Sempat Melunak dengan Trump, Presiden Kolombia Gustavo Petro Kritik Tajam AS

AKURAT.CO Presiden Kolombia Gustavo Petro kembali melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan Amerika Serikat, meski sempat melunakkan sikapnya setelah melakukan pembicaraan lewat telepon dengan Presiden AS Donald Trump.
Dalam wawancara dengan BBC yang direkam pada 8 Januari, Petro menuding Washington memperlakukan negara lain seolah-olah menjadi bagian dari “imperium Amerika Serikat”. Ia juga melontarkan pernyataan kontroversial dengan menyamakan tindakan agen US Immigration and Customs Enforcement (ICE) dengan “brigade Nazi”.
Sempat Lunak Usai Telepon Trump
Gustavo Petro dikenal sebagai salah satu pengkritik paling vokal Donald Trump di kawasan Amerika selama setahun terakhir. Sikap itu sempat berubah pada 7 Januari, ketika keduanya melakukan percakapan telepon pertama.
Petro menyebut panggilan tersebut sebagai kesempatan untuk meluruskan kesalahpahaman Trump terkait isu perdagangan narkoba. Trump sendiri menyatakan merasa terhormat berbicara dengan Petro dan memuji nada bicara presiden Kolombia itu.
Berbicara di hadapan para pendukungnya di Bogota usai panggilan telepon tersebut, Petro mengaku awalnya berniat menyampaikan pidato keras yang menyerang Trump, namun memilih untuk menahan diri dan menggunakan bahasa yang lebih moderat.
Namun, sikap lunak itu tidak bertahan lama.
Tuduh AS Ancam Intervensi Militer
Dalam wawancara dengan BBC, Petro kembali menegaskan bahwa ancaman intervensi militer AS terhadap Kolombia adalah nyata. Ia juga mengingatkan bahwa Kolombia pernah menjadi korban kekerasan Amerika Serikat pada awal abad ke-20.
Petro turut mengkritik kebijakan penegakan imigrasi pemerintahan Trump, menyusul insiden penembakan yang dilakukan seorang agen ICE terhadap seorang perempuan di Minneapolis, yang memicu gelombang demonstrasi di berbagai wilayah Amerika Serikat.
“Bagi kami, ICE beroperasi dengan cara yang sama seperti brigade Nazi dan fasis Italia,” ujar Petro. “Mereka tidak hanya menganiaya warga Amerika Latin di jalanan—yang merupakan penghinaan bagi kami—tetapi juga membunuh warga negara AS sendiri.”
Nada Lebih Lembut di Wawancara CBS
Dalam wawancara terpisah dengan CBS News yang dipublikasikan pada 9 Januari, Petro menggunakan nada yang lebih moderat. Ia menyebut dirinya dan Trump memiliki pandangan serupa terkait rencana pembagian kekuasaan di Venezuela antara pemerintahan Presiden sementara Delcy Rodríguez dan pihak oposisi.
Petro juga memperingatkan bahwa serangan militer AS terhadap Kolombia akan menjadi “kebijakan bodoh” yang berpotensi memicu perang saudara di negara Andes tersebut.
Pertemuan Dijadwalkan Februari
Donald Trump dan Gustavo Petro dijadwalkan bertemu langsung di Gedung Putih pada pekan pertama Februari. Pertemuan ini diperkirakan akan menjadi momen penting dalam hubungan diplomatik kedua negara yang belakangan memanas.
Pendekatan kebijakan luar negeri Petro, yang kerap diwarnai pernyataan keras di media sosial pada larut malam, kontras dengan sikap lebih hati-hati yang diambil sejumlah presiden kiri Amerika Latin lainnya, seperti Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum dan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva, yang berusaha menghindari konflik terbuka dengan Trump.
Hubungan Memburuk Sejak Isu Narkoba
Ketegangan meningkat ketika Trump kembali mengangkat opsi aksi militer terhadap Kolombia setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro pekan lalu. Petro merespons dengan sikap menantang, bahkan menyebut Trump pikun dan berkata, “Datang dan tangkap saya!”
Selain konflik personal, Trump berulang kali mengeluhkan produksi kokain Kolombia yang mencapai rekor tertinggi. Pada 2025, Amerika Serikat memasukkan Kolombia ke dalam daftar negara dengan praktik perdagangan narkoba bermasalah.
Washington juga mencabut visa Petro setelah ia menyerukan agar pasukan Kolombia tidak mematuhi perintah Trump. Pada Oktober 2025, Departemen Keuangan AS bahkan menjatuhkan sanksi terhadap Petro dan orang-orang terdekatnya, yang secara efektif menutup akses Petro ke sistem keuangan Amerika Serikat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








