Tersangka Penembakan Sekolah di Kanada Perempuan 18 Tahun dengan Masalah Mental

AKURAT.CO Polisi Kanada mengidentifikasi pelaku penembakan di sebuah sekolah di Provinsi British Columbia sebagai remaja perempuan berusia 18 tahun bernama Jesse Van Rootselaar. Pelaku ditemukan tewas setelah serangan yang menewaskan delapan orang di komunitas pegunungan terpencil Tumbler Ridge.
Wakil Komisaris Royal Canadian Mounted Police (RCMP), Dwayne McDonald, menyatakan pelaku memiliki riwayat gangguan kesehatan mental dan sebelumnya pernah mendapat kunjungan aparat ke rumahnya. Polisi juga menemukan ibu pelaku yang berusia 39 tahun dan saudara tirinya yang berusia 11 tahun dalam kondisi meninggal dunia di rumah yang berlokasi tak jauh dari sekolah.
Motif penembakan hingga kini masih belum diketahui.
Kronologi dan Jumlah Korban
Awalnya polisi menyebut sembilan orang tewas dalam insiden yang terjadi Selasa (waktu setempat). Namun pada Rabu, McDonald mengklarifikasi bahwa jumlah korban meninggal dunia sebanyak delapan orang, di luar pelaku yang diduga menembak dirinya sendiri.
Kesalahan data sebelumnya terjadi karena salah satu korban yang diterbangkan ke pusat medis sempat dikira meninggal dunia.
Selain delapan korban tewas, lebih dari 25 orang lainnya mengalami luka-luka dalam penembakan yang mengguncang kota kecil berpenduduk sekitar 2.700 jiwa tersebut.
Para korban terdiri atas seorang guru berusia 39 tahun dan lima siswa berusia 12 hingga 13 tahun. Polisi menyatakan tidak ada indikasi bahwa korban di sekolah memiliki hubungan keluarga dengan pelaku.
Menurut McDonald, pembunuhan di rumah pelaku terjadi lebih dahulu sebelum aksi di sekolah. Seorang anggota keluarga yang masih kecil melarikan diri ke rumah tetangga dan meminta bantuan hingga akhirnya polisi dihubungi.
Di lokasi sekolah, satu korban ditemukan di tangga, sementara korban lainnya diduga berada di perpustakaan. Polisi menyita satu senapan laras panjang dan satu pistol yang telah dimodifikasi. Aparat tiba di sekolah dua menit setelah menerima laporan pertama dan sempat mendapat tembakan saat tiba di lokasi.
Tragedi Terbesar Sejak 2020
Insiden ini menjadi aksi kekerasan paling mematikan di Kanada sejak 2020, ketika seorang pria bersenjata di Nova Scotia menewaskan 13 orang dan membakar sejumlah rumah yang menyebabkan sembilan korban tambahan.
Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, menyatakan duka mendalam atas tragedi tersebut. Ia mengumumkan bendera di seluruh gedung pemerintah akan dikibarkan setengah tiang selama tujuh hari.
“Bangsa ini berduka bersama Anda. Kanada berdiri bersama warga Tumbler Ridge,” kata Carney.
Pemerintah juga membatalkan sejumlah agenda resmi, termasuk perjalanan ke Halifax dan Munich, Jerman.
Kesaksian Warga dan Suasana Mencekam
Sejumlah warga menggambarkan suasana mencekam saat penembakan terjadi. Shelley Quist, warga setempat, mengatakan tetangganya kehilangan anak berusia 12 tahun.
“Kami mendengar ibunya menangis di jalan, memohon agar bisa melihat jenazah anaknya,” ujarnya.
Putra Quist yang berusia 17 tahun berada di dalam sekolah saat kejadian dan menjalani penguncian (lockdown) lebih dari dua jam. Ia menyebut para siswa menggunakan meja untuk menghalangi pintu kelas.
“Saya tahu ini nyata ketika kepala sekolah memerintahkan semua pintu ditutup,” katanya.
Rekaman video yang beredar menunjukkan para siswa keluar dari gedung sekolah dengan tangan terangkat, sementara kendaraan polisi mengepung lokasi dan helikopter berputar di udara.
Distrik sekolah setempat menyatakan sekolah menengah dan sekolah dasar di Tumbler Ridge akan ditutup hingga akhir pekan.
Wali Kota Tumbler Ridge, Darryl Krakowka, menyebut tragedi tersebut sebagai pukulan berat bagi komunitas yang ia sebut seperti “keluarga besar”.
“Saya hancur. Saya sudah tinggal di sini 18 tahun dan kemungkinan besar mengenal hampir semua korban,” ujarnya.
Pendeta George Rowe dari Tumbler Ridge Fellowship Baptist Church mengatakan banyak keluarga masih menunggu kepastian identitas korban karena proses identifikasi dilakukan secara ketat oleh penyidik.
Penembakan sekolah tergolong jarang terjadi di Kanada, yang memiliki undang-undang pengendalian senjata api yang ketat. Pemerintah sebelumnya telah memperluas larangan terhadap sejumlah jenis senjata yang dikategorikan sebagai senjata serbu.
Tragedi ini kembali memicu perdebatan mengenai keamanan publik dan kesehatan mental di Kanada, di tengah duka mendalam yang menyelimuti komunitas kecil di wilayah Pegunungan Rocky tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







