Trump Klaim Mantan Menlu Antony Blinken Dukung Serangan ke Iran, Ternyata Faktanya Terbalik

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim mantan Menteri Luar Negeri Antony Blinken mendukung serangan terhadap Iran. Klaim tersebut langsung dibantah oleh Blinken.
Trump menyampaikan pernyataan itu dalam acara penggalangan dana Partai Republik pada Rabu malam. Ia menyebut Blinken menilai langkah militer terhadap Iran seharusnya dilakukan sejak pemerintahan sebelumnya.
“Saya dengar hari ini Blinken mengatakan seharusnya itu dilakukan. Terima kasih banyak Blinken, saya menghargainya,” ujar Trump.
Menanggapi hal itu, Blinken melalui platform X pada Kamis menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menyatakan dukungan terhadap serangan tersebut.
“Trump mengutip saya seolah mendukung serangannya terhadap Iran dan menyesal kami tidak melakukannya saat pemerintahan Biden. Faktanya, saya tidak,” tulis Blinken.
Ia juga membagikan pernyataannya dalam sebuah forum yang merujuk pada kebijakan era Presiden Barack Obama. Dalam penjelasan tersebut, Blinken menekankan bahwa pendekatan diplomasi menjadi pilihan utama dalam menghadapi Iran.
“Saat pemerintahan Obama datang, kami mengkaji masalah ini secara serius. Kami memutuskan bahwa cara terbaik adalah melalui kesepakatan diplomatik yang pada akhirnya berhasil kami capai,” ujar Blinken.
Ia merujuk pada Iran Nuclear Deal tahun 2015, yang membatasi program nuklir Iran dengan imbalan pencabutan sanksi, sebelum kemudian ditarik oleh Trump pada 2018.
Blinken menambahkan, opsi militer memang pernah dipertimbangkan, namun dinilai berisiko.
“Tentu kami mempertimbangkan cara lain, termasuk tindakan militer jika diperlukan. Namun kami menyimpulkan bahwa langkah itu berisiko memicu respons Iran yang sulit dikendalikan,” katanya.
“Selain itu, mungkin hanya memberi waktu sementara, karena mereka bisa membangun kembali programnya, bahkan lebih tersembunyi dan sulit dijangkau,” lanjutnya.
Sementara itu, Gedung Putih belum memberikan klarifikasi atas pernyataan Trump.
Di tengah polemik tersebut, konflik di kawasan masih berlangsung. Lebih dari 1.900 orang dilaporkan tewas di Iran dan hampir 1.100 di Lebanon sejak serangan dimulai bulan lalu. Sebanyak 13 personel militer AS juga dilaporkan meninggal dunia.
Komandan United States Central Command, Laksamana Brad Cooper, menyebut pasukan AS telah menyerang lebih dari 10.000 target militer di Iran, serta menghancurkan sekitar 92 persen kapal utama angkatan laut negara tersebut.
Meski ada sinyal upaya damai, konflik belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.
Sumber: Independent
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







