Operasi, dengan status persona non grata. Meski demikian, pemerintah menegaskan keputusan tersebut tidak memengaruhi kerja sama dengan WFP di Sudan.
Baca Juga: Memahami Perang Sudan: Perebutan Kekuasaan, Tragedi Kemanusiaan, dan Bayang Genosida di Darfur
Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB melaporkan kekejaman di El-Fasher termasuk eksekusi di tempat, serangan terhadap warga sipil di jalur pelarian, serta penggerebekan rumah ke rumah. Kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak perempuan juga dilaporkan terjadi secara meluas.
Ribuan warga berusaha melarikan diri dari kota tersebut. Badan migrasi PBB memperkirakan lebih dari 26 ribu orang berhasil meninggalkan El-Fasher, sementara lebih dari 4.200 lainnya mencapai kamp pengungsian di kota Tawila dalam dua hari terakhir.
Rekaman mengerikan beredar di media sosial, memperlihatkan pasukan RSF menembak warga sipil dan memukuli mereka yang mencoba kabur. Beberapa video juga menunjukkan tentara mengendarai kendaraan dan unta di jalan-jalan kota. Salah satu rekaman menampilkan para pemuda berseragam Bulan Sabit Merah Sudan yang ditangkap dan dianiaya oleh pejuang bersenjata.
Direktur Regional Amnesty International untuk Afrika Timur dan Selatan, Tigere Chagutah, mengecam tindakan RSF dan menuntut mereka menghentikan serangan terhadap warga sipil serta membuka akses bantuan kemanusiaan. “Penduduk El-Fasher telah mengalami pengepungan brutal RSF selama 18 bulan,” ujarnya. “Semua yang bertanggung jawab atas kekejaman ini harus dimintai pertanggungjawaban secara individu.”
Jaringan Dokter Sudan melaporkan bahwa lima tenaga medis, termasuk empat dokter, seorang apoteker, dan seorang perawat, diculik oleh pasukan RSF.
Laboratorium Penelitian Kemanusiaan Universitas Yale dalam laporannya mengonfirmasi adanya dugaan pembunuhan massal berdasarkan citra satelit yang menunjukkan jejak darah dan jasad manusia di sekitar kendaraan RSF di wilayah Daraja Oula, El-Fasher. Analisis ini diperkuat oleh investigasi terpisah dari Associated Press yang juga mendeteksi pola serupa.
Kantor Hak Asasi Manusia PBB turut menyampaikan keprihatinan mendalam atas laporan eksekusi massal oleh RSF di El-Fasher. Pasukan RSF yang kini menjadi aktor dominan dalam konflik ini sebelumnya dikenal sebagai milisi Janjaweed — kelompok bersenjata yang terkenal kejam dan terlibat dalam genosida Darfur pada awal 2000-an. Pemerintahan Amerika Serikat bahkan telah menyatakan bahwa RSF dan sekutunya terlibat dalam genosida dalam perang yang sedang berlangsung.
Jatuhnya El-Fasher berpotensi menambah fragmentasi Sudan, lebih dari satu dekade setelah Sudan Selatan memisahkan diri akibat perang berkepanjangan antara pemerintah pusat dan kelompok pemberontak.
Dalam komentarnya di Malaysia, António Guterres menyerukan penghentian dukungan militer asing terhadap pihak-pihak yang bertikai. Ia menegaskan bahwa konflik ini “tidak hanya pertempuran internal antara militer dan RSF, tetapi juga akibat campur tangan eksternal yang memperumit upaya perdamaian.”
Beberapa laporan menyebut Uni Emirat Arab dituduh memasok senjata kepada RSF, namun negara Teluk itu membantah tuduhan tersebut.
Baca Juga: Serangan Drone dan Artileri RSF di El-Fasher, Sudan, Tewaskan 60 Pengungsi
Tragedi di El-Fasher juga menelan korban dari kalangan kemanusiaan. Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah mengonfirmasi lima sukarelawannya tewas di kota Bara, Kordofan, saat mendistribusikan makanan. Tiga relawan lainnya dilaporkan hilang. “Serangan terhadap tim kemanusiaan tidak dapat diterima,” tegas lembaga tersebut.
Sejak awal perang pada April 2023, konflik ini telah menewaskan lebih dari 40 ribu orang menurut PBB, namun angka sebenarnya diperkirakan jauh lebih tinggi. Perang juga menyebabkan krisis kemanusiaan terburuk di dunia, dengan lebih dari 14 juta warga kehilangan tempat tinggal dan sebagian wilayah, termasuk El-Fasher, kini menghadapi kelaparan ekstrem.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










