Netanyahu Dinilai Diuntungkan Perang Iran, Menyeret AS Terlibat Perang dengan Iran adalah Pencapaian

AKURAT.CO Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut berhasil mencapai hal yang selama ini gagal dilakukan para pemimpin Israel sebelumnya, yakni meyakinkan Amerika Serikat untuk terlibat langsung dalam serangan terbuka terhadap Iran.
Sejauh ini, serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.400 orang di Iran. Sementara itu, sekitar 1.000 orang tewas akibat serangan Israel di Lebanon, serta puluhan korban lainnya di sejumlah negara kawasan yang terdampak meluasnya konflik.
Dampak perang juga terasa pada sektor ekonomi global. Harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi, memicu kekhawatiran akan potensi kelangkaan dan kebijakan pembatasan distribusi energi.
Di dalam negeri AS, perang ini memicu perpecahan politik. Sejumlah anggota Partai Demokrat, serta tokoh publik seperti Tucker Carlson dan Joe Rogan, menyatakan penolakan terbuka terhadap kebijakan Presiden Donald Trump. Hingga kini, belum ada kesepakatan jelas terkait penyelesaian konflik maupun upaya memperbaiki hubungan diplomatik AS dengan sekutu Baratnya.
Meski demikian, situasi tersebut dinilai tidak terlalu merugikan Netanyahu. Ia justru dianggap memperoleh keuntungan strategis dari konflik ini.
Ancaman Iran
Netanyahu selama bertahun-tahun menyoroti ancaman Iran terhadap Israel dan dunia internasional. Ia kerap memperingatkan potensi pengembangan senjata nuklir Iran, termasuk saat tampil di forum internasional.
Israel sebelumnya diyakini sulit memenangkan konflik melawan Iran tanpa dukungan AS. Dukungan tersebut baru terwujud di bawah kepemimpinan Trump.
Pada konflik sebelumnya, Trump sempat terlibat namun segera mengakhiri operasi setelah fasilitas nuklir Iran diserang. Berbeda dengan itu, dalam konflik kali ini, AS terlibat sejak awal.
Baca Juga: Netanyahu Minta Putin Yakinkan Iran: Israel Tidak Akan Menyerang Duluan
Meski akhir perang belum dapat dipastikan, Netanyahu dinilai telah mencapai keberhasilan dengan membangun citra kemitraan langsung antara Israel dan AS dalam menghadapi Iran. Selain itu, melemahnya kekuatan Iran dan jaringan sekutunya di kawasan turut memperkuat posisi Israel.
Tekanan Kasus Korupsi
Di tengah konflik, Netanyahu masih menghadapi persidangan atas tiga kasus korupsi sejak 2019. Ia dituduh berupaya menunda proses hukum dengan memanfaatkan situasi perang sebagai alasan.
Awal bulan ini, Netanyahu kembali menggemakan seruan Trump kepada Presiden Israel Isaac Herzog agar memberikan pengampunan. Jika dikabulkan, langkah itu dapat menghentikan proses hukum yang berpotensi menjatuhkan hukuman hingga 10 tahun penjara.
Dalam konferensi pers pertamanya sejak perang berlangsung, Netanyahu menyebut proses hukum terhadap dirinya sebagai “sirkus absurd” dan meminta agar kasus tersebut dihentikan demi fokus pada perang dan diplomasi kawasan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







