Akurat
Pemprov Sumsel

Ketika AS Masih Mencari Jasad Seorang Kapten di PD II Meski Telah Tewas 80 Tahun Lalu

Kumoro Damarjati | 11 Desember 2025, 20:06 WIB
Ketika AS Masih Mencari Jasad Seorang Kapten di PD II Meski Telah Tewas 80 Tahun Lalu

AKURAT.CO Perjalanan hidup Kapten Willibald Bianchi adalah salah satu kisah paling tragis sekaligus heroik dari Perang Dunia II. Prajurit Amerika penerima Medal of Honor ini melewati rangkaian cobaan ekstrem—mulai dari luka tembak, penyiksaan dalam Bataan Death March, hingga serangan kapal yang tak ditandai sebagai pengangkut tawanan. Namun selama lebih dari 80 tahun, keberadaannya tetap menjadi misteri. Kini, setelah proses identifikasi panjang dan ekskavasi jenazah tak dikenal dari Taiwan, kisah hilangnya Bianchi akhirnya menemukan jawaban.

Willibald Bianchi akhirnya teridentifikasi setelah lebih dari delapan dekade dinyatakan hilang pada Perang Dunia II. Bianchi sempat selamat dari sejumlah peristiwa mengerikan—termasuk ditembak di dada, dipaksa mengikuti Bataan Death March, dan tenggelamnya kapal tawanan perang pertama yang ia tumpangi—sebelum akhirnya tewas ketika kapal kedua yang membawanya diserang pesawat AS pada 1945.

Karena jasadnya tidak ditemukan setelah serangan itu, Bianchi tercatat sebagai prajurit hilang dan namanya diabadikan di Walls of the Missing di Manila American Cemetery, bersama puluhan ribu tentara lain yang dimakamkan tanpa identitas.

Situasi tersebut berubah setelah Defense POW/MIA Accounting Agency (DPAA) mengumumkan keberhasilan mengidentifikasi sisa jasadnya. Bianchi ternyata termasuk dalam sekitar 300 jenazah tak dikenal yang dievakuasi dari Taiwan pada 1946. Jenazah-jenazah itu kemudian dipindahkan ke National Memorial Cemetery of the Pacific (Punchbowl) di Hawaii dan dimakamkan sebagai prajurit tanpa nama.

Pada 2021, DPAA membongkar kembali makam tersebut untuk pemeriksaan forensik. Setelah proses panjang, identitas Bianchi dikonfirmasi pada Agustus 2024 dan diumumkan ke publik setelah keluarganya mendapat penjelasan resmi. Ia akan dimakamkan kembali di kampung halamannya, New Ulm, Minnesota, pada Mei mendatang—sekitar 85 tahun setelah terakhir kali ia meninggalkan Amerika.

Kisah kepahlawanan Bianchi bermula pada awal 1941 ketika ia meminta penugasan di Filipina dan ditempatkan bersama Philippine Scouts, unit tentara Filipina yang dipimpin perwira Amerika. Setelah Jepang menyerang Pearl Harbor dan Filipina, pasukan AS dan Filipina terdesak hingga ke Semenanjung Bataan pada Februari 1942.

Di lokasi inilah tindakan heroiknya dicatat sejarah. Meski terkena beberapa luka tembak, Bianchi tetap memimpin pasukannya, menghancurkan sarang senapan mesin Jepang pertama dengan granat, lalu naik ke tank AS untuk menembakkan senapan anti-pesawat ke posisi musuh kedua. Ia baru tumbang setelah kembali tertembak dan terlempar dari tank.

Setelah pulih selama sebulan, ia masih berada di Bataan ketika lebih dari 70.000 tentara menyerah pada 9 April 1942. Bianchi kemudian dipaksa berjalan sejauh sekitar 100 kilometer dalam Bataan Death March yang brutal dan menewaskan ribuan tawanan.

Ia lalu dipindahkan antar kamp tawanan hingga Desember 1944, ketika ia dimasukkan ke kapal tawanan perang yang berangkat dari Subic Bay. Kapal itu tidak ditandai sebagai pengangkut tawanan, sehingga pesawat AS tanpa mengetahui kondisi tersebut menyerangnya. Bianchi selamat dari serangan pertama, namun tidak dari serangan kedua pada kapal lain di lepas pantai Taiwan pada 9 Januari 1945, ketika bom menghantam ruang tempat para tawanan ditempatkan.

Beberapa bulan setelah kematiannya, sang ibu menerima Medal of Honor atas nama putranya. Ia menuliskan bahwa pengorbanan anak semata wayangnya adalah “hadiah paling berharga yang dapat diberikan kepada generasi ini dan kepada Amerika.”

Bianchi merupakan satu dari 473 penerima Medal of Honor pada Perang Dunia II. Dengan teridentifikasinya jasadnya, kini hanya 21 penerima penghargaan tersebut yang masih belum ditemukan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.