Macron Umumkan Prancis Tambah Hulu Ledak Nuklir dan Siap Kerahkan Pesawat Nuklir ke Negara Sekutu

AKURAT.CO Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan peningkatan jumlah hulu ledak nuklir negaranya serta membuka kemungkinan pengerahan sementara pesawat pembawa senjata nuklir ke negara-negara sekutu. Kebijakan baru ini disebut sebagai langkah memperkuat kemandirian pertahanan Eropa.
Pengumuman tersebut disampaikan Macron dalam pidato di pangkalan militer L’Ile Longue, pantai Atlantik Prancis, yang menjadi markas kapal selam balistik nuklir. Ia menegaskan strategi baru itu sebagai bentuk “forward deterrence” atau pencegahan ke depan.
“Untuk menjadi bebas, kita harus disegani,” kata Macron dalam pidatonya.
Menurutnya, Prancis akan memungkinkan penempatan sementara elemen angkatan udara strategisnya di negara sekutu. Namun, ia menegaskan keputusan penggunaan senjata nuklir tetap sepenuhnya berada di tangan Presiden Prancis dan tidak akan dibagi dengan negara lain.
Macron menyebut pembicaraan kerja sama pencegahan nuklir telah dimulai dengan sejumlah negara, termasuk Inggris, Jerman, Polandia, Belanda, Belgia, Yunani, Swedia, dan Denmark. Prancis juga akan melibatkan mitra dalam latihan pencegahan serta membuka partisipasi pasukan non-nuklir sekutu dalam aktivitas terkait.
Sejak keluarnya Inggris dari Uni Eropa pada 2020, Prancis menjadi satu-satunya negara anggota Uni Eropa yang memiliki senjata nuklir. Dalam pernyataan bersama, Macron dan Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan kedua negara akan memperdalam integrasi pencegahan mulai tahun ini, termasuk partisipasi konvensional Jerman dalam latihan nuklir Prancis.
Pemerintah Belanda dan Polandia juga menyambut baik inisiatif tersebut, dengan menekankan bahwa kerja sama ini melengkapi, bukan menggantikan, payung pertahanan NATO.
Tambah Hulu Ledak Nuklir
Dalam pidatonya, Macron juga mengumumkan Prancis akan menambah jumlah hulu ledak nuklir dari posisi saat ini yang berada di bawah 300 unit. Ia tidak merinci angka penambahannya. Ini menjadi pertama kalinya sejak setidaknya 1992 Prancis meningkatkan persenjataan nuklirnya.
“Saya telah memutuskan untuk meningkatkan jumlah hulu ledak dalam arsenal kita,” ujarnya. Ia menegaskan langkah itu diperlukan untuk memastikan daya hancur pencegahan Prancis tetap terjaga di masa depan.
Macron menilai perubahan strategi pertahanan Amerika Serikat serta munculnya ancaman baru mendorong Eropa untuk lebih bertanggung jawab atas keamanannya sendiri. Ia menyebut negara-negara Eropa perlu “mengambil nasib mereka ke tangan sendiri” di tengah ketidakpastian geopolitik dan perang Rusia di Ukraina.
Meski membuka peluang kerja sama, Macron menolak kemungkinan pesawat tempur Jerman membawa bom nuklir Prancis. Ia juga menegaskan bahwa keputusan penggunaan senjata nuklir tetap menjadi kewenangan eksklusif presiden Prancis.
Kritik dari Aktivis Perlucutan Senjata
Rencana tersebut menuai kritik dari International Campaign to Abolish Nuclear Weapons (ICAN), peraih Nobel Perdamaian 2017. Direktur Eksekutif ICAN Melissa Parke menyebut kebijakan itu berpotensi memicu perlombaan senjata nuklir baru dan meningkatkan risiko eskalasi, terutama dengan Rusia.
Menurut ICAN, Prancis telah menghabiskan sekitar 6 miliar dolar AS untuk senjata nuklir pada 2024, dan peningkatan arsenal dikhawatirkan menambah beban anggaran secara signifikan.
Macron sendiri beralasan bahwa perkembangan pertahanan negara pesaing, munculnya kekuatan regional baru, serta risiko proliferasi menjadi faktor utama yang mendorong Prancis memperkuat kemampuan nuklirnya.
Kebijakan ini menandai perubahan penting dalam strategi pertahanan Prancis dan berpotensi memengaruhi dinamika keamanan Eropa dalam beberapa tahun ke depan.
Sumber: Korea Herald
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








