Investigasi Militer AS: Rudal yang Menghantam Sekolah dan Tewaskan Ratusan Anak di Iran Milik Amerika

AKURAT.CO Investigasi militer yang masih berlangsung menemukan bahwa Amerika Serikat bertanggung jawab atas serangan rudal Tomahawk yang menghantam sebuah sekolah dasar di Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut diduga terjadi akibat kesalahan penentuan target oleh militer AS.
Menurut pejabat AS dan sumber yang mengetahui temuan awal penyelidikan, rudal tersebut mengenai gedung Sekolah Dasar Shajarah Tayyebeh setelah militer Amerika menargetkan sebuah pangkalan militer Iran yang berada di dekat lokasi sekolah.
Hasil investigasi awal menyebutkan bahwa koordinat target yang digunakan oleh komando militer Amerika dibuat berdasarkan data lama yang disediakan oleh Defense Intelligence Agency (DIA). Data tersebut kemudian digunakan oleh United States Central Command (CENTCOM) saat melancarkan serangan.
Namun, para pejabat menegaskan bahwa penyelidikan masih berlangsung dan sejumlah pertanyaan penting masih belum terjawab, terutama mengenai alasan data yang sudah usang tersebut tidak diverifikasi ulang sebelum serangan dilakukan.
Baca Juga: Serangan Israel Hantam Sekolah Dasar Putri di Iran Selatan, 108 Orang Dilaporkan Tewas
Kesalahan Militer Mematikan
Serangan yang menghantam sekolah yang dipenuhi anak-anak itu disebut sebagai salah satu kesalahan militer paling mematikan dalam beberapa dekade terakhir. Pejabat Iran menyatakan sedikitnya 175 orang tewas dalam insiden tersebut, sebagian besar adalah anak-anak.
Temuan awal bahwa Amerika Serikat berada di balik serangan itu sebenarnya tidak mengejutkan, karena AS merupakan satu-satunya pihak dalam konflik yang menggunakan rudal jelajah jenis Tomahawk cruise missile.
Meski demikian, insiden ini telah membayangi operasi militer AS di Iran dan memicu kritik terhadap akurasi proses penentuan target militer.
Pernyataan Trump Picu Kekhawatiran
Presiden AS Donald Trump sebelumnya sempat berupaya menghindari tanggung jawab atas serangan tersebut. Dalam salah satu pernyataannya, Trump bahkan menyebut kemungkinan Iran sendiri yang bertanggung jawab atas insiden itu.
Sikap tersebut dinilai memperumit proses penyelidikan internal. Beberapa pejabat yang mengetahui hasil investigasi awal mengaku khawatir karena pernyataan politik berpotensi mempengaruhi transparansi penyelidikan.
Ketika ditanya mengenai laporan tersebut saat meninggalkan Gedung Putih pada Rabu untuk perjalanan ke negara bagian Ohio dan Kentucky, Trump menjawab singkat, “Saya tidak tahu soal itu.”
Sementara itu, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan penyelidikan masih berlangsung.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









