Lee Jae Myung dan Emmanuel Macron Sepakat Amankan Jalur Energi Global di Selat Hormuz

AKURAT.CO Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung dan Presiden Prancis Emmanuel Macron sepakat bekerja sama untuk memastikan keamanan jalur pelayaran energi di Selat Hormuz serta meredam dampak luas perang di Timur Tengah terhadap ekonomi global.
Kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan bilateral kedua pemimpin yang juga membahas ketidakpastian rantai pasok energi dunia. Dalam konferensi pers bersama, Lee menegaskan pentingnya koordinasi menghadapi krisis ekonomi dan energi akibat konflik di kawasan tersebut.
“Presiden Macron dan saya sepakat untuk berbagi pengalaman kebijakan dan strategi guna bersama-sama mengatasi krisis ekonomi dan energi yang dipicu perang di Timur Tengah. Kami juga sepakat untuk mengurangi ketidakpastian dalam ekonomi global,” ujar Lee.
Ia menambahkan, kedua negara berkomitmen memperkuat keamanan energi melalui kerja sama di sektor energi nuklir dan angin lepas pantai, serta memastikan jalur transportasi laut tetap aman, khususnya di Selat Hormuz.
Target Perdagangan dan Kerja Sama Strategis
Dalam pertemuan itu, Korea Selatan dan Prancis menargetkan peningkatan nilai perdagangan bilateral hingga 20 miliar dolar AS per tahun pada 2030, naik dari sekitar 15 miliar dolar AS tahun lalu.
Kedua negara juga menandatangani sejumlah nota kesepahaman (MoU) untuk memperluas kerja sama di berbagai sektor, termasuk teknologi maju dan industri masa depan seperti kecerdasan buatan, semikonduktor, dan teknologi kuantum.
Selain itu, disepakati pembentukan komite bersama tingkat menteri di bidang sains dan teknologi.
Baca Juga: Komando Pusat Militer AS Respons Klaim Iran Tembak Jatuh Jet Tempur di Selat Hormuz
Kerja sama juga diperluas ke rantai pasok mineral kritis, dengan menggabungkan kemampuan manufaktur Korea Selatan dan teknologi pemrosesan serta infrastruktur Prancis.
Perusahaan milik negara Korea Selatan, Korea Hydro & Nuclear Power, menandatangani MoU dengan perusahaan nuklir Prancis Orano dan Framatome, serta kesepakatan terpisah dengan EDF untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai di Yeonggwang.
Lee berharap kerja sama ini dapat menjamin pasokan bahan baku untuk pembangkit nuklir Korea Selatan sekaligus membuka peluang ekspansi bersama ke pasar global.
Kerja Sama Pertahanan hingga Budaya
Selain sektor energi dan teknologi, kedua negara juga sepakat meningkatkan kerja sama di bidang pertahanan, antariksa, dan budaya, termasuk melalui kesepakatan antar lembaga warisan budaya.
Dalam isu geopolitik, Lee menjelaskan upaya Seoul untuk melanjutkan dialog dengan Pyongyang guna menjaga perdamaian di Semenanjung Korea. Macron menegaskan dukungan Prancis terhadap stabilitas kawasan tersebut.
“Kami memiliki pemahaman mendalam bahwa perdamaian di Semenanjung Korea berdampak luas, tidak hanya bagi Asia Timur Laut dan Eropa, tetapi juga dunia,” kata Lee.
Undangan KTT G7 dan Peningkatan Hubungan
Macron juga mengundang Lee untuk menghadiri KTT G7 yang dijadwalkan berlangsung pada Juni di Evian, Prancis. Lee menyatakan telah menerima undangan tersebut. Jika hadir, ini akan menjadi keikutsertaan keduanya secara berturut-turut setelah sebelumnya hadir di Kanada tahun lalu.
Dalam kesempatan itu, kedua negara sepakat meningkatkan hubungan bilateral dari “kemitraan komprehensif abad ke-21” menjadi “kemitraan strategis global”. Lee menyebut langkah ini sebagai tonggak baru dalam hubungan kedua negara yang telah terjalin selama 140 tahun.
Sumber: UPI
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









