Donald Trump Ancam Lakukan Pembalasan atas Kematian Tiga Tentara AS oleh Iran

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan akan membalas kematian pertama warga negaranya dalam konflik militer dengan Iran. Ia menegaskan operasi militer yang tengah berlangsung telah direncanakan selama sekitar empat pekan.
Dalam pidato video dari kediamannya di Florida yang dikutip AFP, Senin (2/2/2026), Trump memperingatkan aparat keamanan Iran agar segera menyerah.
“Saya kembali mendesak Garda Revolusi, militer, dan polisi Iran untuk meletakkan senjata serta menerima kekebalan penuh, atau menghadapi kematian yang pasti,” ujar Trump.
Ia menambahkan ancaman tersebut bukan sekadar retorika. “Itu akan menjadi kematian yang pasti. Itu tidak akan menyenangkan,” katanya.
Iran Balas Serangan, Markas AS dan Israel Jadi Sasaran
Ketegangan meningkat setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan gabungan AS dan Israel di wilayah Iran. Menyusul kabar tersebut, militer Iran melancarkan serangan balasan berupa rudal dan drone.
Serangan itu menghantam sejumlah pangkalan militer AS dan Israel di kawasan Timur Tengah. Laporan menyebutkan korban jiwa terjadi di Israel dan Uni Emirat Arab, sementara ledakan juga merusak sejumlah pusat ekonomi di kawasan Teluk.
Tiga Tentara AS Tewas
Pentagon menyatakan tiga personel militer Amerika Serikat tewas dan lima lainnya mengalami luka berat dalam operasi yang diberi nama “Epic Fury”.
Trump mengakui kemungkinan jumlah korban masih akan bertambah.
“Sayangnya, kemungkinan akan ada lebih banyak korban sebelum operasi ini berakhir,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan Amerika Serikat akan memberikan respons keras.
“Amerika akan membalas kematian mereka dan memberikan pukulan paling telak kepada para teroris yang telah melancarkan perang melawan, pada dasarnya, peradaban,” kata Trump.
Kritik dari Oposisi
Isu korban jiwa menjadi perhatian serius di dalam negeri AS. Trump, yang sebelumnya berkampanye dengan retorika menentang intervensi asing, dinilai belum menjelaskan secara rinci alasan di balik eskalasi militer tersebut kepada publik.
Pemimpin Demokrat di DPR AS, Hakeem Jeffries, mengkritik langkah pemerintah.
Ia menyebut jatuhnya korban sebagai dampak dari “keputusan yang gegabah” dan menilai tidak ada ancaman yang membenarkan serangan militer preemptif tersebut.
Reaksi di Kawasan
Di luar Amerika, respons beragam muncul. Sebagian diaspora Iran dilaporkan menyambut kabar tewasnya Khamenei. Namun di Pakistan, kemarahan meletus di sejumlah kota.
Pejabat setempat menyebut sedikitnya 17 orang tewas dalam kerusuhan. Massa juga dilaporkan berusaha menyerbu Konsulat AS di Karachi sebagai bentuk protes atas serangan terhadap Iran.
Konflik yang terus meluas ini meningkatkan kekhawatiran akan dampak lebih besar terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah dan keamanan global.
Sumber: AFP
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









