Trump Komplain Iran Berencana Kenakan Biaya untuk Kapal Tanker yang Melewati Selat Hormuz

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuduh Iran melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata dua pekan, khususnya terkait kelancaran pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.
Dalam serangkaian unggahan di Truth Social pada Kamis (9/4), Trump menilai Iran tidak menjalankan kewajibannya sebagaimana disepakati.
“Iran melakukan pekerjaan yang sangat buruk, bahkan bisa dikatakan tidak terhormat, dalam membiarkan minyak melewati Selat Hormuz. Itu bukan kesepakatan yang kami miliki!” tulisnya.
Sebelumnya, Iran dan Amerika Serikat sepakat untuk membuka kembali Selat Hormuz setelah gencatan senjata diumumkan oleh Pakistan. Selat sepanjang 167 kilometer yang menghubungkan Teluk dengan Samudra Hindia itu merupakan jalur vital distribusi minyak dunia.
Namun, berdasarkan data pelacakan maritim, hanya sekitar 10 kapal yang melintas sejak gencatan senjata mulai berlaku.
Ketegangan meningkat setelah muncul laporan bahwa Iran berencana mengenakan biaya bagi kapal tanker yang melintas. Trump memperingatkan agar langkah tersebut tidak dilakukan.
“Ada laporan bahwa Iran mengenakan biaya kepada kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz — mereka sebaiknya tidak melakukannya, dan jika benar, mereka harus segera menghentikannya!” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa aliran minyak akan tetap berjalan, dengan atau tanpa peran Iran. “Sangat cepat, Anda akan melihat minyak mulai mengalir, dengan atau tanpa bantuan Iran.”
Sementara itu, nada pernyataan Trump terlihat berubah dibanding sebelumnya yang lebih optimistis terhadap peluang perdamaian. Dalam wawancara dengan NBC News, ia sempat menyatakan dirinya “sangat optimistis” terhadap kesepakatan damai dengan Iran setelah gencatan senjata, serta menyebut Israel mulai “mengurangi” serangan ke Lebanon.
Dalam wawancara tersebut, Trump mengatakan para pemimpin Iran bersikap “jauh lebih masuk akal” dalam pembicaraan tertutup. Namun, ia tetap memberikan peringatan keras. “Jika mereka tidak mencapai kesepakatan, maka dampaknya akan sangat menyakitkan,” katanya.
Upaya diplomasi terus berlanjut. Wakil Presiden AS JD Vance dijadwalkan menggelar perundingan dengan Iran di Pakistan pada Sabtu (11/4). Utusan khusus AS Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner, juga akan menuju Islamabad untuk mengikuti pembicaraan.
Gedung Putih menyatakan tetap optimistis terhadap hasil negosiasi. “Presiden optimistis bahwa kesepakatan dapat dicapai dan dapat mengarah pada perdamaian yang langgeng di Timur Tengah,” kata Wakil Sekretaris Pers Utama Gedung Putih, Anna Kelly.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut telah sepakat dengan Trump untuk meredam serangan ke Lebanon setelah serangan besar sebelumnya.
Pejabat Departemen Luar Negeri AS menyatakan Israel dan Lebanon akan menggelar perundingan di Washington pekan depan.
Namun, situasi di lapangan masih memanas. Serangan besar Israel ke Lebanon pada Rabu (8/4/2026) dilaporkan menewaskan lebih dari 300 orang, sebagian besar warga sipil. Serangan tersebut mengguncang stabilitas gencatan senjata antara Washington dan Teheran yang baru berlangsung kurang dari 48 jam.
Sumber: TRTWorld
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









