Akurat
Pemprov Sumsel

Ribuan Sekolah di Korea Selatan Tutup Akibat Anjloknya Jumlah Siswa

Kumoro Damarjati | 4 Januari 2026, 06:59 WIB
Ribuan Sekolah di Korea Selatan Tutup Akibat Anjloknya Jumlah Siswa

AKURAT.CO Lebih dari 4.000 sekolah di Korea Selatan terpaksa ditutup seiring terus menurunnya jumlah siswa. Penyusutan populasi usia sekolah ini memicu kontraksi besar dalam sistem pendidikan nasional, hingga meninggalkan ratusan bangunan sekolah terbengkalai.

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Korea Selatan yang diperoleh anggota parlemen Jin Sun-mee, tercatat sebanyak 4.008 sekolah tingkat dasar, menengah pertama, dan menengah atas telah ditutup akibat minimnya jumlah murid. Informasi ini dilaporkan oleh Korea Herald.

Penutupan paling banyak terjadi pada sekolah dasar, yakni mencapai 3.674 unit. Sementara itu, sekolah menengah pertama yang ditutup berjumlah 264, disusul 70 sekolah menengah atas. Dalam lima tahun terakhir saja, sebanyak 158 sekolah telah berhenti beroperasi. Bahkan, 107 sekolah lainnya diperkirakan akan menyusul tutup dalam lima tahun ke depan karena tren penurunan jumlah siswa yang terus berlanjut, sebagaimana dilaporkan Korea Times.

Wilayah di luar kota-kota besar menjadi yang paling terdampak. Provinsi Jeolla Utara diproyeksikan mencatat jumlah penutupan terbanyak, yakni 16 sekolah, disusul Jeolla Selatan dengan 15 sekolah, Provinsi Gyeonggi 12 sekolah, dan Chungcheong Selatan 11 sekolah. Data ini mencerminkan penurunan populasi yang lebih tajam di daerah pedesaan dan nonmetropolitan.

Salah satu penyebab utama kondisi ini adalah tingkat kelahiran Korea Selatan yang sangat rendah. Badan Statistik Korea (KOSTAT) mencatat total fertility rate (TFR) pada 2024 hanya mencapai 0,748, jauh di bawah angka 2,1 yang dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan populasi.

Masalah lain muncul dari pemanfaatan bangunan sekolah yang telah ditutup. Dari total 4.008 sekolah, sebanyak 376 lokasi belum digunakan kembali. Bahkan, 266 di antaranya telah terbengkalai lebih dari 10 tahun, sementara 82 sekolah dibiarkan kosong selama lebih dari 30 tahun.

Anggota parlemen Jin Sun-mee menilai penutupan sekolah akan terus berlanjut jika tidak ada perubahan signifikan. Ia pun mendorong pemerintah menyusun rencana jangka panjang untuk mengalihfungsikan gedung-gedung sekolah tersebut agar bisa dimanfaatkan sebagai aset bagi masyarakat lokal.

Dampak penurunan jumlah siswa juga dirasakan oleh sekolah yang masih beroperasi. Kementerian Pendidikan mengumumkan pemangkasan 2.232 posisi guru secara nasional untuk tahun ajaran 2025. Rinciannya, posisi guru sekolah dasar dikurangi sebanyak 1.289, sementara guru sekolah menengah berkurang sekitar 1.700.

Sebagai langkah sementara, kantor pendidikan di tingkat provinsi dan kota menerapkan berbagai kebijakan penyesuaian, seperti mengurangi jumlah siswa per kelas menjadi sekitar 10 hingga 15 orang serta menambah jumlah rombongan belajar untuk menyerap kapasitas berlebih di sekolah-sekolah tertentu.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.