Akurat
Pemprov Sumsel

Selat Hormuz Resmi Ditutup Usai Serangan AS-Israel, Apa Dampaknya bagi Dunia?

Nurma Nafisa Faradilla | 3 Maret 2026, 11:19 WIB
Selat Hormuz Resmi Ditutup Usai Serangan AS-Israel, Apa Dampaknya bagi Dunia?
Selat Hormuz.

AKURAT.CO Penutupan Selat Hormuz usai serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu kekhawatiran global. Jalur vital perdagangan minyak dunia ini kini menjadi sorotan karena berpotensi mengganggu pasokan energi dan ekonomi internasional.

Situasi memanas di Timur Tengah membuat dunia waspada. Pemerintah Iran melalui pasukan militernya menutup Selat Hormuz sebagai respons atas eskalasi konflik. Dikutip dari berbagai sumber, kebijakan ini dinilai bisa berdampak besar terhadap harga minyak dan stabilitas pasar global.

Apa Itu Selat Hormuz?

Selat Hormuz merupakan jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Letaknya berada di antara Iran dan Oman.

Baca Juga: Setelah AS-Israel Hantam Sekolah Iran Tewaskan 108 Anak, Melania Trump 'Ceramah' Perlindungan Pendidikan Anak di PBB

Selat ini menjadi jalur utama distribusi minyak dari negara-negara Timur Tengah menuju Asia, Eropa, dan Amerika. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati wilayah ini setiap harinya.

Menurut data U.S. Energy Information Administration, lebih dari 18 hingga 20 juta barel minyak dikirim melalui Selat Hormuz setiap hari.

Kronologi Penutupan Selat Hormuz

Penutupan Selat Hormuz terjadi setelah meningkatnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Serangan terhadap sejumlah target di wilayah Iran memicu respons keras dari Teheran. Korps Garda Revolusi Iran kemudian dikerahkan untuk mengamankan sekaligus menutup jalur laut tersebut.

Sejumlah media internasional seperti Reuters dan Al Jazeera melaporkan bahwa Iran juga mengancam kapal-kapal yang nekat melintas di wilayah tersebut.

Dampak Ditutupnya Selat Hormuz bagi Dunia

  1. Harga Minyak Berpotensi Melonjak

Penutupan Selat Hormuz berisiko membuat pasokan minyak terganggu. Akibatnya, harga minyak mentah dunia berpotensi naik tajam.

Lembaga keuangan JPMorgan memperkirakan harga minyak bisa menembus lebih dari 120 dolar AS per barel jika gangguan berlangsung lama.

Baca Juga: Muzani: Jika Prabowo Berhasil Jadi Mediator Iran-AS-Israel, Itu Membanggakan Indonesia

  1. Ancaman Inflasi Global

Kenaikan harga energi dapat memicu inflasi di berbagai negara. Biaya produksi, transportasi, dan kebutuhan pokok berpotensi ikut naik.

Negara-negara Asia seperti China, Jepang, dan India menjadi pihak yang paling terdampak karena sangat bergantung pada pasokan minyak dari kawasan ini.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.