Krisis Selat Hormuz, Iran Minta Kapal Korea Selatan Ajukan Izin Sebelum Melintas

AKURAT.CO Kapal Korea Selatan yang melintas di Selat Hormuz diwajibkan berkoordinasi terlebih dahulu dengan otoritas militer dan pemerintah Iran. Kebijakan ini disampaikan langsung oleh Duta Besar Iran untuk Seoul, Saeed Koozechi.
Koozechi menyebut Korea Selatan sebagai negara yang tidak bermusuhan, namun menegaskan bahwa setiap kapal tetap harus melakukan konsultasi sebelum melintas. Pernyataan ini muncul di tengah situasi sekitar 26 kapal Korea Selatan dengan sekitar 180 awak masih tertahan di jalur strategis tersebut, yang sebelumnya menjadi salah satu rute pelayaran tersibuk sebelum konflik pecah pada 28 Februari.
Ia mengungkapkan Iran telah meminta rincian terkait kapal-kapal tersebut dalam pembicaraan telepon antara menteri luar negeri kedua negara pada Senin. Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Hyun meminta Iran menjamin keselamatan pelayaran, sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan pentingnya koordinasi.
Menurut perwakilan diplomatik Iran, Teheran tetap memberikan izin melintas bagi negara-negara yang dianggap bersahabat, seperti China, Rusia, India, Irak, dan Pakistan.
Korea Selatan diketahui sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk, dengan sekitar 55 persen kebutuhan energinya melewati Selat Hormuz. Pada 2024, negara tersebut mengeluarkan sekitar 144 miliar dolar AS untuk impor energi.
Selat Hormuz kini disebut berada di bawah kendali efektif Iran setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara gabungan ke wilayah Iran pada akhir bulan lalu. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.340 orang dan memicu balasan Iran berupa serangan drone dan rudal di berbagai wilayah.
Di sisi lain, Turki turut mencermati perkembangan ini mengingat posisinya sebagai negara yang berada di jalur penting energi global. Ankara terus mendorong diversifikasi sumber energi dan jalur distribusi guna mengurangi ketergantungan pada satu rute, serta menyerukan solusi diplomatik untuk menjaga kebebasan navigasi dan stabilitas pasar energi dunia.
Sumber: Yeni Safak
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








